insecure

174 7 0
                                        

dulu, aku sangat terganggu dengan banyaknya perkataan buruk terhadap diriku, aku adalah objek yang mudah di cemooh, kejahatan verbal.

memang tidak ada kejahatan fisik, tapi percayalah, kejahatan verbal juga tak kalah menyakitkannya.

tidak, aku tidak gemuk. aku hanya terlalu kurus, tetapi bukan itu permasalahannya. ya, orang-orang bahkan pengin menjadi kurus.

masalahnya adalah wajah. benar, aku dulu jerawatan parah karena hormon. jerawat yang menyebalkan, lumayan besar, memerah, berbekas, pokoknya memang tak enak dipandang.

terkadang, ketika aku bercermin di kamar, melihat pantulan diriku adalah sesuatu yang aku hindari. karena aku bisa merutuki diri karena hal itu. bahkan, aku pernah memecahkan kacanya karena terlalu kesal melihat wajahku, kemudian menangis sejadi-jadinya.

memang begitulah rasanya. aku serius. hal itu tidak baik untuk diriku, aku menjadi pribadi yang minderan, overthinking, dan penyendiri. maka aku memutuskan untuk menyembunyikan kaca yang ada di kamarku. berlebihan? menurutku tidak.

ditambah lagi, efek lingkungan yang tak kalah menyebalkannya. tadi sempat kusinggung tentang kejahatan verbal, ini yang kumaksud.

"mukamu kenapa, tuh?"

mungkin untuk beberapa orang, pertanyaan seperti ini adalah biasa saja. tapi untukku dulu tidak seperti itu. ini adalah pertanyaan terbodoh yang orang-orang ajukan, yang sudah tahu jawabannya tapi masih ditanya. ketika kujawab dan dijelaskan, mereka malah kembali bertanya seperti;

"kelihatan, kamu orangnya jorok, ya?"

bodoh, bagaimana orang-orang cepat menilai hanya dari kelihatannya? aku tidak jorok, bahkan aku adalah orang yang sangat mudah risih dengan sesuatu yang kotor. hanya karena mukaku jerawatan parah, mengapa orang-orang dengan mudahnya mengklaim bahwa aku adalah pribadi yang jorok?

"tidak ada niatan untuk mengobati jerawatmu? parah, tuh."

dan ini adalah pertanyaan bodoh lainnya. aku sudah mencoba beratus-ratus kali untuk mengembalikan wajahku menjadi normal.

mulai dari saran orang-orang untuk memakai bahan-bahan alami. pakai masker tomat, pepaya, sudah kulakukan. pakai jeruk nipis, sudah kulakukan. pakai masker kunyit dan madu, sudah kulakukan. hampir semuanya sudah kulakukan. tetapi apa? tak ada hasil.

baik, bahan-bahan alami memang butuh waktu yang lama. maka, orang lain menyarankanku memakai skincare perawatan jerawat dari merk yang terkenal. dan kau tahu? harganya sangat fantastis. aku sampai menabung berbulan-bulan untuk hal ini.

saat aku sudah membelinya, memang ada hasilnya. tetapi apa? tetap saja ketika aku datang bulan, breakout datang lagi, dan usahaku seperti sia-sia. aku harus mengulangi step awal lagi.

"kenapa tidak ke dokter aja, sih? susah amat."

kau tahu? aku punya permasalahan lain. orangtua ku menganggap jerawat adalah hal seperti; oh yaudah. biasa saja. hingga mereka tidak menyarankanku kedokter. padahal, keminderanku sudah parah.

dan mereka bilang, mereka malas untuk mengurus surat rekomendasi dokter atau entahlah itu. karena kalau memeriksa sendiri, biayanya lumayan mahal juga. sedangkan ekonomi keluarga sedang tidak stabil. aku juga tahu diri. jadi untuk urusan muka, aku benar-benar mandiri.

selain itu, aku juga sering ditatap 'beda' oleh orang lain. misalnya, ketika aku lewat, mereka menatapku aneh. aku tahu, itu karena jerawatku. aku sering ditanya-tanya, kenapa mukaku sampai begitu. maka, aku sering berjalan menunduk. atau, aku sering menutup wajahku dengan masker.

dan ya, aku juga menghindari kontak mata dengan orang lain. aku takut orang-orang melihatku jijik, aku takut dengan hal itu. sudah kubilang, aku mudah overthinking terhadap sesuatu.

dan terkadang, aku iri dengan orang-orang yang memiliki wajah normal. mereka dengan leluasa dapat mengobrol tanpa minder, berbeda denganku.

