Seorang pria tengah menatap gadis dihadapannya dengan intens, sambil menunggu gadis tersebut membuka suara, pria itu memperhatikan sekeliling memastikan tidak ada orang selain dirinya dan gadis tersebut, mereka sedang berada di belakang perpustakaan sekolah yang terlihat sepi.
" Aku suka padamu!"
Pengakuan seorang gadis itu tentu membuat pria didepannya terkejut, kenapa tidak gadis tersebut sudah mengungkapkan perasaannya sebanyak tiga kali, Ardi akui jika gadis itu memiliki keberanian dan kegigihan yang kuat.
"Sorry, gue udah bilangkan ada cewek yang gue suka!"
Sudah tiga kali juga Ardi mengucapkan kalimat itu, ada perasaan kasihan yang terlintas dibenaknya namun ia tidak akan menerima cinta seseorang hanya karena rasa kasihan itu bukan kriteria seorang Ardi, hatinya akan tetap tertutup dan hanya terbuka untuk dia, hanya untuk dia.
"Katakan siapa dia?"
"Lo gak perlu tau!"
Gadis itu menatap Ardi sendu, kali ini ia gagal mendapatkan hati seorang Ardi untuk ke sekian kalinya, Ardi membenarkan letak kacamatanya yang berteger dihidungnya, ia merasa tak enak hati dengan gadis itu bagaimanapun juga gadis tersebut adalah teman satu kelasnya dengan terpaksa Ardi meninggalkan Maulin sendirian takut jika ada orang yang melihat mereka berdua dan menjadi gosip recehan.
Maulin menatap punggung Ardi yang perlahan mulai menghilang, ia mengepalkan tangannya dengan kuat hingga kuku tajam maulin menembus kulit tangan nya sendiri sampai mengeluarkan darah.
"Di tolak lagi?"
Mendengar suara itu Maulin melonggarkan kepalan tangannya, Maulin tau suara orang tersebut ia adalah Tian mahendra sepupunya.
"Bukan urusan lo!"
Ketika Maulin hendak pergi, tangan kanannya ditahan oleh Tian, Maulin berbalik langsung saja menghempaskan tangan Tian dengan kasar.
"Sampai kapan lo bakalan kaya gini!"
Jawaban yang terdengar hanya suara isakan tangis, kepala Maulin menunduk menyembunyikan air matanya dari Tian ia berusaha tegar namun tetap saja ia tak bisa.
"Kenapa lo gak nyerah ajah si!"
Tak ada jawaban dari gadis itu, ia menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Tian serius, yang ditatap hanya menaikkan alisnya sebelah.
"Lo mau bantu gue kan!"
"Tentu, tapi bantuin apaan?"
"Gue bakal bikin Ardi menyesal!" Ucap Maulina menampilkan seringai nya.
Kantin
Siang hari ini Ardi tengah duduk dibangku pojok kantin, ditemani teman sekelasnya Devan dan Ilham mereka tengah fokus menyantap makanannya masing-masing.
"Heh si Maulin ngungkapin perasaannya lagi sama lo?" Tanya Devan
"Hmm"
"Gue heran deh sama isi otaknya si Maulin mau diletakin dimana harga dirinya kalo kayak gitu terus!" Sahut Ilham
"Gue setuju" seru Devan yang tengah mengunyah makanan.
"Sebenernya gue gak tega juga si, karena ngungkapin perasaan itu butuh keberanian yang tinggi."Ardi menghela nafas lalu melanjutkan kembali menyantap soto kesukaannya
"Van liat deh sifat simpatiknya keluar!" Sahut Ilham
"Kenapa lo gak pacarin aja tu si Maulin katanya kasian!"tukas Devan
"Aisshh... kan gue udah pernah bilang, gue lagi ngejaga perasaan seseorang!" Geram Ardi
"Ah masa sih" goda Devan
"Dahlah gue males bahasnya" Ardi berdiri lalu berjalan meninggalkan mereka berdua
"Wey soto lo belum abis!!!"teriak Devan
"Tuh kan baper"celetuk Ilham
"Kaya gak tau si Ardi aja dia itu bukan hanya lembut sama cewek tapi dia juga Baperan."jelas Devan. Ilham hanya mengangguk setuju Mereka melanjutkan kembali menyantap makanannya.
