Rabu sore di kemang kala itu kutilik berbagai ragu dalam rancu kata-katamu, berbalik runyam pada bilik pemikiranku nan sendu. Mengapa bertahun-tahun hari-hariku kelabu? Selalu menyalahkan atas janji yang kian membiru
Katamu
Katamu
Dan masih katamu
Desember tiga tahun lalu sebelum kau terbang bersama jalangmu yang kotor itu. Aku tak sudi menyebut namanya apalagi membayangkan wajah duri kaktus itu.
Kau memang perayu ulung sangat ulung dan menjijikan. Kemana saja kau tabur bara amor? Seolah senang saat jemarimu menari diindah bayang tubuh yang lain. Kutanya lagi! Kemana saja bibirmu mengecup mesra?Seolah bahagia saat beradu di peraduan yang lain. Mengecap madu asmara dalam kelambu saat tengah malam. Ku peluk tubuh dinginku sedang engkau menghangatkan bara maha dahysat yang lain bersama dengan kunang malam
Hariku selalu sama, tentang mu selalu tentang mu dan semua hal yang memuak-kan tentang mu. Saat malam heningmu terbuai mimpi, aku dengan sengaja masih tersadar dalam dinginnya aroma malam. Sekedar berdoa agar Tuhan kasihan padaku dan tiba-tiba menghadirkanmu dihadapanku. Dengan tololnya aku masih bertahan disituasi ini. Menilik lagi aku sedang bertemu dirimu diruang imaji, merindukan dirimu bahkan sesekali menulis tentang rindu untukmu dalam sosial mediaku. Dan akhirnya hati aku berhenti dikamu. Sudah sesederhana itu aku berharap akanmu dan (sepertinya) aku merasa sedikit bahagia.
Jangan biarkan aku hidup dalam ilusi mendamba cinta yg tak pernah tulus. Jangan biarkan aku hidup dalam mimpi mengingini cinta yg tak menginginiku. Kau sudah terlalu lama mengikatku disini, kau sudah terlalu sering menghempasku ke dasar jurang. Jangankan perasaanku bahkan perkataanku tak pernah berarti dimatamu. Bukan aku lelah mencintaimu tapi terikat tidak harus seperti ini bukan? Kau tetap kasihku dan selalu begitu. Ajari aku keluar dari hal bodoh macam ini, saat kau bisa dengan mudahnya terbang namun aku malah memilih bertahan dipasung rimba kenangan.
Mari duduk berdua dan coba ingat kisah manis kita dulu. Saat lugu kau tabur cumbu, saat lelah kau timpa peluk maupun tubuh yg kau sebar bara amormu. Kembalilah! Bisakah kau berbalik arah dan dengar lirih sebait rinduku akan kehangatanmu dulu. Ikat jemariku pada jemarimu, ikat tubuhku agar terus berada dipelukmu. Perlukah aku memohon tanpa ampun untuk ini semua. Menjadi buta atas apa yang terjadi, menjadi tuli atas kabar berita yang mencaci. Bergetar rapuh atas kemenangan simphony tuturmu.
Kau harusnya tau dinginnya diriku sekarang. Hangatkan hatiku, lalu aku akan berkalung manja sepanjang malam. Lalu bertanya, bagaimana jika kau hidup tanpaku? Dan pernahkah kau bayangkan jika rembulan tak datang setelah matahari tenggelam? Karena aku seperti rembulan yang tertinggal mengejar matahari. Aku juga seperti rembulan yang dingin berharap dihangatkan oleh sang fajar .
Kau paham aku tak pernah baik-baik saja hidup tanpamu. Seperti terpaksa bernafas pilu sejak bangun tidurku. Dengan bayangan brengsek bahwa kau sedang berada di dekat lainnya yang mana bahwa ada hati lain yang memilikimu. Ingin ku umpat kau anjing dalam keras-kerasnya suaraku dan kumaki kau sekasar-kasarnya karena lakumu. Aku tak pernah baik-baik saja sayang dalam tiga tahun belakangan ini. Memilih untuk tetap setia terluka, memilih untuk selalu menangisi malam dan mengutuk pagi biruku tanpamu. Memelihara dendam dan hening bersama indahnya kabut rembulan. Belum cukupkah keputus-asaanku menantimu membuatmu jengah kemudian kembali padaku, wahai tuan pemilik hati. Membuatku terhenti untuk membunuh jiwaku sendiri.
