Semua peristiwa aneh yang dialami Fujiwara Kagome berawal dari ketukan jendela kamarnya di setiap tengah malam. Sebuah ketukan pembuka takdirnya untuk bertemu dengan sosok misterius di tengah laut tepat di bawah sinar rembulan. Semua terus berulang...
Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Summary: Semua peristiwa aneh yang dialami oleh Fujiwara Kagome berawal dari ketukan jendela kamarnya di setiap tengah malam. Sebuah ketukan pembuka takdirnya untuk bertemu dengan sosok misterius di tengah laut tepat di bawah sinar rembulan. Semua terus berulang hingga akhirnya terungkaplah hal yang tak pernah Kagome ketahui.
Warning! Tulisan ini mengandung tema sensitif dan muatan konten dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk TIDAK MEMBACANYA. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bulan purnama sempurna menghias kaki langit, pendarnya menawarkan ketentraman hati di nirsinarnya malam ini. Ia memantulkan rupa di laut diiringi gugusan bintang layaknya sebuah kanvas yang sedang dilukis oleh seorang pelukis handal. Gradual, bulan merangkak ke singgasananya yang agung, menerangi seluruh penjuru belahan bumi, secercah cahayanya menggores pada jendela di salah satu bangunan mewah kediaman seorang daimyō yang lokasinya dekat dengan laut. Hamparan laut dan debur ombak mendominasi, namun ada peristiwa yang luput dari perhatian sang penguasa laut, guratan tersebut nyatanya mengenai daun jendela pada bangunan utama. Temaram penerangannya memperelok bangunan utama rumah yang luasnya menyerupai Istana Heian di Heian-kyō.
Bergaya shinden-zukuri, rumah itu tak jauh berbeda dengan tempat tinggal mewah para petinggi klan yang begitu dihormati maupun bangsawan lainnya. Terdapat lorong-lorong beratap dan berlantai kayu yang terhubung satu sama lain untuk menuju bangunan utama dengan penyangga-penyangga berjajar rapi menahan beban genting yang membentang. Sepanjang koridor yang menghadap langsung pada kolam buatan nan asri, nampaklah deretan shoji menjadi penyekat antara dalam ruangan dan dunia luar. Garukan cahaya sang penguasa malam perlahan mengetuk, meminta izin pada si pemilik takdir untuk membelainya dengan kehangatan.
Tok Tok Tok Tok Tok Tok
Suara abstrak terekam dari balik jendela salah satu kamar yang tertutup rapat, sedang desau angin di luar memperburuk keadaan, teredam untuk sesaat. Ketukan perlahan itu kini terdengar seperti sebuah gedor paksaan yang ingin membuka jalan takdir, tirai yang menjadi penghalang mulai berkibar tak beraturan. Pada awalnya hanya terasa seperti desahan sang pawana, akhirnya menjelma sebagai angin malam yang memaksa masuk ke dalam kamar ‘tuk menyaksikan apa yang akan terjadi pada malam ini, dan ia terus berupaya menerobos melalui celah yang ada.
Tok Tok Tok
Brakk!
Tunduk, jendela yang tak mampu menahan desakan paksa badai akhirnya terbuka lebar, menimbulkan suara yang cukup keras akibat berbenturan dengan kokohnya dinding. Ia yang sedari tadi tak sabar, kini memantau apa yang terjadi bak saksi bisu. Kelambu berbisik dan bergoyang penuh kuriositas membawa hawa dingin, menampilkan seorang gadis tengah tidur dengan nyaman, tak ada tanda-tanda terusik. Kimono berwarna hitam dan selimut berwarna putih tulang bermotif bulan-matahari bersatu dalam satu lingkaran disertai lidah api yang bertekat benang keemasaan menyelimutinya.