"Si gentong muncul lagi"
"Jangan dekat-dekat, nanti gendutnya nular"
Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, dimana pagiku selalu disambut dengan kata cacian murid-murid disini. Memuakkan. Tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku berjalan menaiki tangga dengan langkah hati-hati sambil menghindari orang-orang yang berada di hadapanku. Namun, belum sampai ke kelas, selalu saja ada yang heboh di depanku.
"Mia datang!!"
"Mia si model itu? yang jadi cover di majalah New Generation?"
"Gila, cantik banget"
Gadis-gadis itu mengerubungi di depan kelasku. Aku benci ini. Ini selalu terjadi setiap saat. Padahal, aku sudah berangkat pagi-pagi. Selalu saja kejadian seperti ini berlangsung di hadapanku. Si Mia itu selalu saja membuat kehebohan disini. Padahal dia biasa saja. Hanya karena beberapa waktu lalu ada seorang staff dari suatu majalah terkenal menawarkan dia untuk menjadi model, sekarang dia malah menjadi lebih terkenal. Aku benci pemandangan ini.
Setelah beberapa saat, kumpulan gadis yang bukan dari kelasku dibubarkan oleh wali kelasku, akhirnya, aku bisa masuk kelas. Aku benci kehidupanku.
***
"Asha, kamu jangan makan banyak-banyak, ya. Nanti kamu bisa gemuk." Kata Ibu sambil memberikan piring berisi nasi merah dan sayur kangkung untukku.
"Padahal ayah sudah kurangin uang jajan kamu, koq kamu masih begini-begini saja? Turunkan berat badanmu, ya?"
Aku terdiam mendengar pembicaraan itu. aku hanya bisa mengangguk, lalu memakan nasi yang disediakan ibuku.
"Ibu dengar ada anak di kelasnya Asha yang jadi model di beberapa cover majalah. temanmu cantik banget, ya.."
"Ibu tahu darimana?"
"Ayah masa tidak tahu? Padahal ibu sudah membeli maja-"
"Aku sudah selesai." Lalu, akupun beranjak dari ruang makan.
"Lho, nasinya belum habis, jangan membiasakan menyisakan makanan, Sha." Kata Ibu kepadaku. Namun, aku tetap melangkahkan kakiku menuju kamarku. Sebelum masuk ke kamar, aku melihat ada majalah tergeletak di sofa. Aku melihat sekilas cover majalah tersebut. Dia kelihatan sangat cantik disana. Setelah melihat majalah itu, akupun masuk ke kamar. Hufft, aku benci dibanding-bandingkan.
***
"Si gendut kalau lari kayak babi lagi ngejar makanan, ya" kata demian yang diikuti dengan tawa teman-teman lain.
Aku sudah biasa melihat dia mengejekku. Dia tidak pernah kehabisan bahan untuk menjelek-jelekkan diriku. Walaupun begitu, aku tidak bisa melawannya. Dia punya teman yang bersiap melindunginya. mereka disana lebih bodoh dari tubuh gendutku ini. Walaupun aku gendut, tetapi aku masih bisa lari tanpa ngos-ngosan, bukan seperti cewek yang diagung-agungkan semua orang. Mia. Daritadi, dia hanya lari 1x putaran dan itu saja sudah ngos-ngosan.
"Kringg Kringg Kringg"
Bel berbunyi tanda istirahat. Kalau sudah begini, aku pasti ganti di toilet. Bukan karena sekolahku tidak punya ruang ganti. Melainkan, jika aku ke ruang ganti, tubuh gendutku ini akan diejek-ejek oleh gadis lain yang tidak bisa diam mulutnya. Aku melangkah ke toilet perempuan dengan keringat yang masih mengalir di tubuhku. Saat aku masuk ke dalam toilet, aku mulai mengganti baju olahraga dengan baju seragamku.
Aku benci hidup seperti ini. Aku benci anak-anak itu terus menganggu kehidupanku. Andai aku bisa menyingkirkan tubuh gendutku ini. Andai Tuhan memberikanku cara untuk menyingkirkan tubuh gendut ini secepatnya.
