Preview 1

3.4K 208 94
                                        

Jadi dokter dan astronot adalah cita-cita anak muda jaman dulu. Di era sekarang pekerjaan impian pemuda berubah menjadi youtuber atau selebgram semenjak kemajuan teknologi mengalami kemajuan seperti sedang kesetanan saja, begitu cepat. Ada lebih banyak ragam pekerjaan yang bisa dipilih tapi untuk satu dan dua hal Namikaze Naru memilih bekerja sebagai editor lepas. Pekerjaan freelance macam itu adalah alibi untuk menyembunyikan pekerjaannya yang sesungguhnya. Dia seorang pencuri makam professional.

Pencurian makam tidak mudah dilakukan dan memakan waktu lama untuk melakukan penelitian mengenai letak makam, sejarah pemilik makam serta mencari gambaran wilayah makam. Sebut saja pencurian makam Fir'aun adalah salah satu yang menantang dan tersulit, bukan itu bukan ulah Naruto. Itu adalah ulang pencuri senior beda generasi yang sudah mega profesional. Dari semua proses hal paling sulit adalah melacak target kemudian mengumpulkan data serta kemungkinan kekayaan. Tidak ada yang ingin mencuri makam kosong dan rakyat jelata, bukan? Untuk itulah Namikaze Naru bekerja dalam team.

Ada beberapa arkeolog, ahli geologi, serta mantan pekerja tambang yang ikut dalam kelompok rampok miliknya. Mereka adalah kumpulan orang-orang cerdas yang keliru jalan.

"Hei dimana kau, Narulate?"

Naruto sedang menyetir saat sambungan telephone berbunyi dengan nada suara kesal. Itu adalah suara anggota gengnya.

"Di jalan, siang ini sedikit macet. 5 menit lagi aku sampai, sabar sabar." Ujarnya sambil diselingi tawa.

Suara di seberang mendengus "Kau benar-benar Narulate, selalu telat. Manajemen waktumu sangat buruk, daily life-mu benar-benar semrawut."

"Tapi Kiba, aku selalu hebat untuk setiap misi. Lain kali aku akan lebih tepat waktu." Ujarnya.

".....lain kali pantatmu!"

Naruto bisa menduga bahwa Kiba mungkin sedang memutar mata jengah disana lalu menutup panggilan telephone begitu saja.

Mobil melaju dengan lebih cepat saat Naru menginjak pedal gas, melirik sekilas pada spion Audi barunya yang baru saja ia beli 3 bulan lalu dari hasil rampok sebuah perusahaan pengembangan teknologi games. Ngomong-ngomong selain menjadi perampok makam, mereka juga mulai melebarkan sayap merampok hal-hal berharga seperti koleksi langka museum, data penting, atau sistem pengembangan tertentu, sejauh pundi-pundi uangnya melimpah.

Naru kembali mengalihkan pandangannya di jalan depan sembari tersenyum miring dengan dagu sedikit terangkat. Kacamata hitam merk Dior bertengger di hidung mancungnya.

***

Naru memasuki sebuah restauran china kelas atas dan menuju salah satu ruangan privat. Ketika dia masuk, di dalamnya sudah ada 4 orang lainnya yang tampak berkumpul: Inuzuka Kiba si Arkelog, Huang David si Mantan Engineering Tambang, Tommy Zhang arkeolog lainnya, dan Nguyen Anh si Ahli Geologi.

"Jika ada orang lain dengan kemampuan selincah dirimu, aku pasti sudah akan merekrutnya dan menendangmu dari kelompok ini." Ujar Kiba saat Naru masuk dan mendudukkan diri.

Tommy Zhang, seorang pemuda oriental dengan mata sipit berujar di sampingnya "Naru kau sungguh tidak disiplin." keluhnya.

Naru tertawa cengengesan "Aku yang teraktir ya, kalian makan sampai kenyang. Maaf maaf, aku mabuk-mabukkan semalam dan bangun kesiangan."

"Baiklah jangan buang waktu, target telah terkunci, operasi kita kali ini di pedalaman gunung bagian utara Kyoto. Kita akan pergi pada rabu pagi menuju Kyoto. Aku sudah mempersiapkan semua equipment." Ujar Anh dengan aksen Vietnamnya.

Mereka pergi dengan sebuah aliran percakapan dan diskusi panjang ketika Naru menyadari bahwa perampokan makam kali ini akan menjadi yang paling bersejarah dalam kelompok mereka. Ini adalah makam dari seorang yang besar dan kaya di masa lalu ketika Kiba selaku arkelog muda kita yang hebat menjelaskan taksiran nilai kekayaan yang berada di dalam makam serupa gunung emas.

Ultimate System (OPEN ORDER)Stories to obsess over. Discover now