1. Brian Mahesa

82 6 0
                                        

;Lantas, apa lagi yang kau harapkan dari seseorang yang hanya berkomposisi diri dengan seonggok daging dan sekelumit kebohongan?

Brian Mahesa. Siapa mahasiswa yang tak kenal dia? Pujangga kekinian yang dipuja seantero kampus. Saat kau sebut asma nya, maka akan terpapar jelas seribu satu penjelasan tentang dirinya.

Apa yang kurang dari Brian? Wajah tampan, pintar, mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen dengan deretan nilai A, penulis lagu yang juga sekalian bassist band kampus tenar, Enam Hari.

Sosok pujangga masa kini dengan puluhan karya yang dia ciptakan dengan tangan mahirnya.

Sorot mata tajamnya yang mampu menghipnotis namun tak jarang menginterupsi, senyuman andalannya yang dapat meluluhlantakkan pikiran siapa saja yang melihatnya, semua elemen padanya tampak sudah terpahat 'hampir' sempurna.

Ringkasnya, Brian terlalu paripurna untuk dicela.

Lantas perlu berapa banyak alasan lagi untuk membuat seorang Brian akan ditolak wanita?

Namun, gelar 'playboy kampus' tampaknya sudah mendarah daging pada setiap aliran darahnya.

Prestasi prestasi Brian seolah tertutupi oleh gelar nya. Namun apa peduli Brian? Yang penting punya pacar. Urusan hati belakangan, isi pikiran nya.

Menjalin hubungan bukan lagi sesuatu yang tabu bagi nya. Status pacaran yang dijalaninya tak pernah berjalan lama. Alasan nya hanya satu, Brian selalu menebar perhatian pada semua perempuan. Tak jarang selingkuh.

Namun sekalinya berjalan sedikit lama, maka Brian pun akan berulah lagi. Cantik, tembak, pacaran, selingkuh, putus, merupakan siklus hubungan Brian.

Namun hebatnya, entah angin apa yang berhembus, kali ini hubungan percintaan nya sedikit berjalan lama. Namun mendadak kandas, bukan, kali ini bukan karena Brian yang berulah. Tapi, Vanessa, pacarnya selama setahun belakangan ini.

Saat itu dia tengah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Tanpa ada nya sedikit pun prasangka terhadap siapapun. Namun mata nya tak sengaja melihat pacarnya berpelukan dengan lelaki lain. Bahkan sorot nya membelalak ketika pipi lelaki itu dicium oleh pacarnya.

Sumbu dikepalanya mendadak habis. Sekarang dia berada dititik tertinggi emosinya. Dia tak peduli apapun penjelasan Vanessa nanti. Yang dia tau hanyalah, pacarnya selingkuh.

Dikepalkannya tangan lalu berjalan tergesah kearah Vanessa.

Congratulations on playing.mp3

"Oh jadi ini kerjaan lo pas gue ga ada? Bagus.." kata Brian sesaat setelah kakinya mendarat di depan mereka.

"Eng-engga Bri, gue bisa jelasin" katanya gugup.

"Jelasin apalagi ha?! Oh ini cowok nya" tanya Brian sinis.

BUGH!! satu tinjuan melayang kewajah selingkuhan Vanessa.

"Enak? Mau lagi?" tanya Brian.

Lelaki bernama Aldo itu pun mengusap darah diujung bibirnya, "Gapapa lo ninju gue, puas puasin. Asal lo tau, ini karma buat cowok ga punya hati kayak lo" ucap Aldo yang langsung menarik tangan Vanessa pergi.

"Woi sini lo!? Awas aja lo anj*ng!!" maki Brian.

Matanya tak henti menatap ganas mereka berdua. Bak singa yang akan menelan mentah mentah mangsanya,mungkin Brian akan lebih ganas saat ini.

Brian panas. Api menggebu gebu di dada nya. Bak listrik yang menjalar disekujur tubuhnya. Segala bentuk umpatan ditujukannya pada wanita itu. Belum pernah dia diperlakukan seperti ini sebelumnya.

Selama ini yang dia tau hanyalah menyakiti hati seseorang tanpa tau rasanya disakiti.

Gelar playboy kampus yang selama ini dia junjung tinggi mendadak runtuh karena seorang perempuan. Malu. Jujur dia malu.

Bagaimana pun dia harus memutarbalikkan otaknya untuk balas dendam. Harus.

__________________

Brian yang tengah duduk dibalkon rumahnya pun mengambil ponselnya lalu mengetik pesan,

"Kita putus. Jauh jauh lo dari gue! NAJIS"

ketiknya pada Vanessa.

Dipandang nya langit. Api nya masih belum padam. Bingung cara apa yang harus dia lakukan untuk membalas dendam.

Ini bukan perkara tega atau tidak. Namun ini adalah perkara dimana gengsi nya lebih tinggi dari apapun.
Gelar itu tak boleh punah, pikirnya.

Satu nama yang terlintas dipikirannya saat itu, Antares, sahabatnya. Aku butuh bantuan Ares, pikirnya.

Dengan cepat dia mendial nomor Ares,

"halo res"
"hm paan?"
"sibuk ga lo?"
"sibuk, mau ngapain lo?"
"sok sibuk banget lo nyet. gue mo minta tolong"
"ya lo mau minta tolong apaan?"
"gue putus res hehehe"
"nah trus?"
"respon lo gitu aja?"
"ya trus harus gimana? paling lo selingkuh trus diputusin, udh ketebak alurnya"

"engga! gu-gue diputusin"
"yang bener ajalo, yakali"
"iya njir. harga diri gue harga diri!"
"nah trus, gue harus apa? ngembaliin harga diri lo yang setinggi langit itu?"
"lo jadi temen gaada ngebantunya anjir."
"ya trus gue harus apa anjir?!"
"santai dong bos..
cariin gue pacar bohongan dong"
"pacar bohongan?"
"heeh. buat manas manasin si Vanessa"
"licik juga lo"
"mau bantuin ga lo?"
"ya tunggu gue lagi mikir njir"
"cepetan."
"nah gue tau!"
"apaan?"
"ya liat aja besok. tapi inget, besok langsung tembak biar si Vanessa makin panas, itukan mau lo?"
"hmm oke.. cantik ga ceweknya?"
"liat besok, gue tunggu di depan gedung D jam 11"
"okeee,makasih Ares~"
"diem lo, gue jijik."
"njir. okedeh."
"telat, batal."
"IYA IYA!"

Tiit.. Sambungan pun terputus.

Brian tersenyum penuh kemenangan. Membayangkan wajah kekalahan Vanessa besok. "Heh, Brian dilawan" katanya, lalu dia tersenyum sinis sembari menghisap rokoknya.

Dia menghembuskan asap rokoknya perlahan. Dan sore itu Brian beserta kepulan asap rokoknya tenggelam dalam junjungan egonya.

FinaleWhere stories live. Discover now