Kepindahan Gwenny kembali ke Bangkok membawanya bertemu dengan Joy, Tan, Peter, Bian, Nick, dan Gun. Mereka bersekolah di tempat yang sama, sekolah yang terkenal dengan prestasi yang sangat bagus. Namun, tidak semua dari mereka yang senang bersekola...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hari ini sudah genap dua minggu semenjak Gwenny pindah kembali ke Bangkok. Ia pernah menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 12 tahun di Bangkok, lalu pindah ke Indonesia karena Ayahnya yang bernama Khun Suchart pindah tugas ke sana, tepatnya di kota Bandung. Kota kelahiran ibunya yang bernama Khun Irene. Dan sekarang, ia harus pindah lagi ke Bangkok, karena Khun Suchart kembali pindah tugas ke Bangkok.
Banyak hal yang membuatnya sedih karena harus meninggalkan Bandung. Kenangan di kota itu begitu banyak, meskipun baru empat tahun ia tinggal di sana, ia memiliki banyak teman beserta dengan kisah-kisah indah yang mereka lalui bersama.
Hal itu membuat air matanya menggenang saat harus pindah kembali ke Bangkok. Bukan dia tidak menyukai Bangkok, hanya saja kenangannya semasa di Bandung membuatnya ingin tinggal lebih lama di sana.
Sejujurnya dia juga menyukai Bangkok. Bukan kenangan di sini, tetapi negara di mana kota ini bertempat, yaitu Thailand. Dia suka menonton series serta film Thailand semasa dia berada di Indonesia. Ya, terkadang dia juga merindukan negara ini saat menonton series dan film-film itu.
Tidak ada yang membuatnya kesal selama dua minggu ini, hari-hari sekolahnya berjalan baik. Meski terkadang ia lupa beberapa kosa kata dalam bahasa Thailand karena sudah terlalu lama meninggalkan negara ini dan jarang latihan, tetapi itu tidak menyulitkannya karena toh ia bisa melihat di google translate dan teman barunya yang bernama Joy tidak keberatan untuk selalu membenarkan perkataannya jika google translate salah menerjemahkan.
Dugh
Suara keras itu diikuti ringisan pedih seorang gadis di sebelah Gwenny.
"Aw." Gadis itu meringis sambil memegang kepalanya yang baru saja terkena bola. Kepalanya terasa sedikit pusing dan itu benar-benar sakit.
"Astaga, Joy!" seru Gwenny sambil memegang pundak temannya itu. Gadis yang terkena lemparan bola itu adalah Joy.
Mereka tengah duduk di tribun dan melihat beberapa siswa di Ratchada School bermain sepak bola saat jam istirahat berlangsung.
"Hey, Joy, cepat ambilkan bolanya! Kenapa lama sekali!" teriak seorang siswa yang berdiri di lapangan seraya menampilkan wajah kesalnya ke arah Gwenny dan Joy.
Joy yang masih meringis berusaha bergerak untuk mengambil bola itu. Berbeda dengan Gwenny yang seakan kesal dengan tingkah semena-mena siswa itu. Ia menahan tangan Joy dan membuat gadis itu terduduk kembali.
"Hey, kau apalagi?!"
"Arai kha?! Ke sini kalau ingin mengambilnya. Kau yang menendang bola itu ke sini," omel Gwenny balas memandang siswa itu dengan wajah geram. Enak saja. Gayanya seperti sok bos. Memangnya dia siapa, mereka sama sama menjabat sebagai siswa di sini.
"Hey, bodoh! Apa susahnya tinggal menendang bola itu ke sini?" sahut siswa itu dengan wajah semakin kesal.
Seorang siswa lain yang sejak tadi berada di belakang siswa yang mengumpat tidak jelas itu maju, ia menahan lengan temannya sebentar seakan tidak ingin memperpanjang perdebatan ini, kemudian berjalan ke arah Gwenny dan Joy.
"Maafkan temanku, mungkin moodnya sedang tidak bagus."