tetapi, aku kesal ketika ada satu atau dua jerawat di muka mereka dan mereka benar-benar terganggu dan stress karena hal itu. permisi, ini aku yang punya banyak jerawat, stessnya bagaimana, ya?

dan minder lainnya ketika aku dihadapkan oleh kamera. ketika mereka dapat berpose bebas tanpa beban, aku tidak bisa melakukannya. maka, aku jarang berfoto.

selain itu, aku juga iri terhadap mereka. mereka dapat menyukai orang lain tanpa harus berfikiran negatif tentang hal itu.

maksudku begini, ketika aku menyukai orang lain, aku takut untuk menunjukannya, takut untuk berpapasan dengannya. karena apa? aku takut orang yang kusukai melihatku dengan tatapan yang sama seperti orang lain, jijik. aku sendiri pun melihat diriku seperti itu.

aku belum bisa mencintai diri sendiri, apakah aku bisa menyukainya? apakah dia dapat menyukai bagian dari diriku sedangkan aku sendiri tak menyukainya?

maka, aku kembali gundah karena masalah percintaan anak sma labil. sehingga aku sering terjebak dengan jatuh cinta sendirian. bagaimana perasaanku mau dibalas? toh, aku juga tidak pernah mengatakannya.

lagipula, aku sadar diri. aku yang biasa saja ini mana mungkin menjadi tipenya. mereka lebih mengutamakan yang cantik, begitulah laki-laki. orang sepertiku, mana mungkin ditoleh. ketika minta tolong, susah sekali. coba kalau yang cantik, sesulit apapun pertolongannya, tetap akan dibantu.

sampai, aku tersadar oleh seseorang. orang ini bukan orang yang aku sukai,  dia adalah temanku, tidak terlalu dekat. ketika aku tidak mensyukuri diri sendiri, dia malah menatap mataku serius sambil berkata; "kamu itu cantik."

hal yang tak pernah dikatakan oleh orang lain, bahkan teman dekat perempuanku tak pernah mengatakan itu, aku sendiripun tak pernah bilang aku cantik. tetapi dia bilang begitu, dengan serius.

aku mencari-cari kebohongan dimatanya, tetapi tidak kutemukan. dia benar-benar serius mengatakannya. tanpa paksaan, tulus sekali.

detik itu juga, aku mulai membuka pikiranku. setidaknya, masih ada orang yang menatapku berbeda walaupun aku tak tahu. setidaknya masih ada.

maka aku mencoba percaya diri. aku tidak lagi menunduk ketika berjalan, tak lagi menggunakan masker, mulai berani berbicara face-to-face, mulai berani untuk mengeluarkan kaca yang aku sembunyikan, mulai berani untuk menghadap kamera.

dan tanpa aku sadari, kepercayaan diriku juga berpengaruh terhadap wajahku.

sekarang, wajahku sudah lebih baik walaupun memang masih ada bekas dan masih tumbuh jerawat, setidaknya tidak separah dulu.

dan aku juga sering tersenyum, hari-hariku tidak ada beban, tidak ada pemikiran negatif.

intinya, semua itu membaik hanya karena perkataan. perkataan sederhana yang sangat berpengaruh dalam hidupku. dan orang itu sekarang bagiku adalah penyelamat dari semua keminderanku.

kalau dipikir-pikir lucu juga. aku down karena perkataan orang lain, aku bangkit juga karena pekataan orang lain.

sehingga aku sadar, apa yang dikatakan adalah hal yang dapat berpengaruh terhadap orang lain, walaupun kelihatannya sederhana.

dan sekarang, aku dan dia berteman baik. aku sering diberitahunya tentang pernyataan-pernyataan yang aku sendiri tidak berfikir sampai kesana. entahlah, apakah perasaanku saja atau bagaimana, pemikirannya menakjubkan.

lalu, aku ingin kau tahu juga, untuk yang sedang membaca ini dengan keminderanmu, aku tidak dapat menyarankanmu banyak, tetapi aku ingin menyampaikan; cintailah dirimu sendiri.

aku tahu, itu adalah hal yang paling sulit karena aku juga pernah mencobanya tetapi gagal. tapi yakinlah, usahamu tak akan sia-sia walaupun hasilnya akan lama.

dan essai ini akan kututup dengan perkataan menakjubkannya;

"yang penting, kita harus ikhlas. ikhlas dengan semua yang terjadi, anggaplah beban yang kau emban seperti tantangan untuk tahap yang lebih baik. maka, kau hadapilah tantangan itu seperti kau menantang suatu hal yang kau yakin pasti menang."

sampai jumpa. []

sudut pandangOù les histoires vivent. Découvrez maintenant