satu

138 11 3
                                        

Matanya perih.

Seokjin masih ingin tidur. Dia sendiri sebenarnya selalu tidur, bangun tidak lebih untuk melakukan urusan kamar mandi dan minum sebelum menghabiskan sisa hari(-hari)nya untuk tidur lagi.

Akhir-akhir ini, dia baru sadar bahwa lebih mudah untuk tidur daripada terjaga, tanpa pikirannya yang aktif dan berjalan-jalan entah ke mana. Matanya berat dan perih dan tenggorokannya sakit. Karena inilah dia tidak suka menjadi terjaga untuk waktu yang terlalu lama.

Dia tidak melakukan apapun lebih dari memandangi langit-langit putih, tangan di atas perut, terus-terusan tiduran di atas kasur yang terlalu besar untuknya sendirian.

"Oh...," ia bersuara, kemudian mengerjap ketika mendengar suara seraknya sendiri. Dia bangun terduduk dan melihat ke sebelahnya, baru sadar tempat air putihnya kosong.

Biasanya Seokjin hanya akan tidur lagi, lalu bangun nanti-nanti untuk mengumpulkan niat dan membawa air putih banyak-banyak dan menaruhnya di meja sebelah tempat tidur. Namun hari ini, untuk alasan yang dia sendiri tidak ketahui, dia memutuskan untuk tetap terjaga. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, kering karena kurang perawatan, lalu pergi untuk mengambil air. Dia tersenyum sendiri sambil mengisi air.

Benar juga. Semalam mimpinya indah. Tentang seorang laki-laki. Memeluknya dan menggenggam tangannya. Memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hal itu akan menjadi satu-satunya hal yang membuatnya bahagia untuk seharian. Itu bukan hal besar, tapi cukup.

Seokjin hampir menjatuhkan kendi airnya ketika ia berbalik badan dan menemukan seseorang jongkok di sana, badan tertutup pintu kulkas yang sedang terbuka.

Jeongguk berdiri dan menutup pintu kulkas itu.

"Aku sudah isi kulkasmu dengan belanjaan," ujar Jeongguk. "Lebih tepatnya makanan cepat saji yang tinggal dihangatkan. Sama-sama."

Seokjin hampir membuka mulutnya, namun Jeongguk memotongnya, "Ibu menyuruhku untuk memastikan kalau hyung setidaknya masih bernafas." Jeongguk melempar sebuah map ke atas meja dapur, kertas-kertas bertumpahan tanpa berjatuhan ke lantai. "Dan hyung tidak datang ke sesi terapi dengan dokter Kim. Hyung hanya bertemu dengannya sekali saja. Kapan terakhir kali hyung makan dengan benar?"

Muak.

Seokjin berbalik, cepat-cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Dia mendengar suara Jeongguk, frustrasi. "Hyung! Kami cemas padamu!"
Dia tidak seharusnya membiarkan Jeongguk memegang kunci rumahnya, pikir Seokjin sambil menutup pintu kamarnya, menghalangi suara Jeongguk yang memanggil-manggil dirinya. Dia menaruh teko airnya di atas meja samping tempat tidur dan naik ke kasur.

Kesenangannya hari ini berakhir begitu saja.

"Hyung."

Seokjin tersentak. Dia menenggelamkan dirinya di balik selimut, mencengkeramnya kuat-kuat ketika Jeongguk memanggilnya sekali lagi dari balik pintu kamar.

"Hyung," adiknya memanggil dirinya sekali lagi. "Kami cemas padamu, selalu menolak kembali ke Seoul dan tidak membiarkan seorangpun mengurusmu."
Kalau begitu ya jangan datang, pikir Seokjin.

"Sudah tiga bulan."

Seokjin tahu itu. Bagaimana bisa dia tidak tahu?

Bagaimana bisa dia lupa?

"Dia tidak akan senang melihatmu seperti itu."

Stop, Seokjin ingin sekali berkata begitu.

"Jaehwan-hyung tidak akan bisa beristirahat dengan tenang."

Seokjin menjerit, tangisannya mengalir bersama dengan bentakannya.

-0-0-

Waktu itu, Seokjin tersenyum, dan orang itu membalas senyumnya.
Acara itu hanyalah upacara kecil-kecilan di sebuah gedung yang disewa di tengah-tengah Gangnam, dan mereka juga sudah mengenakan cincin mereka sejak berminggu-minggu lalu setelah meresmikan pernikahan mereka di Amerika. Bagaimanapun, mereka menikmati semuanya di sana. Ada orangtua mereka yang sudah merestui, teman-teman yang setia, dan rekan mereka yang tidak bermulut ember soal ini di tengah-tengah masyarakat yang tak mengenal ampun untuk hubungan seperti milik mereka.

