"Ini adalah laporan keuangan selama beberapa bulan terakhir, hyung. Bisa kau lihat omset kita terus menurun dalam dua bulan ini" Park Chanyeol menunjuk baris dalam deretan huruf bercampur angka yang tertulis dalam dokumen yang tadi ia serahkan untuk bosnya, Kim Namjoon.
"Dalam pertengahan bulan ini saja omset kita sudah merosot tajam, jika keadaannya terus begini maka bulan ini cafe kita akan rugi besar, hyung"
"Dan apa penyebab nya, Chanyeol-ah?"
"kita memiliki masalah dengan bahan baku. Entah mengapa sejumlah supplier kita memutuskan tidak lagi mau bekerja sama dengan kita. Aku terpaksa mengambil dari tempat lain yang harganya lebih mahal"
Namjoon menaikan alisnya, "apa semua supplier kita berhenti pada waktu yang sama?"
Chanyeol memberikan anggukannya sebagai jawaban.
"ck aneh sekali" gumam Namjoon, ia berpikir sejenak kemudian kembali berbicara pada Chanyeol "tolong berikan aku data lengkap supplier yang memutuskan kerjasama dengan kita"
"Baik, akan segera aku berikan, hyung"
Dering ponsel milik Namjoon memutuskan pembicaraan mereka. Namjoon menyipitkan mata begitu melihat Jennie, adiknya, yang menghubunginya.
"Ada apa?"
"O-oppa sesuatu terjadi pada Eomma..ku mohon datanglah kerumah...kami membutuhkan mu, Oppa"
****
Namjoon tiba dirumah besar yang pernah menjadi miliknya itu satu jam kemudian dan bergegas menemui Eomma dan adiknya. Dilihatnya nyonya Kim sedang berbaring lemah di ranjang dengan Jennie yang duduk disisi sebelah kanan.
"Eomma, ada apa?"Namjoon membawa langkahnya mendekat. Jennie yang melihat kakaknya sudah datang bergegas bangun dan mengisyaratkan kakaknya untuk mengambil tempatnya.
" Namjoon" panggil Nyonya Kim seraya menggerakan tangannya, meminta anak lelakinya itu mendekat.
Namjoon berdecap melihat keadaan nyonya Kim yang terlihat lesu. Wajah angkuhnya pucat dengan sorot mata kosong, menjadikan Namjoon ikut sedih dan cemas melihatnya.
"Jennie-ah ada apa ini?apa yang terjadi pada eomma?"
"Perusahaan eomma sedang bermasalah. Banyak proyek yang dibatalkan dan eomma yang harus menanggung kerugiannya. Lalu tadi siang ada penagih hutang yang datang, kami harus melunasi hutang perusahaan sebesar 140 juta won dalam waktu beberapa bulan ini" Jennie mulai bercerita, gadis itu juga terlihat sedih.
Dahi Namjoon berkerut dalam, tapi ia masih belum berkata apa-apa, menunggu Jennie melanjutkan ceritanya.
"Aku dan Eomma tadi sepakat akan menjual beberapa aset yang kita miliki serta rumah ini. Tetapi oppa, jumlahnya tidak cukup, kami masih memerlukan uang puluhan juta won lagi untuk menutup hutang itu"
Namjoon mengusap wajahnya kasar. Belum selesai masalah pada cafenya sekarang dia juga harus mendengar masalah yang menimpa adik dan ibu nya.
"Lalu salah satu sahabat eomma menawarkan bantuan. Dia mau melunasi hutang eomma tetapi___" Jennie tidak melanjutkan bicaranya, Ia menatap Namjoon tak enak hati lantas mengirimkan isyarat agar nyonya Kim saja yang melanjutkan ucapannya.
"Tetapi apa?" desak Namjoon tidak sabar.
"Dia memintamu menikahi anaknya" lanjut nyonya Kim lirih.
Namjoon melongo, lantas berseru " Apa-apaan"seru Namjoon separuh mengumpat, "Tidak. Aku tidak mau Eomma" tolak Namjoon tegas.
"Namjoon-ah, eomma tidak akan meminta bantuan mu bila tidak terpaksa. Tapi nasib perusahaan kita dipertaruhkan! Bagimana dengan ratusan karyawan eomma bila perusahaan benar-benar bangkrut?kau tidak kasihan pada mereka?"
YOU ARE READING
Miracle and Love 2
Fanfiction-Miracle and Love 2- ketika cinta kembali di uji ketika janji pernikahanmu dipertaruhkan sanggupkah kau bertahan atau justru kau memilih untuk saling melepaskan?? Note : supaya nyambung baca dulu miracle and love 1 yaa gaes Kim Namjoon x Kim Seokji...
