PART 1 - Gudang sekolah

1.3K 19 2
                                        

Bunyi siulan di gedung tak terpakai di sekolah itu terus berbunyi sejak tadi. Bunyi siulan yang berirama, asap rokok yang mengepul di udara, suara tawa juga suara memohon mengisi gedung itu.

Sela-salah satu yang ada di gedung itu menatap memohon agar dirinya segera di bebaskan. Semenjak pulang sekolah hingga kini menjelang sore, Sela di tahan oleh beberapa orang. Kondisi Sela sangat berantakan. Dahinya berdarah, tangannya terdapat beberapa lebam, rambutnya acak-acakan, juga kakinya sedang di injak oleh salah satu orang yang ada di sana.

Intan Valencia-cewek populer di sekolahnya. Memiliki otak yang pintar, kulit putih mulus, selalu memakai bando dan memiliki senyuman yang manis. Dia sedang duduk di meja dengan tongkat bisbol tergeletak di sampingnya. Cewek itu melipat kedua tangannya di dada. Mulutnya terus bersiul dan sesekali tersenyum. Melihat Sela memohon seperti itu, membuatnya semakin tersenyum lebar.

Intan, Rindi juga Tomi adalah pelaku yang menahan Sela di gedung sekolah itu. Bibir ketiganya terangkat lebar, tertawa mendengar tangisan Sela.

Tomi Logandra-cowok yang memakai seragamnya tidak pernah rapi, satu-satunya murid yang berambut merah itu berjongkok, menyejajarkan kepalanya dengan Sela. Cowok itu mengalihkan rokoknya ke mulut Sela kemudian berdecih melihat Sela langsung memohon padanya. Kepala Sela terus bergerak ke kanan kiri dan kedua tangan yang bergerak memohon ampunan.

"Ah sial!" rokok itu jatuh. Tomi langsung menggeplak kepala Sela dengan tas sekolah Sela cukup keras. "Itu rokok terakhir gue anjing!"

Rindi Junista-cewek yang memiliki kulit agak kegelapan juga memiliki muka judes sedang menginjak kaki Sela, menatap Intan dan Tomi. "Gue apain lagi nih anak?"

Siulan Intan terhenti. Tangannya menggenggam tongkat bisbol lalu di tatap tongkat bisbol itu bergantian dengan wajah pucat Sela. Intan memiringkan kepalanya menatap Sela sambil tersenyum manis.

"Hai Sela." Sapa Intan akrab. Dia turun dari meja itu lalu mendekati Sela. Tongkat bisbol itu dia arahkan ke dagu Sela begitu Tomi menjauh. Sela menangis, terus memohon ampunan. "Lo mau nyobain ini? Gue baru beli, lo pasti suka."

Sela yang tahu arah tujuan ucapan Intan langsung menggeleng keras. "L-lepasin gue Intan, lepasin gue." Nada suara itu penuh harap juga takut-takut. "Gue mohon...."

BUK!

Intan langsung memukulkan tongkat bisbol itu ke perut Sela dengan keras. Tatapan Intan yang tadinya terlihat biasa kali ini sepenuhnya berbeda. Sorot mata Intan yang indah kini dipenuhi kebencian. "Gue bilang jangan ngomong anjing!"

Rindi langsung menjauh saat Intan kembali memukulkan tongkat bisbol itu ke perut Sela. Mendengar rintihan Sela, Intan tetap memukulinya dengan bisbol. Intan masih kesal karena telinganya mendengar suara Sela.

Tawa Tomi terdengar, langsung saja cowok itu merekam kejadian yang sedang berlangsung yang menurutnya seru.

Tongkat bisbol itu Intan buang. Dia menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia tidak boleh gegabah, tidak boleh lepas kendali meski rasanya ingin menghabisi Sela sudah di ujung tanduk.

Intan kembali duduk di atas meja dengan napas yang belum normal, dengan emosi yang masih menguasai perasaannya. "Sean ke mana, sih, lama banget? Rin, lo urus dia."

Rindi langsung semangat mendekati Sela. Sela menjadi sasaran empuk untuk pukulan tangannya. Pipinya di tampar, perutnya di tendang, rambutnya di jambak dengan kasar. Tiada ampun bagi Sela. Rindi menyiksanya tanpa merasa bersalah.

I Hope.... Where stories live. Discover now