Matahari pagi menyinari kota dengan sinar keemasan yang hangat, membangkitkan hiruk-pikuk kehidupan di ibu kota Jawa. Jalanan segera dipenuhi deretan mobil, truk, bus, dan sepeda motor yang saling bersenggolan, sementara asap knalpot menyelimuti udara, menambah derita panas tropis. Macet, banjir, dan kejahatan—itulah menu sehari-hari di setiap metropolis, tak terkecuali di sini. Bagi kami, anak desa, kota ini adalah tanah harapan, tempat mengadu nasib. Banyak yang datang dengan mimpi kehidupan lebih baik, dan memang ada yang meraihnya, meski tak sedikit pula yang terpuruk.
Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di ibu kota. Panas, itulah kesan pertama yang membekas. Kota atlas ini menjadi panggung awalku menorehkan takdir. Mungkin terdengar klise bagi seorang gadis desa seperti ku, tapi lolos ke universitas negeri adalah prestasi yang patut dibanggakan. Kebanyakan anak kampung seperti kami terpaksa memilih kampus swasta, alasannya seperti pada umumnya terhambat biaya atau nilai rapor. Meski lebih sering karena uang, apalagi bagi perempuan—tak jarang nasib mereka berujung pada pernikahan dini dengan lelaki jauh lebih tua, atau yang lebih kelam, menjadi istri kedua, ketiga, bahkan keempat.
Aku termasuk yang beruntung sebagai perempuan dari desa. Beberapa sahabatku menjadi korban pola pikir kolot itu: perempuan hanyalah pendukung, bukan pelopor perubahan. Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka; kemiskinan dan tradisi menajamkan pandangan sempit itu. Akhirnya, hanya tersisa gumaman pasrah, "Sudahlah, itulah takdir mereka."
Aku sendiri tak pernah membayangkan bisa lolos Universitas tanpa tes masuk. Kaget dan tak percaya adalah satu-satunya kata yang terucap saat membuka pengumuman di ponsel. Keluarga langsung riuh kegirangan. Seminggu kemudian, mereka menggelar syukuran sederhana. Malam itu, tawa memenuhi ruang keluarga kami—suara hangat yang sudah lama tak kurasakan. Bapak selalu sibuk di ladang, kakak merantau dan jarang pulang sedangkan ibuk seorang ibu rumahtangga yang super sibuk dengan pekerjaan rumah. Momen kebersamaan seperti malam itu tak tergantikan, seperti kata pepatah dari kartun pagi yang dulu sering kutonton: Tak ada rumah seperti rumah sendiri.
"Mbak, mau beli stopmap?" tanya seorang ibu penjual alat tulis di pinggir jalan.
"Oh, iya Bu, terima kasih. Saya sudah punya."
Akhirnya, kakiku menyentuh gerbang Universitas. Aku harus sungguh-sungguh agar layak menyandang gelar sarjana. Semangatku membuncah. Pandanganku menyapu sekeliling tanpa terkecuali. Ternyata, banyak calon mahasiswa baru seperti aku yang didampingi keluarga. Aku bukan satu-satunya.
Proses verifikasi berlangsung lancar, ditemani orang tuaku. Sebenarnya pilihan Universitas ini bukan tanpa alasan—kakakku bekerja di kota ini. Saat uang saku menipis, aku bisa mengandalkannya. Hehe, modus khas adik perempuan. Mengapa tidak? Dia pun dulu sering mengandalku. Kini, giliranku memanfaatkan saudara.
YOU ARE READING
Puncak
RomanceBanyak orang yang sudah mengatakan "Hargailah sesuatu, karena pada saat suseatu itu pergi hanya ada penyesalan yang ada". Cinta seseorang yang tulus tidak harus terlihat. Tangisan yang mengisi setiap malam. Rindu yang datang mengiris hati. Dan kena...
