Hujan pada awal Januari ini terasa sangat berbeda seperti hujan-hujan pada biasanya, entah mengapa hujan hari ini begitu gelap, dingin dan suram. Aku sangat menyukainya karena hujan ini seakan sedang menggambarkan kondisiku yang kedinginan, dan berada pada kegelapan penjara. Di dalam ruangan sempit ini aku dibelenggu dengan selang infus, alat bantu oksigen dan juga aku dipaksa untuk menelan berbagai obat yang begitu pahitnya membuat lidahku mati rasa. Ya! Penjara itu adalah rumahsakit.
Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, sendirian dan tak tau siapa yang harus kusalahkan. Dokter, Orangtuaku, atau Tuhan? Aku tak tau, yang jelas aku ingin segera bebas dari kurungan menyedihkan ini, entah itu sembuh ataupun dengan mati.
Aku sangat ingin untuk keluar dari ruangan menyedihkan itu. Perlahan kulepaskan paksa infus dan alat bantu oksigenku, dengan tertatih aku mulai berjalan menuju pintu. Tetapi aku berhenti dan mengurungkan niatku untuk membuka pintu. Dari balik pintu itu aku dapat mendengar suara dua orang yang berdebat, yang perempuan berbicara sambil menangis, dan yang laki-laki berteriak dengan nada marah. Dari suara mereka berdua aku tau mereka adalah orang tuaku.
Aku hanya menangis, tak tau harus bagaimana. Ini semua adalah salahku mungkin memang takdirku seperti ini, bukan salah Dokter, Orangtuaku, maupun Tuhan.
Tiba-tiba pintu kamar rumahsakit itu dibuka, sontak mengagetkanku, dan dengan reflek aku menghapus air mataku. Kemudian aku melihat wajah ayahku dari balik pintu itu, wajahnya merah dan berteriak dengan sangat marah, tetapi anehnya aku tak dapat mendengar apa yang ia ucapkan. Aku juga melihat tangan ayahku yang hendak meninjuku, tetapi entah mengapa saat itu aku aku merasa pergerakan tangan ayahku menjadi lambat bagai video yang diberi efek slowmotion. Aku tak bisa menghindar, dan aku tak bisa bergerak sedikitpun.
Kring.....!!! suara handponeku berdering, tiba-tiba membangunkanku dari tidurku. Kemudian aku melihat tangan kiriku ternyata infusnya masih terpasang, dan alat bantu oksigennya juga masih rapi di bawah hidungku. Aku terdiam beberapa saat dan mencoba mengingat mimpi yang baru saja ku alami, dan aku sangat bersyukur kalau semua itu hanya mimpi.
Kring.....!!! handponeku berdering lagi dan seketika membuyarkan lamunanku. Kulihat di layar dan ternyata itu ibuku. Dan aku slide ke atas ikon telepone hijau di layar untuk mengangkat panggilan ibuku.
'Hallo nak, bagaimana keadaanmu?' tanya wanita paruh baya itu.
"Aku baik-baik saja, hanya saja dokter memintaku untuk beristirahat" jawabku.
'Maafkan ibu nak bahkan sekarang ibu tak bisa menemanimu' ucapnya sambil menangis.
Aku terdiam untuk beberapa saat, dan akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan ibuku dengan tangisnya.
"Sudahlah bu, ibu tak perlu memikirkan hal itu lagi. Lagian aku disini juga baik-baik saja, jadi ibu tak perlu khawatir" ucapku
'Baiklah kalau begitu, ibu akan melanjutkan pekerjaan ibu' jawabnya.
"Ya sampai nanti"
Aku kembali terdiam sejenak, entah apa sebenarnya yang ku lamunkan tapi rasanya dada ini begitu sesak dan sakit.
Tok, tok, tok... suara ketukkan pintu seketika menyadarkanku dari lamunan kosongku. Ternyata orang yang mengetuk pintu tersebut adalah salah satu suster di rumah sakit ini, ia sempat berbincang bincang denganku sebentar kamudian suter itu melepaskan alat bantu oksigen yang menempel di bawah hidungku.
"Hey hari ini cerah kenapa kamu tidak mencoba untuk jalan-jalan sebentar"ucap suster itu.
"Hmmm ide itu sepertinya cukup bagus"jawabku singkat.
Kemudian setelah suster itu selesai mengecek kondisiku ia pun berpamitan kemudian pergi meninggalkan ruanganku.
***
Namaku Arga Adi Putera, 16 tahun, kelas 10 di SMA Negeri 1 Harapan Bangsa. Sudah lima hari ini aku absen, karena harus dirawat intensif di rumahsakit karena penyakitku ini. Padahal aku berharap kehidupan SMAku akan lebih baik daripada saat aku SMP, tapi takdir berkata lain. Sepertinya aku akan sendirian lagi baik itu di sekolah maupun di manapun.
Hari ini ternyata cerah, nampak angkasa berwarna biru muda dan hanya sedikit terlihat gumpalan awan yang berwarna putih bersih. Kondisi ini jelas berbeda 180 derajat dari mimpiku yang barusan ku alami. Oleh karena itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sembari menghilangkan sedikit rasa jenuhku. Dengan menggunkan pakaian rumah sakit yang masih kusut dan rambut acak-acakan, aku berjalan menuju tangga. Aku berencana untuk ke atap, karena disana sepi dan suasananya juga nyaman untukku yang seorang penyendiri.
Sesampainya di atap, aku sedikit terkejut karena jarang sekali ada orang di atap rumah sakit ini terlebih lagi seorang gadis dengan seragam SMA yang tak asing bagiku. Dia tiba-tiba menoleh ke arahku, rambutnya yang hitam dan panjang itu bergelombang tertiup hembusan angin, sedangkan matanya yang juga berwarna hitam gelap juga menarik perhatianku.
Cantik. Ya itulah kesan pertamaku saat bertemu denganya.
YOU ARE READING
Jantung
Teen FictionSinopsis Angin sepoi-sepoi yang menerpa kami di atap gedung rumahsakit hari ini, entah mengapa begitu nyaman kurasakan. Seakan segala beban di dalam diriku sudah terlepas dan terbawa hembusan angin tadi. Kami berdua mendadak dilanda kesunyian tanpa...
