Prolog

5 2 1
                                        

"Arinbi!" terdengar pekikan nyaring dari bawah memanggil sang empunya nama yang masih asik bergelung menyelami mimpi indahnya.

Arinbi, gadis berkulit kuning langsat pemilik senyum manis membuka matanya. Tapi hanya sedikit, karena ia merasa kelopak matanya seperti tertimpa beton tidak dapat dibuka lebar.

Mengetahui panggilannya tak mendapat respons, wanita cantik yang sudah berumur pertengahan kepala tiga inipun menaiki tangga demi tangga yang mengantarkannya ke kamar putri tunggalnya.

Dibukanya pintu bercat putih tersebut. Maka tampaklah putrinya yang masih asyik bergelung di atas kasur di kamar yang bersuhu tinggi.

Dengan menggelengkan kepala sambil berjalan menghampiri putrinya. "Arinbi! Ini sudah jam 6, kamu masih ingat sekolah kan? Anak sekolah apa yang belum bangun jam segini?"

"Ekh..." erang Arinbi merentangkan tangannya hingga mengenai wajah mamanya.

"Bibi!" pekik mama menepis tangan Arinbi dengan kesal setengah mati hingga tak sengaja tangan Arinbi yang terlempar menampar wajah Arinbi sendiri. Arinbi pun terkejut dan bangkit dari tidurnya secara tiba-tiba. Namun, sialnya keningnya menghantam dagu mama.

"Aww.." pekik anak dan ibu itu bersamaan.

"Aduh, eh mama." Arinbi tersadar dan menyengir ke arah mama, "mama sejak kapan ada disini?"

Mama kembali menggeleng kepalanya menahan kesal. Tak lama kemudian salah satu tangannya melayang menjewer telinga anak gadisnya itu.

"Aduh, aduh... Ma, sakit ma lepasin" pekik Arinbi mengikuti pergerakan mamanya ke kamar mandi.

"Kamu dari tadi mama panggilin gak dengar. Kamu niat sekolah gak sih Arinbi. Dari SD sampai sekarang kamu baru SMA gak berubah juga kelakuan jelek kamu."

"Iya ma, ampun. Arinbi khilaf ma."

"Khilaf itu gak berulang-ulang Arinbi. 9 tahun, kamu bilang khilaf?" cerocos mama lalu melepaskan jewerannya setelah sampai di kamar mandi.

"Iya ma, yaudah mama keluar dong. Aku kan mau mandi, emang mama mau lihat anak gadis mama yang seksi ini mandi?" jawab Arinbi mengedipkan matanya.

Melihat itu, membuat mama menghela napas kencang. Jika Arinbi seperti ini, hilang sudah kemarahan mama melihatnya.

"Yasudah, cepat mandi biar gabung sarapan di bawah. Jangan lama-lama, ini hari pertama kamu." ucap mama yang dibalas anggukan oleh Arinbi dan mama pun langsung melenggang pergi dari kamar anaknya.

"Dadah mamaku sayang, muach.."

🔰🔰🔰

To be continued

Hai welcome in my story. Semoga suka ya. Kalau suka boleh dong minta tolong klik logo bintang yang ada di bawah dan comment.

Kira-kira menurut kalian cerita ini tuh gimana?

Apa perasaan kalian setelah baca cerita ini?

Ceritanya gaje gitu gak?

Jujur aja, aku suka yang jujur. Yang penting kalian ngomongnya yang sopan aja, tidak ada unsur memaki.

Maaf ya authornya bawel, sekian terima kasih sudah membaca cerita gaje ini.

See next soon...

Menanti SenjaOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz