"cyalibri"
gadis itu menghela napas, lelah.
"sini lu, jadi pacar tuh yang nurut."
cyalibri, ia biasa dipanggil libri tapi teman akrabnya memanggil nya brili, sesuai panggilan namanya ia seorang gadis yang bertahan hidup layak nya berlian, dihargai. Bersinar sendiri di dalam kegelapan.
"cepet sini, malah melamun" sontak brili melangkah kan kakinya menuju cowok yang memanggilnya tadi. "kenapa?" tanya brili malas.
"kok gitu tanggapan lu sama gua? lu lupa, yang dulu pengen pacaran sama gua siapa? kalo lu lupa-"
"iyaaa, kenapa? lu ada masalah?" tanya brili yang sengaja secara paksa melembutkan suaranya. "nanti gua ga bisa anter lu pulang, tapi biasa nya lu juga naik bis" ucap cowok itu sambil mendorong bahu brili. pelan.
brili duduk di tempat duduk nya, ia menurut saat didorong pacar nya itu untuk masuk kelas. "iya gapapa" ujar brili sedikit menghela napas.
"jangan sok sedih gitu, yang pengen pacaran sama gua kan lu, jadi ya tanggung sendiri resiko nya" ucap cowok itu beranjak dari kelas brili, namun brili menahan cowok itu.
"kalo boleh tau, lu mau ngapain?" tanya brili takut-takut. cowok itu melepas kan tangan brili dari tangannya. "bukan urusan lu, lu cuma pacar gua, ga lebih." lalu cowok itu pergi tanpa menoleh ke belakang.
"gua harus ngapain kalo hubungan kita udah kayak gini, vhen" navhen berhenti. "itu resiko lu."
brili menatap nanar punggung cowok yang bernama lengkap navhentes atau yang akrab nya dipanggil navhen, ia jadi teringat saat dulu navhen menceritakan bagaimana cowok itu diberikan nama navhentes yang menurut navhen sendiri aneh.
flashback
"navhen, lu tau kenapa nama lu navhentes?" tanya brili. "aneh ya? kata mama gua sih dia pas kasih nama gua lagi ngidam kantung semar, naphentes nama sains nya, jadi di pleseten dikit" ujar navhen sambil senyum.
mereka sedang berada di taman belakang sekolah, tidak seperti sekolah biasanya, jika taman belakang sekolah akan sepi namun taman belakang sekolah ini selalu banyak yang mengunjungi, tentunya saat sedang dalam masa sekolah, bukan masa libur.
"kenapa melamun?" tanya navhen, tangannya melambai di depan muka brili. sontak brili langsung menegakkan badannya. "gua serasa sokap ya?" saat navhen mengatakan itu, brili langsung buru-buru menggelengkan kepalanya.
"enggak kok, tadi cuma bingung aja mau respon apa" ujar brili disertai senyum nya. "gua juga bingung mau respon apa" balas navhen, lalu mereka berdua tertawa bersama, entah apa yang lucu.
flashback end.
mengingat itu membuat brili menghela napas lirih lagi. tentu saja itu dulu, dulu sekali saat brili belum terlalu jatuh terhadap pesona navhen.
###
"gimana kabar lu sama navhen?." tanya teman brili yang bernama havea. "seperti yang lu tau" ujar brilli sambil memakan yang ia pesan tadi di kantin.
"kenapa ga putus aja? toh ini cuma sandiwara dia aja" havea berkata lagi, brili menghentikan makan nya lalu meminum es jeruk nya. "kalo segampang itu udah dari kemaren-kemaren gua putusin" ujarnya.
"gua ga ngerti jalan otak lu, pake jalan tikus ya?" canda havea namun brili tidak tertawa ataupun tersenyum. melihat situasi yang tidak cocok untuk bercanda, havea berdehem lalu membenarkan posisi duduknya.
"gua tau lu masih ga rela dan terlebih lagi dia ga biarin lu segampang itu buat mutusin dia" brili mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan havea. "tapi lu harus bisa bahagiain diri lu sendiri."
"lu kan tau dia sifatnya gimana, gua cuma takut lu malah di manfaatin sama dia eh tapi udah di manfaatin juga sih" havea ikut menghela napas. "terus gimana nasib lu selanjutnya?" tanya nya.
"ya yaudah, mau diapain lagi emang nya? jalanin aja lah" pasrah brili. "heh, nama lu tuh cyalibri dipannggil brili yang maknanya brilian, masa brilian mau redup dengan sendiri nya?" protes havea tidak terima dengan tanggapan brili.
brili hanya diam, ia menghabiskan makanannya begitu juga dengan havea. mereka beranjak dari kantin saat sudah selesai makan dan menghabiskan sisa waktu istirahat dengan mengobrol banyak hal yang tentunya bukan membahas navhen.
### (esoknya)
"brilli, mana barang yang gua suruh bawa?" tanya navhen tanpa basa basi saat memasuki kelas brilli. brilli mengambil barang yang dimaksud navhen. "itu buat apa?" tanya brilli heran, pasalnya itu adalah barang cewek. yang ia maksud adalah roti jepang, ya kalian tau lah ya.
"buat cewek gua lah, dia lagi kesakitan banget tadi untung roknya udah gua ganti, kata dia gaenak kalo ga pake roti jepang" navhen menjelaskan detail. brilli hanya diam dan menunduk.
"jangan jadi cewek yang cengeng, itu resiko lu sendiri" navhen beranjak pergi. lagi-lagi brilli hanya diam, ia tidak merasa mau menangis tapi hatinya terasa sangat berat. "kurang ajar banget tuh cowok" gerutu havea yang duduk disamping brilli. "kalo kemaren gua ga telat, gua bakal pindahin lu sekolah" ucap nya
"ide lu ga ada guna nya" ceplos brilli. "eh tapi itu bukan ide loh cuma sekedar ngomong aja, tapi kalo dipikir-pikir boleh juga" havea berseru ria. "ga habis pikir gua sama lu, kalo gua pindah emang mama papa gua ga repot?, kalo gua pindah emang lu ga kangen sama gua?" tanya brilli lalu geleng-geleng kepala.
"hmmm tapi daripada lu digituin terus dari 2 bulan yang lalu? kemaren kita kan udah bahas lu malah nanggepin nya biasa aja, padahal gua tau lu sesakit itu" havea ikut menggelengkan kepala nya.
"lu ga ada ide yang lebih bagus?" tanya brilli, namun havea tak sempat menjawab dikarenakan guru sudah masuk. mereka berdua diam begitu juga dengan seisi kelas. "makanya sekelas sama cowok lu itu biar dia ga ada cewek lain" bisik havea dengan terkikik membuat brilli mencebikkan bibirnya.
"ibu kesini cuma mau ngasitau kalo kita bentar lagi ujian kenaikan kelas, kalian mau naik ke kelas 12 jadi ibu harap kalian lebih serius lagi belajar nya, ibu mau kerumah sakit dulu jenguk temen ibu, kalian ibu tinggal jangan berisik ya" ucap guru yang masuk tadi lalu pergi meninggalkan kelas yang beberapa detik setelah kepergiannya terjadi keributan.
"jadi lu ada ide bagus?" tanya brilli kepada havea. "ide? udah sih pindah aja, nanti gua ikut pindah, gimana? bagus kan ide gua?" havea menatap mata brilli dengan memelas.
"terus lu biarin orang tua kita susah gara-gara ngurusin pindahan kita doang?" brilli gemas dengan havea yang tak banyak berpikir. "tapi gua ga segitunya mau ninggalin navhen" sambung brilli.
"terus aja lu biarin diri lu jadi korban perasaan lu" cibir havea. "kalo semisalnya lu mau kita pindah nanti yang urus pindahan biar pembantu gua aja dirumah, dia juga ga bakal keberatan kalo gua kasih uang lebih" havea menaruh kepala nya di meja begitu juga dengan brilli.
"terus aja lu sangkut pautin semua masalah lu pake uang" ujar anarkis brilli namun havea tidak terasa tersinggung ia malah tertawa. "gua gitu loh, anak sultan." brilli hanya mendecak kesal lalu menelungkupkan kepalanya di antara lipatan tangannya.
"udah jangan dipikirin, soalnya dia ga mikirin lu" usai mengatakan itu havea tertawa sangat puas melihat brilli yang sedang banyak pikiran. ia tertawa hingga kelelahan lalu mengikuti gaya tidur brilli.
YOU ARE READING
The Man Without Name
RomanceSebuah penyesalan tanpa ujung Rasa sakit yang sudah lama namun terasa baru digores Kisah hidup yang ingin sekali ku rubah.
