Prolog

99 27 9
                                        

"Berhenti nyebutin nama dia!" Sentak Killa sambil melemparkan novel di tangannya ke meja. Kelas yang awalnya ribut mendadak hening. Aksi Killa membuat semua mata menuju ke arahnya. Killa hanya menatap mereka dengan datar. Kemudian kembali duduk dengan kesal.

"Santuyy beb, Kitakan cuma becanda. Jangan-jangan Lo beneran suka lagi" cengir Tamara sambil menaik turunkan alisnya.

"Tau nih Killa. Lo nyeremin kalo lagi marah, tau nggak!" Cemberut Risma sambil melipatkan tangannya di dada. Killa hanya menatap tajam.

"Bukannya suka. Malahan gue benci pake banget sama dia." Mood Killa benar-benar hancur akibat sahabatnya ini.

Seorang perempuan menggunakan seragam rapinya, berdiri dengan anggun di depan kelas 7.2. Seakan menambah kecantikan yang melekat padanya sejak lahir. Mata coklat kehitamannya hanya melihat tingkah ketiga sahabatnya dari pintu. "Woyy, temenin gue ke kelas tetangga kuy!" Panggil Icha dari pintu masuk kelasnya.

Ketiganya menoleh kearah Icha tanpa terkecuali Killa.
"Tetangga mana satu? Yang jelas dong. Jangan kayak Killa nih, nggak pernah jelas hubungannya sama Kaivan." Tanya Tamara sambil melirik Killa.

"Lo..." Ucapan Killa dipotong oleh Icha. Jika di biarkan, maka akan terjadi perang mulut yang tidak ada habisnya.

"Udah-udah! berantem mulu. Temenin gue ke kelas 7.1. buruan! bentar lagi bel nih." Kata Icha sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

"Kesempatan Lo nih, Kill modus ke doi" goda Risma di angguki oleh Tamara.

"Males ah. Jijik gue liat muka dia" Killa kembali fokus ke novelnya tanpa melihat tampang cengo ke dua sahabatnya.

"Woyy!! Kaki gue pegel nih." Teriak Icha sambil menghentakkan kakinya. Icha benar-benar kesal melihat sahabatnya ini. Dia di biarkan menunggu tanpa adanya kepastian. Mereka harusnya tau, menunggu tanpa kepastian itu ibarat menginginkan mantan nyungsep di got.

"Bentar. Gue mau ngomong sama Killa dulu." Risma menatap Killa serius. Killa yang merasa terpanggil menatap datar Risma.

"Tetap disini dengan keras kepala Lo atau ikut dengan kita dengan setia kawan Lo." Kata Risma dengan menatap Killa lekat.

"Ok, gue ikut." Kesal Killa sambil berlalu tak lupa membawa novelnya. Tanpa dia sadari Risma dan Tamara bertos ria dibelakangnya.

"Ogeb Lo Cha. Dari ruang gurukan ngelewatin kelas 7.1 dulu. Buang-buang waktu aja." Kesal Tamara sambil melangkah menuju Icha.

Icha hanya cengengesan. Sebagai sekretaris kelas, Icha tentu saja selalu berhubungan dengan yang namanya guru.

Baru saja memasuki kelas 7.1. mereka sudah di sambut dengan kericuhan seisi kelas akibat datangnya putri dari pangeran mereka.
"Ciee yang mau nyamperin doi uyy"
"Ekheeemmmm ekheeemmmm"
Godaan demi godaan berdatangan. Inilah alasan mengapa Killa sangat benci datang ke kelas ini. Jangan tanyakan dari mana mereka tau. Tentu saja si ember Tamara yang membuat ulah.

Killa hanya bisa menekuk wajahnya. Melihat itu, membuat Tamara dan Risma cekikikan. Menurut mereka itu sangatlah menggemaskan. Apa mereka tidak tau? Darah Killa sekarang mendidih.

"Kaivan! Ketua kelaskan?" Kaivan yang tadinya membelakangi Icha berbalik menoleh.

"Ya." Kaivan menatap dingin Icha sembari menaikkan satu alisnya, seolah-olah bertanya.

"Ini, hasil ulangan dari walas Lo" kata Icha sambil memberikan kertas ulangan mereka.

Kaivan mengambil kertas tanpa berkata apapun. Kemudian berbalik menuju teman-temannya.

Bel pertanda masuk berbunyi nyaring. Membuat siswa siswi SMP Intelligentes harus kembali ke masa-masa sulit.

~~~~

Proses belajar mengajar dikelas 7.2 sudah berlangsung sejak 12 menit yang lalu.
Bu Yanti selaku guru sejarah menjelaskan tentang masa lalu yang sampai sekarang masih saja dibahas. Suara Bu Yanti ternyata sangat merdu ditelinga murid 7.2. sehingga membuat mereka ingin sekali menutup matanya lalu beralih ke alam mimpi.

"Kill. Gue heran banget sama Lo. Sedikitpun nggak ada gitu Lo suka ke kaivan? Maksud gue mengagumi dia doang. Secarakan dia ganteng, pinter, tajir lagi. Bahkan cewek-cewek pada ngincar dia." Tanya Icha dengan mata tetap fokus ke arah Bu Yanti.

Killa yang tadinya menjatuhkan kepala di meja, sontak menatap Icha di sebelahnya dengan pandangan tidak suka. "Berapa kali coba gue bilangin. Gue benci banget, banget sama dia." Killa kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja.

"Gue sering denger yang katanya benci jadi cinta. Gue cuma ngingetin. Jangan terlalu benci ke orang lain. Apalagi disini orang yang Lo benci itu cowok. Gue harap Lo paham maksud gue" Icha menatap lekat Killa. Yang ditatap pun hanya menghela nafasnya kasar.

Jangan lupa vote ya gusy:*
Maaf kalo ada yang kurang berkesan. Maklum, masih amatir:(

ProblemWhere stories live. Discover now