Hari ini adalah penghujung hari.
Katakanlah tak ada yang istimewa, karena setiap hari adalah hal yang sama saja. Seperti apa yang kebanyakan orang lihat, apa yang aku buat dan apa yang aku lakukan itu sudah umum didepan mata mereka. Pagi aku pergi, pulang aku duduk. Aku perempuan perkerja pada sebuah toko, disana aku adalah karayawati, setiap hari aku melayani pembeli, bertemu bermacam buruh dan tukang, mengangkat pipa, mengangkat kabel tentu saja dengan bobot yang masih terbilang ringan. Membantu mereka memilih saklar, fitting lampu, dan alat-alat listrik mana yang baik kualitasnya sampai yang terburuk. Tak jarang juga aku membantu mereka, menipu memainkan harga. Bagaimanapun kehidupan ini sulit, biaya yang dikeluarkan serta pendapatan yang didapat kadang tak sesuai, kalau kata pepatah bilang "besar pasak daripada tiang" dan itu kebenaran. Tapi hari ini bukan tentang aktifitasku, bukan tentang berapa banyak tukang dan buruh yang aku layani, bukan tentang berapa banyak pipa dan kabel yang aku angkat, bukan tentang berapa banyak dari mereka yang kubantu untuk menipu memainkan harga, bukan tentang itu.
Hari ini adalah hari peringatan. Hari ini adalah hari dimana aku memutuskan menghilang dari Senja. Hari dimana aku memilih pergi dan memutuskan takkan kembali, hari dimana aku pernah berjanji untuk tidak peduli bahkan sekalipun rindu, hari dimana aku berjanji bahwa aku akan rela melepas dan akan mengubur cinta yang sejatinya tak pernah bisa, hari dimana aku tak akan mencari kabarnya, bagaimanapun kehidupannya darimanapun bahkan sosial medianya, hari aku ingin move on kalau bahasa gaulnya. Tapi tak satupun apa yang aku ingin lakukan terjadi dengan seharusnya, bahkan itu menjadi yang sebaliknya. Aku masih bolak balik mencarinya, ingin mengetahui kabarnya, bahkan gencar mengintai status-status sosial medianya meski tak sekalipun menyapanya, walau aku memiliki kontaknya wathsappnya, yang dulu kami bahkan tak sekalipun bosan saling membalas chat, demi bertanya kabar, apa yang sedang kami masing-masing lakukan, saling mengucap sayang, saling mengungkap cinta, saling mengadu rindu. Dan hampir setiap jam kami berteleponan, meski kuping panas karena berjam-jam menggunakan handsfree, meskipun kantong harus semakin menipis demi membeli pulsa karena tarif menelpon sudah terbilang mahal walau sudah mendaftar paket nelpon itu tetap akan menguras isi dompet, kami berdua sama-sama tidak peduli. Yang sekarang aku bertingkah seperti orang yang tak pernah sekalipun mengenalnya, munafik bukan.
Senja, perkenalan yang singkat. Tapi berakhir dengan kisah panjang dalam perjalanan saat aku mulai mengenal apa itu cinta, mengenal apa itu rindu, mengenal tentang apa itu desir-desir tak menentu yang selalu hadir saat bersamanya, bahkan tanpa bertatap muka. Mengenal mengapa reaksiku begitu berlebihan ketika mendengar suaranya, melihat senyumnya, melihat tawanya, bahkan begitu merona ketika dia tak sengaja memujiku, atau mungkin aku yang begitu percaya diri merasa dipuji. Aku jatuh cinta.
Senja adalah perempuan seumuranku, atau bisa dibilang dia lebih tua dariku karena perbedaaan jarak bulan lahir kami. Kami berbeda tujuh bulan dia April dan aku November, tapi itu tak lantas membuatku harus memanggilnya dengan sebutan kakak. pada akhirnya kami saling memanggil sayang, ah.. mengenangnya saja sudah membuat hatiku cenat cenut. Senja adalah cinta pertamaku, dan entah akan menjadi cinta terakhirku karena sampai saat ini rasaku padanya belum memiliki akhir meski kami diantara aku dan Senja tak lagi ada.