Di sanalah Lee Jaehwan, tampak luar biasa, lebih gagah dari biasanya, dan wajahnya juga cerah. Rambutnya ditata, tuksedo putihnya juga. Seringkali ia berdiri dekat dengan Seokjin, berbicara dengan orang-orang kesukaan Seokjin sambil mengenakan senyum kesukaan Seokjin, mata berkerut membentuk bulan sabit dan giginya dipamerkan, wajahnya seperti rupa anak-anak dan tulang wajah tajam yang bersatu padu.

Jaehwan menoleh pada Seokjin, lalu diberikannya seluruh perhatiannya. Dengan lembut, ia menawarkan tangannya, dan Seokjin menyambutnya. Mereka melewati pintu-pintu yang terbuka lebar, terhubung ke taman yang sudah didekorasi dengan indah. Di tengah taman, di atas platform pendek di sana, mereka berdansa waltz. Tidak satupun dari mereka menguasainya, dan bahkan mereka seringkali menginjak kaki satu sama lain, namun yang mereka lakukan hanyalah tertawa dan terus menari.

Hujan mengguyur tak lama setelahnya. Orang tua mereka tertawa dan menyuruh semuanya untuk kembali masuk ke dalam aula. Seokjin hendak melakukan demikian, sampai sepasang tangan mengangkatnya, dan Jaehwan menciumnya saat dia berada di gendongan tangannya. Mereka terkekeh geli sebelum Seokjin membalas ciumannya.

-0-0-

Jeongguk sudah pergi begitu matahari mulai terbenam. Seokjin sudah pastikan adiknya sudah tidak ada di rumahnya sebelum dia pergi ke ruangan kecil di lantai dua, tepat di ujung lorong kamarnya. Tidak ada banyak furnitur di dalam ruangan tersebut, hanya sebuah meja yang menyerupai altar dengan beberapa persembahan, bunga layu, dan potret seorang pria yang sangat Seokjin cintai dengan bingkai hitam.

Seokjin duduk di lantai, di seberang altar. Ditatapnya foto Lee Jaehwan dengan senyum kesayangannya - cerah, gigi dipamerkan, mata bulan sabit, dan penuh kebahagiaan. Dia memeluk kakinya sendiri, membalas senyuman itu, lalu bersandar dan menutup matanya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia pelan-pelan tertidur.


Malam itu, Seokjin bermimpi tentang galaksi bimasakti, tentang bintang-bintang yang berkedip dan yang jatuh dan yang sangat sulit dijangkau.


Dua hari kemudian, teko airnya kosong lagi.
Seokjin baru saja bangun satu jam yang lalu. Dia bengong sambil mengunyah energy bar yang mungkin menjadi satu-satunya makanan yang masuk ke perutnya selama dua hari terakhir. Dia bahkan tidak tahu apa persediaannya masih banyak. Dia bertanya-tanya apakah dia harus berterima kasih pada Jeongguk yang sudah menimbun banyak makanan di rumahnya.

Seokjin membuang sampah dan membawa teko air tersebut ke lantai bawah. Sambil merasa penasaran apakah tenggorokannya bisa sembuh hanya dengan air. Bukannya dia peduli, sih.

Dia toh sudah tidak pernah berbicara dengan seorangpun lagi.

Namun, sepertinya Seokjin punya tamu lagi. Dari aula, dia bisa mendengar seseorang mengobrak-abrik dapurnya. Dasar Jeongguk keras kepala, pikirnya. Setengah dari Seokjin bertanya-tanya mengapa Jeongguk datang hari ini, karena anak itu biasanya hanya berkunjung sesekali. Sesuai dugaannya, Jeongguk sedang berlutut di balik pintu kulkas yang terbuka.

Namun itu bukan Jeongguk.

Sosok itu menutup pintu dan mulai memeriksa lemari pembeku. Dia cemberut ketika dia terlihat seperti tidak menemukan apa yang dia cari.

Seokjin tidak bisa melupakan wajah itu. Profil samping itu. Sosok yang tinggi kurus itu.

"Jaehwan?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 25, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Akhirnya, Kita Pulang Stories to obsess over. Discover now