1 - Awal

31 2 1
                                        

Seorang wanita sedang berjalan seorang diri memasuki sebuah restoran seafood. Dengan mengenakan gamis dan jilbab serta tak lupa tas punggung yang sederhana namun tampak elegant.

Setelah mencari tempat yang pas untuknya, ia langsung duduk dan memesan. setelah itu ia memasangkan earphone dan membuka kembali novelnya.

Tak lama kemudian, ada seorang lelaki yang juga memasuki restoran tersebut. Ia langsung menuju ke ruangan yang khusus untuk seluruh pegawai yang bekerja disana.

"Bagaimana Pak Dhani? Sejauh ini ada kendala apa?"

"Tidak ada mas. Semuanya baik-baik saja. Pemasukanpun semakin membesar daripada sebelumnya."

"Wah! Terimakasih banyak pak sudah membantu saya dalam menghandle restoran ini selama saya sibuk sekolah." Lelaki itu tersenyum sopan.

"Sudah menjadi tugas saya mas. Lagian Mas Andra tu kok kayak sama siapa saja to mas." Dengan logatnya yang medok, lelaki paruh baya itu membalas senyuman Andra.

Lalu setelah berbincang-bincang cukup lama, Andra berpamitan untuk pulang. Namun saat hendak keluar dari ruang karyawan, ia dikagetkan oleh seorang wanita dengan pakian muslimah yang sepertinya hendak ke toilet.

"Maaf mas, saya tidak sengaja. Saya hanya ingin ke toilet." Ucap wanita itu dengan pandangan ke bawah.

"Tidak apa-apa. Saya hanya terkejut. Saya pergi dulu." Dengan wajah yang bingung, Andra langsung meninggalkan tempat itu.

••••

"Lo tau sendirikan kalo gue suka banget sama gunung." Ucap lelaki dengan name tag bertuliskan Devandra Melviano.

"Kepala batu emang! Mending gue ke kantin selagi belum bel. Skuy Ka ke kantin, gue traktir!" Dhani merengkuh pundak Arka dan mengajaknya berlari ke kantin.

Arka dan Dhani berjalan dilorong. Bertepatan dengan itu, mereka bertemu dengan Zulfa—teman kelasnya—yang sedang berjalan dengan seorang wanita dengan seragam putih abu-abu yang longgar dan jilbab warna putih yang hampir menutupi separuh tubuhnya.

"Eh Zulfa!" Arka menyapa lalu melirik seorang yang ada di samping Zulfa dan kemudian bertanya kembali, "Siapa Fa?"

"Oh, ini anak baru. Dia tadi lagi nyari kelas, terus ketemu gue deh. Untung gue anak baik, jadi gue ajakin sekalian." Jelas Zulfa.

"Kenalin nama gue Dhani. Salah satu cowok ganteng di sekolah ini." Dhani menyodorkan tangannya.

"Gue Deya." Tidak membalas jabatan tangan dari Dhani, melainkan ia malah menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Dhani tersenyum kikuk sambil menarik kembali tangannya yang tak mendapat balasan itu.

"Wkwk, ngakak si gue. Tangan lo kenapa Dhan?" Arka dan Zulfa pun tertawa melihat tingkah Dhani.

Setelah berbincang-bincang, Zulfa dan Deya melanjutkan langkahnya untuk sampai di kelas. Deya beruntung, bertemu dengan siswi baik yang ternyata akan menjadi teman sekelasnya.

Setelah sampai di depam kelas, mereka tidak bisa masuk karena dihadang oleh dua lelaki yang diidam-idamkan oleh siswi Bina Harapan ini. Tetapi tidak dengan Zulfa. Dirinya hanya menyukai Arka, teman kelasnya yang tengilnya minta ampun.

"Minggir dong, kita mau lewat ni." Zulfa memotong celah antar kedua lelaki di depannya ini. Alhasil Zulfa dan Deya berhasil memasuki kelasnya.

"Siapa Fa?"

"Siapa Zul? Cantik beut tuh cewe!"

"Wahh cewe bro!"

"Semangat nih gue sama beginian."

Memang sudah menjadi kebiasaan di kelas mereka jika ada siswa atau siswi baru. Friendly.

"Kenalin nih, Deya. Siswa baru pindahan dari Semarang." Jelasnya.

"Hai Deya!" Sapa penghuni kelas itu dengan serentak.

Deya tersenyum, "Hai. Semoga bisa berteman baik dengan kalian."

Semua siswa siswi yang ada di kelas tersebut menyambut kedatangan Deya dengan ramah dan senang hati.

"Lo duduk sama Raina ya Dey, gue udah duduk sama Tiffani. Mereka berdua temen deket gue, jadi santuy aja," ucap Zulfa sambil duduk di bangkunya. Mereka berempat asik mengobrol sampai akhirnya guru pengajarpun datang.

Setelah 3 jam dengan pelajaran Bahasa Prancis, Andra cs langsung menghela nafasnya lega karena terbebas dari amukan Bu Wati.

"Gila sih. Gue mau mati rasanya duduk diem selama 3 jam," ucap Arka melebih-lebihkan.

"Kantin yuk. Laper gue dengerin Bu Wati ngejelasin di depan tapi kaya ngomong sendiri." Andra yang merasa sangat sebal dengan guru satu itu mulai beranjak dari tempat duduknya lalu disusul oleh ketiga temannya.

Saat memasuki kantin, semua tatapan mata langsung tertuju pada mereka berempat. Apalagi kaum hawa yang sangat terpesona dengan ketampanan mereka. Tetapi tidak dengan empat cewek yang duduk di meja dekat kantin pojok. Mereka merasa biasa saja dan tidak seheboh cewek lain di sekolah ini. Siapa sih yang tidak kenal dengan Andra cs? Bahkan sekolah sebelahpun juga mengenalnya.

"Mereka se-terkenal itu?" Tanya Deya terheran-heran.

"Iya Dey. Mereka itu punya aura tersendiri sampe bisa menarik semua kaum hawa." Jawab Raina sambil terus memakan bakso yang telah dipesannya tadi.

"Apalagi si Andra sama Evano Dey. Hampir semua cewek disekolah ini pernah nembak mereka dan hasilnya ditolak mentah-mentah." Tiffani menjelaskan kepada temannya itu.

Saat sedang asik makan, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di samping Andra.

"Hai Ndra!" Sapa orang itu.

—————————————

Jangan lupa pencet tombol ⭐ di pojok kiri.
.
Follow juga biar kalian tau kalau aku up part selanjutnya.
.
.
SEE YOU IN THE NEXT PART

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 12, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DEYANDRAWhere stories live. Discover now