"Siapa yang peduli dengan moodnya? Memangnya dia pikir dia saja yang moodnya tidak bagus? Tolong ajari temanmu itu sopan santun. Dia bahkan tidak meminta maaf padahal bola itu mengenai kepala temanku dan menyakitinya. Bilang padanya, jika ingin meminta tolong pada orang lain, dia tidak boleh berteriak seperti itu. Itu sama sekali tidak membuatnya keren. Terlihat sok bos," cerocos Gwenny.
Cerocosan itu didengarkan oleh siswa yang tadi berniat mengambil bola itu dengan wajah seakan menerima apa saja yang hendak dikatakan Gwenny padanya.
"Ayo pergi, Joy." Gwenny segera menarik tangan Joy dan meninggalkan tempat itu.
Mereka segera berjalan menuju kelas. Menunggu bel masuk berbunyi dengan duduk di kelas saat ini mungkin adalah hal terbaik untuk dilakukan. Gwenny masih sangat kesal dengan siswa tadi. Ia tidak suka disuruh-suruh orang lain dengan cara seperti itu. Benar-benar mengesalkan! Rasanya ia benar-benar ingin menendang balik bola itu kalau saja temannya tidak cepat-cepat mengambil dan meminta maaf.
"Kau tau siapa siswa itu, Joy? Dia sepertinya mengenalmu karena tadi dia memanggil namamu," tanya Gwenny sambil mengeluarkan beberapa buku yang dibutuhkan untuk pelajaran selanjutnya yaitu bahasa Inggris.
"Chai, yang memintaku mengambil bola adalah Bian, dan yang meminta maaf tadi adalah Tan. Mereka sebenarnya adalah teman sekelas kita," jelas Joy.
Gwenny mengernyitkan alis dan memasang wajah bingung. "Teman sekelas kita? Aku sudah belajar dua minggu di sini, tapi tidak pernah melihat mereka. Memangnya mereka duduk di mana?"
"Ya, selama itu juga mereka tidak masuk ke kelas."
"Astaga, mereka memang gila, ya!" seru Gwenny. "Apa mereka tidak terkena masalah karena itu?"
"Sebenarnya mereka sering membuat masalah, memang tidak terlalu besar. Dan sebenarnya mereka itu baru saja dihukum skorsing selama tiga hari, karena memukul guru."
"Benar-benar gila, apa mereka memang tidak punya otak?" cetus Gwenny.
"Sejujurnya aku rasa, sebenarnya terkadang itu bukan salah mereka, maksudnya, yah, terkadang aku merasa senang mereka melakukan pemberontakan."
"Hah? Kenapa bisa begitu?"
"Karena sekolah ini memang tidak adil, Gwenn."
"Hah? Kenapa bisa begitu?" Gwenny bertanya dengan kata-kata yang sama.
"Nanti kau juga akan mengetahuinya sendiri."
Gwenny baru saja ingin bertanya lebih lanjut mengenai hal ini. Mengenai apa yang membuat Joy seakan mendukung dua siswa itu dan berpikiran bahwa dua siswa itu tidak salah, lalu tiba-tiba mengatakan sekolah ini tidak adil, dan mengatakan bahwa Gwenny akan mengetahuinya sendiri?
Apa yang sebenarnya tidak ia ketahui? Yang ia tahu, sekolah ini adalah sekolah yang bagus, bahkan banyak alumni dari sekolah ini masuk ke perguruan tinggi top, dan ia sendiri sangat senang diterima menjadi murid baru di sini.
Tetapi, belum lagi ia menyampaikan pertanyaannya guru Jane memasuki kelas dengan senyum merekah.
"Hello, class!" sapanya bersemangat.
Sepertinya Gwenny harus menyimpan rasa penasarannya saat ini. Entah ia akan bertanya lebih lanjut tentang hal ini pada Joy nantinya, atau akan menganggap ini adalah sebuah teka-teki yang harus ia pecahkan sendiri.[]
*Arai : Apa *Chai : Ya *Kha/Khab : Partikel yang biasa terletak di akhir. Penggunaan kha (pr) khab (lk)