Tidak semua akhir yang indah memiliki awal yang memukau. Tuhan tau cara terbaik untuk kita dipertemukan.
•••
"Tidak..! Tidak..! Tidak bisa! Pokoknya kamu tidak bisa menyalahkan saya! "Laki laki itu terus mengelak bahwa ia telah menabrak seseorang.
"Enak saja! Sudah jelas anda tadi bawa mobilnya ngebut begitu, saya yakin angka pada speedometer mobil anda tadi berada pada lebih dari 80 km/jam! " perempuan itu juga tidak mau mengalah, ia ngotot meminta pertanggungjawaban dari lelaki yang bahkan belum ia ketahui namanya itu. Bagaimana pun dia merasa banyak dirugikan, motornya hancur tak berbentuk, apalagi barang barang yang tadi ia beli di pasar. Semuanya hancur menggesek aspal.
Mereka tidak peduli dimana mereka sekarang. Tidak peduli banyaknya orang yang berlalu lalang.
Sekarang ini mereka sedang di pinggir jalan dengan kondisi si wanita sedang diobati.
"Sok tau kamu! Gini-gini saya juga bawa mobilnya tetap hati-hati tadi. Kamunya aja yang tiba-tiba berhenti! "
"Kok masnya jadi nyalahin saya, sih?! Nyolot lagi! Situ nggak lihat tadi kalau lampunya udah merah?! Main serobot ae lo bambwang! "
"Eh, kamu juga nyolot, ya.. dari tadi. Sadar diri dong mbaknya! "
Cewek itu menahan amarah sampai megap megap, "bodo amat! Yang penting saya mau minta pertanggungjawaban atas rusaknya motor saya dan hancurnya belanjaan saya! "
"Yaelah.. Kamu mau minta duit aja pakai adu mulut dulu, dasar orang susah! " ucap lelaki itu dengan gaya santai dan songongnya, "jadi, kamu minta berapa? Habis ini kamu tidak boleh menyalahkan saya lagi! "Lanjutnya sambil mengeluarkan dompet barmereknya dari saku celana.
"Heh! Jangan mentang mentang kamu orang sugih terus kamu bertindak seenaknya dan nggak mau disalahkan, dong! Mau gimanapun kamukan tetap salah tadi.. " cewek itu berujar frustasi dan lelah.
"Jadi, kamu mau saya ganti rugi tidak? Oh iya, siapa nama kamu? "
"Ya.. Ya mau. Eh harus itu! Nama saya Stevio, Mas.. Mas.. Mas penabrak!" Stevio asal menyebutkan nama lelaki yang menabraknya.
"Ck, ingat, ya! Gadis pelupa, nama saya Regis! R-E-G-I-S!, "tegas Regis, dia bahkan sudah memperkenalkan dirinya tadi.
"Dan ingat, ya! Mas Regis yang terhormat yang udah nabrak saya yang malangnya juga seorang pelupa, nama saya Vio! Stevio! S-T-E-V-I-O! ingat baik baik,ya!" balas Vio menggebu-gebu.
"Hmm.. Saya tidak peduli! Ini! Uang untuk mengganti belanjaan kamu! Saya cuma ada uang cash 400 ribu. Untuk selebihnya kamu bisa menghubungi saya lewat nomor hp atau alamat yang ada pada kartu nama itu! "
Vio diam mengamati kartu nama itu, "oke, saya bawa. Terima kasih,"
"Tapi.. Orang susah seperti kamu punya hp, kan?" tanya Regis dengan gaya sengaknya, "Aaaaa... Atau malah kamu nggak bisa baca? " Regis melanjutkan pertanyaannya tanpa melihat lawan bicaranya yang sudah kebakaran jenggot.
"Heeeeh! Masnya kok tambah nyolot, sih?! Udah bener tadi mau ngasih duit, walaupun Masnya tadi nggak minta maaf padahal udah mau saya maafin. Tapi kok malah ngejek ngejek saya begitu. Walaupun saya orang kampung, bukan berarti saya kudet, saya gaptek! Saya punya kok kalau cuma hp! Nih nih liat! Saya juga punya laptop di rumah!" jelas Vio panjang lebaar tanpa spasi kemudian menunjukkan hp tulalitnya. Ituloh, hp cetik-cetik keluaran beberapa tahun lalu, yang kalau mau selfie hpnya dihadapin ke arah sebaliknya dulu.
Regis berusaha menahan tawanya.
Vio melanjutkan, sebelumnya dia menarik nafas panjang, "dan, apa kamu bilang tadi? Nggak bisa baca? Hellaw.. Walaupun saya orang kampung seperti ini, mama sama papa saya itu orang kaya, saya sekolahnya juga sudah sampai SMK, ya! Jadi, sudah jelas saya bisa baca, bisa nulis! Jadi, ucapan kamu tadi salah semua! Dan jadi lagi, Masnya nggak boleh menilai orang seenaknya! "
Regis sudah tidak bisa menahan tawanya sekarang, sebenarnya dia tidak tertawa karena ucapan Vio, tapi, dia tertawa karena cara Vio mengucapkan dan gaya bicara Vio yang cerewet tanpa spasi.
Vio melotot, "kenapa tertawa?! Mau ngejek saya lagi"
"Kamu nggak capek apa, bicara tanpa spasi seperti tadi? Padahal saya lihat pipi kamu masih baru beberapa menit lalu selesai diperban, apa nggak nyeri? "Tanya Regis sambil tertawa.
"Capek! Sakit! Apalagi melihat kaki saya yang masih diobati dokter," dokter yang mengobati Vio hanya tersenyum canggung.
"Tahan ya, ini sebentar lagi selesai! " Ucap dokter itu menenangkan.
"Iya pak Dokter, saya kuat kok! "Vio tersenyum.
"Cih, Mbaknya sok manis! Sama saya aja nyolot dari tadi! "Protes Regis.
"Oh.. Jadi, Mas Regis yang sangat sopan ini minta dimanisin? "Vio bertanya dengan nada yang dimanis-maniskan sambil menekankan setiap katanya.
"Ya! Tentu! "Jawab Regis dengan pasti.
"Ngaca dulu, dong! Coba tanya pak dokter, dari tadi yang kalau ngomong nyolot duluan siapa?"
Regis benar benar bertanya kepada dokter itu, dan dokter itu menjawab sambil tersenyum, "yang tadi ngomong ngegas terus kan Mbak Vio, "
Vio langsung kicep. Sementara Regis tersenyum penuh kemenangan.
•••
Part pertama, masih singkat, padat, dan nggak jelas, hehe..
Thank you for reading😊
Dont forget to voting dan commenting!
With love,
Penulis amatir
Ig:@put.pitr
1
8 April Z0Z0