Saat ini aku berada di kedai kopi tempat pertemuan pertama kami. Kedai ini berdekatan dengan toko tempatku bekerja jaraknya hanya sekitaran duapuluh meteran, dapat ditempuh berjalan kaki. Letaknya diseberang jalan dan itu membuatku harus menyebrang, letaknya lumayan strategis berada ditengah kota, tak jauh dari pasar, didepan sebuah motel yang berdampingan dengan swalayan perbelanjaan namun cukup rindang karena dilindungi oleh tiga pepohonan mahoni, yang rajin dipangkas oleh dinas kebersihan kota, ramai bila setiap malam minggu dan malam sabtu ataupun dihari libur lainnya, jika hari biasa ramai bila saat jam makan siang dan makan malam. Kedai kopi ini bernama "Kedai Kopi Lindung" dan sesuai namanya kedai kopi ni memang lindung, rindang, dan nyaman untuk dijadikan persinggahan saat penat atau sekedar mencari hiburan, serta untuk mengenang masalalu yang satu ini hanya berlaku buatku entah kalau kalau ada pelanggan lain yang berpendapat sama aku tidak tau dan tidak peduli
Dan disetiap hari peringatan aku akan selalu berada disini, mengenang masalalu penuh rindu, dan sedikit pilu. Jika hari biasa aku hanya mampir untuk memesan minuman untuk diminum dalam perjalanan, maka hari ini aku memesan untuk duduk lama dalam lamunan dan itu akan menghabiskan waktu berjam-jam tidak peduli karyawan disini akan jengah melihatku hanya duduk dengan secangkir kopi dan sepiring cemilan yang aku pesan, lamunan tentang senja.
Aku termasuk salah satu pelanggan setia disini, dan semua karyawan dikedai ini tahu, tanpa aku bilangpun mereka akan tahu kopi jenis apa yang akan aku pesan, Cappuchino itu adalah favoritku tepatnya kami berdua aku dan Senja. Tapi kali ini mereka menawarkan cemilan baru, ada kue bolu coklat pandan, itu adalah kue kesukaanku, kali saja dengan disertai yang manis-manis lamunanku akan ikut menjadi hal termanis walau pun sedikit, kebetulan aku baru saja gajian. Sore ini entah kenapa kedai ini sedikit ramai pelanggannnya, untung saja aku datang sedikit lebih cepat dari pelanggan yang lain, jadi aku tidak kehilangan tempat duduk favoritku. Dan mereka semua juga tahu, dimana tempat duduk favoritku, dimeja paling sudut, dekat jendela jadi aku bisa puas memandang jalanan kota, pemandangan yang kadang membuat jemu tapi selalu menjadi pilihan terlebih sejak tahun-tahun dimana aku meratapi nasib kisah cintaku. Sedih dan itu sangat jelas.
Satu pertanyaan yang selalu aku pikirkan disetiap hari peringatan ini, apa kabar senja?. Terlebih lagi jika mengingat sudah hampir tiga hari ini dia tidak meperbaharui status dimedia sosialnya, bahkan onlinepun tidak. apakah dia mengingat hari ini juga, hari dimana aku menghilang, hari dimana kita terpisah, hari yang tidak bisa sama sekali aku lupakan saat aku memilih pergi, hari yang mungkin aku sesali, aku tidak tahu pasti. Apakah dia mengingatku?. Entahlah.
Senja kamu apakabar?
YOU ARE READING
APA YANG AKAN AKU KATAKAN PADA SENJA
General FictionMelihatmu datang, seperti melihat rumah untuk pulang. Tapi pantaskah, apa yang harus kukatakan senja?--- Aku Ada banyak jawaban yang ingin aku dengar darimu, mengapa, kenapa, dan apa sebabnya kamu menghilang?---Senja
