Aku Grace Leenard, panggil saja Lea. Aku gadis berumur enam belas tahun, ya. Aku masih SMA kelas sebelas. Hidup ku penuh dengan kemewahan dan tak heran jika aku sekolah di tempat ternama. Violet Village School atau VVS, sekolah yang memang di isikan oleh anak-anak yang orang tua nya memiliki uang di atas rata-rata. Budaya di sekolah ini adalah, siapa yang paling kaya. Dia yang paling berkuasa dan bisa melakukan apapun, termasuk membully––aneh. Orang yang paling kaya saat ini adalah aku sendiri, itu karena ayah ku adalah direktur sekolah ini sekaligus pemilik saham terbesar dan juga sebagai menteri perhubungan America. Karena itu ayah ku jarang pulang ke ibukota karena tugas nya di tanah kelahiran kami. Ya aku anak blasteran, ayah ku berasal dari America dan ibu ku orang pribumi. Semua teman-teman ku selalu memuji ku karena visual ku yang tidak seperti orang kebanyakan. Tapi jujur, aku risih dengan semua itu, aku tidak nyaman dan mengabaikan mereka yang punya hobby mengganggu. Jangankan mengganggu ku mereka juga sering mengganggu hidup orang lain juga, seperti membully. Tapi pembullyan itu tidak terjadi selama aku sekolah disana, aku memakai budaya gila itu untuk menghentikan semua nya. Tapi itu tidak menghentikan pengumbaran kebencian dari media sosial.
Tidak jarang juga orang mengatakan aku gadis yang sombong, aku tidak peduli. Memang wajah ku seperti ini, perlukah ini di di perdebatkan? Aku akui, wajah ku memang terlihat seperti manusia congkak dan suka membully. Heyy ini hanya bawaan wajah luar, aku tidak seperti itu. Aku hanya manusia lemah––ahh lupakan saja soal ini.
Bosan sekali harus pergi sekolah hari ini. Jika saja semalam papa tidak menanyakan perihal sekolah ku, mungkin aku masih nyaman melayang di dalam mimpi indah ku.
Dengan gontai aku pergi ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah, ahh ya aku salah satu orang pembenci sarapan. Jadi sarpan bukan termasuk ke dalam daftar hidup ku selama ini.
Tidak butuh waktu lama untuk ku bersiap, aku sangat berbeda dengan Catherin adik tiri ku yang sangat senang merias wajah dan tidak pernah melewatkan trend masa kini. Beda dengan diri ku yang hanya mengikuti alur dan membeli yang aku suka saja. Apapun itu asal aku menyukai nya. Soal adik tiri, tentu saja kami dari ibu yang berbeda.
"Ma aku pergi." Pamit ku seadanya.
"Hmm."
Aku langsung keluar rumah dan pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil ku. Semua mobil ini raa-rata hanya hadiah, aku terlalu malas membeli mobil. Hari ini aku memilih warna merah untuk ku kendarai, mobil merah yang kupilih hari ini adalah mobil bernama ford dari lima jenis mobil merah ku. Aku memiliki dua puluh mobil mewah yang hanya di pajang, terlalu banyak juga membuat ku sedikit pusing dan berinisiatif untuk menjual nya. Lagipula hanya tiga yang baru aku pakai, selebih nya masih berbalut plastik dengan rapi. Masalah tertukar atau tidak dengan mobil Catherin itu tenang saja, kami memiliki garasi pribadi.
Setelah mendapatkan yang aku inginkan, aku melajukan mobil ku. Di sepanjang jalan aku banyak tersenyum karena banyak karyawan di rumah ku yang sedang bertugas. Jarak rumah dengan pintu gerbang rumah ku itu sekitar satu kilo meter lebih, harus sedikit berkeliling karena harus melewati kantor pertemuan, kantor kerja, aula untuk berkumpul nya para kolega ayah ku, aula pesta Catherin yang setiap saat sering berubah tema nya, museum seni koleksi milik papa, perpustakaan, dan terakhir rumah pohon milik ku dan juga taman baca kecil khusus untuk ku. Semua gedung itu mengitari air mancur besar di tengah-tengah gedung, dan sebelum kesana, kita harus mengikuti trotoar jalan yang cukup besar. Ada yang aku lupakan, di belakang rumah kami juga ada bermacam tempat untuk berolahraga. Seperti golf, bowling, basket, ruang gym dan bola tenis.
Butuh sekitar Lima menit untuk keluar dari perkarangan rumah. Aku sempat membayangkan jika aku kabur dari sini, mungkin itu butuh rencana yang cukup matang dan membutuhkan satu bulan penuh untuk merencanakan nya. Bagaimana tidak. Sudah jarak nya jauh, di tambah drone yang selalu memantau rumah dari atas dan tentu saja jumlah nya tidak sedikit. CCTV? Tidak perlu di tanya lagi banyak nya, hanya kamar ku saja yang tidak terpantau kamera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Earphone
Fiksi RemajaKetika semua orang ingin mendengar, ku rasa aku sebalik nya. Ketika orang mencari cahaya, aku lebih nyaman dengan lawan nya. Ketika orang ingin mengenal cinta, aku tidak memiliki nya. Hingga akhir nya, mati menjadi cita-cita ku. -Grace Leanard- nama...