Ting-Tong
Bel rumah berbunyi nyaring menyeruak Indra pendengaran Ranti, ia menyuruh bi Irah membukakan pintu utama, dibalik itu terdapat seorang pria yang sedang tersenyum manis, siapa lagi jika bukan Ardi.
"Hallo bibi" sapa Ardi
"Eh den Ardi, udah pulang?"Tanya bi Irah
"Kalo belum ngapain aku disini." Ucap Ardi bi Irah hanya mengangguk.
Ardi pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, karena tidak tahan dengan bau keringat yang menempel di seluruh badannya.
Menit ke menit pun berlalu, sekarang Ardi tengah menyisir rambutnya yang basah ia berdiri dihadapan cermin besar yang ada di lemari bajunya.
"Aku merindukanmu"
Kalimat itu yang selalu diucapkan oleh Ardi, sungguh hati ini tengah merindukan gadis yang mengisi kekosongan hatinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengejutkan Ardi yang sedang melamun, ia menggerutu tidak kah dia berkhayal dan bahagia sebentar.
"Ardi ayok makan malam dulu!" Panggil Ranti ibunya
"Ia mah ntar Ardi turun" sahut Ardi
Tak lama Ardi turun kebawah, dimeja makan sudah ada Ranti dan Hendrik, mereka pun langsung menyantap makan malamnya.
"Mah, kak Ardan mana?"tanya Ardi karena sedari tadi ia tak melihat sosok Ardan.
"Dia belum pulang" sahut Ranti
"Anak itu, mau jadi apa nantinya kalo jam segini masih belum pulang juga!" Hendrik sedikit menaikkan nada suaranya.
"Mungkin dia ada tugas sekolah"Ranti berusaha mencairkan suasana.
Selang beberapa menit tiba-tiba datang seseorang dari arah selatan dan langsung duduk dimeja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Dari mana saja kamu?" Geram Hendrik
"Sekolah" jawabnya singkat
"Mana ada sekolah sampai jam 9 malam, mau jadi apa kamu kalo seperti ini terus!"kali ini Hendrik berusaha ekstra sabar menahan emosi pada putranya yang satu ini.
Ardan hanya memutar bola matanya malas, ia enggan menggubris perkataan sang ayah Hendrik.
"Sudah kuputuskan bahwa yang akan mewarisi perusahaan papah itu Ardi." Kali ini Hendrik membuat keputusan.
"Ck aku tanya sama papah apa bedanya aku dengan Ardi kita itu sama, tapi kenapa papah selalu bedain aku sama dia padahal kita sedarah, kalo gitu untuk apa aku dilahirkan!" Kesal Ardan ia pergi ke kamarnya.
"Ardan!" Panggil Hendrik dengan nada yang ditinggikan, namun tak didengar oleh sang anak.
Ardan membanting pintu kamarnya dengan keras hingga menghasilkan bunyi.
BRAKKK
#------
Hallo semua, ini adalah cerita ku yang kedua sebenarnya udah lama mau publish tapi ragu-ragu takut gak seru ceritanya, tapi aku coba dulu semoga cerita ini gak membosankan.🍃😊
YOU ARE READING
SECRETO?
Teen Fiction[INI HANYA KISAH REMAJA YANG PENUH DENGAN DRAMA] Ini kisah Ala gadis cantik yang mencintai Sahabatnya sejak kecil, karena itu ia rela pindah sekolah hanya untuk bertemu dengan Ardi agar selalu bersamanya. Akan tetapi Ardi berubah 180 derajat semenj...
