Bugh!
Satu pukulan.
Bugh!
Dua pukulan.
Bugh!
Tiga pukulan.
Setelah tiga pukulan—ah, sebenarnya bukan tiga pukulan, dia melepaskan lawanya yang sudah tak berdaya. Cowok itu mengatur napas yang terengah dengan mata terpejam sejenak. Suara ribut di sekelilingnya tak menganggu sama sekali walaupun didominasi oleh suara umpatan dan pukulan yang tak kalah keras.
Lalu matanya mengedar. "Anjing!"
Detik selanjutnya berlari.
Mana mungkin dia diam saja saat seseorang dengan seragam berbeda dengannya sudah siap mengangkat satu balok kayu tepat di belakang temannya yang sibuk menghajar habis siswa lain.
Dalam satu tendangan, kayu di tangan orang itu terjatuh. Pukulan tak segan-segan dilayangkan berkali-kali hingga yang dipukul tak berdaya.
Entah sudah berapa banyak orang yang cowok itu pukul habis. Tapi yang jelas kilat tajam dimatanya seolah tak pernah merasa puas dengan seberapa banyak pun orang yang dia pukul. Rasanya dia ingin menghabisi semua lawannya sekarang. Tidak peduli dengan wajahnya yang babak belur.
"Bin, anjing lah, gak seru amat ni tawuran! Anak buah Hugo lemah-lemah, mana kebanyakan anak kelas 10 lagi!" Jeve menggerutu pada Bintang setelah selesai dengan urusannya. Wajahnya tak jauh beda dengan Bintang, malah mungkin lebih banyak lebam di wajah Jeve.
Cowok dengan baju seragam putihnya yang terbuka dan menampakan kaos hitam polosnya itu, Bintang, lagi-lagi melempar lawannya yang sudah tak berdaya begitu saja ke atas aspal. Dan menyeka darah di sudut bibirnya sebelum berkata dengan songong ala Bintang, "yang kuat-kuat udah gua habisinlah!"
Jeve jelas mendengus, tapi tak merespon banyak karena memang hanya Bintang yang bisa seperti itu.
"Anjing!" Refleks, Jeve menendang dan menghantam seseorang yang tiba-tiba menerjangnya. Cowok itu menarik tubuhnya setelah berhasil menghabisi lawannya dan kembali ke samping Bintang yang sedang memandang dan memainkan tangannya yang penuh gores.
Bintang menarik satu sudut bibirnya. "Bagus, refleks lu makin bagus." Katanya pada Jeve.
"Hah! Gitu doang bukan apa-apa!" Kata Jeve sombong, dengan nada yang bikin orang ingin sekali menggeplak kepalanya. Bintang bisa saja melakukannya, tapi dalam keadaan seperti ini, itu bukan hal yang bagus apalagi melihat Jeve yang penuh lebam seperti itu.
Tak lama setelahnya, Jeve terkekeh mengedarkan pandangan. "Seperti biasa, putih abu menang dari putih cokelat."
Bukan tanpa alasan Jeve berkata begitu. Dilihat dari keadaan sekitar, siswa dengan baju putih dan celana coklat—seragam sekolah swasta musuh bebuyutan sekolah Bintang juga Jeve— lebih banyak yang tergeletak, ah, semuanya sudah Bintang dan teman-temannya habisi dan tidak ada tanda mereka akan menyerang lagi. Keadaan dari kubu Bintang sendiri hanya satu sampai lima orang saja yang benar-benar ambruk dan sisanya hanya lebam-lebam biasa. Iya, biasa.
Kalau sudah begini, jelas, putih-abu akan selalu menang dari putih cokelat.
"Nyet, cabut gak nih? Si cokelat udah abis."
Bintang menoleh pada Arse yang meminta persetujuan Bintang untuk membubarkan pasukannya.
Iya, cuma Bintang yang bisa membubarkan mereka.
"Si Hugo bener gak ikut tawur?" Tanya Bintang kemudian, menyebutkan salah satu orang yang bisa disebut posisinya sama dengan Bintang dari kubu sekolah tetangga.
STAI LEGGENDO
aphelion
Fanfiction-Aphelion; •°•°•°•°•°•°•°•° Aya harus tetap berada pada garis terjauh dari mataharinya karena ia tidak bisa menentang takdir. °•°•°•°•°•°•°•°• Ft. Choi Soobin&Hwang Yeji Story by: jthings