Katanya kau sanggup mencintaiku. Katanya kau mampu menerima semua kurangku. Karena akupun telah berjanji untuk melengkapi kehidupanmu. Akupun telah berjanji untuk menerima segala kurangmu dan bersyukur atas semua kelebihanmu, menjadi sepasang sayap untuk kau terbang menuju nirwana. Dengan bangganya aku pun telah meneriakkan diri bahwa akulah bagian dari tulang rusukmu. Dimana kata-kata manis penuh candumu itu? Aku telah lelah berteman peluh sepanjang hari hanya untuk mengingat kata-kata manis yang telah membusuk itu.
Mana bahumu yang menjadi tempat ternyaman untuk bersandar? Kulihat hilang tak terjamah dan tersasar di tengah belantara. Membeku tubuhku seperti beruang mati di gurun pasir, rasanya rancu saat membeku ditengah udara yang sangat panas. Kenyataannya memang begitu hatiku menjadi tidak normal namun bukan sepertimu yang tak bermoral.
Aku seperti terlucut dari panasnya terik matahari dan harap candu-candu usang yang menemani bintang malam. Menangis dibelenggu impian sebelum lelap tidurku karena menunggumu hanya untuk menunggumu. Aku seperti tergerus ombak dipantai yang kemudian berkarat dan dicampakkan. Hanyut dalam emosi tak ber-akal yang perlahan mulai sekarat. Inginku bebas terbawa badai yang entah membawa kemana. Karena di manapun itu tanpa mengenangmu kurasa adalah kemenangan yang sempurna dalam hidupku.
Mendambamu seperti mengharap kejora, menginginimu dalam warna abu-abu. Sampai kapan aku harus bertahan? Sanggupkah kau memilih kepastian dia atau aku kasih? Jika kita harus berpisah biarkan aku merenda kasih dalam angan, kan ku-ukir penuh sanjung kenangan berkasih kita. Tenang tak akan ku umpat dirinya yang membuatku gagal memilikimu akan kubiarkan dia memelukmu sepanjang malam. Karena aku telah berhenti menjadi ratu di kehidupanmu.
Jangan cabik aku dengan khayal hangat pelukmu, jangan siksa aku dengan khayal manis cumbumu. Sudut dingin sofa ku menjadi saksi bisu betapa manisnya ucapmu kala itu, betapa kepayangnya aku disisimu. Kukira itu cinta namun ternyata luka, kukira itu cahaya namun ternyata duka, kukira itu harap namun ternyata hanya bias asa.
Darahku habis terhisap lintah menjijikan bertahun-tahun. Kau tebar madu-madu asmara dihadapanku, lalu apa yang terjadi? Dibelakangku kau siapkan upacara kematianku yang sial. Sudah ribuan kali aku curiga atas sikap rubahmu itu, dan kau sisipkan mantra dalam danau kebodohan yaitu untuk memaafkan dan terus menerus mempercayaimu. Rupanya Tuhan sangat baik padaku sebelum terlanjur, dimusnahkannya engkau dari pandanganku.
Konspirasi lipstik merah jambu pada kerah kemejamu menjadi liku. Seribu mata menjadi kesaksian atas curangmu yang binasa. Hujan mulai menguyurkan tetes rintik sendu pada pelupuk mataku yang hening. Beribu kutukan ditelan mentah-mentah di dasar palung lautan. Cahaya terang menjadi temaram saat akalku membahayakan batinku sendiri. Menderita tentang jarak yang bukan lagi antar berpijak yang jauh, melainkan perasaanku yang berjarak ribuan mil dengan rasamu. Kurawat sendirian kenangan atas peluk dan cumbu yang telah sirna karena melenggang jauh dari kata mulianya kisah bercinta.
Kusisipkan amarahku pada kolam penyesalanku, dalam kemelut bulan merindu menjelang kamis malamku. Manakala kehanyutan biru padahal lembayung senja dihadapanku. Ku mengira engkau adalah mahadewa dari Sang Kuasa saat tak mampu ku-ujar dalam senduku yang berpijar. Ternyata engkau hanyalah serpihan kisah tak sempat yang benar-benar tersemat.
Kusisipkan beribu kutukan dalam kabut malam, ingin kubalaskan untuk kerinduan yang berapi-api. Bahwa kau pantas menerima segala sumpah serapah yang akupun tak sadar mengucapkannya. Maafkan aku! Aku tak bisa mengendalikan perasaanku yang berkelibat rindu dan penderitaan. Sedang engkau tak pernah menyadari mengoreskan luka penuh nanah padaku.
.
.
Terimakasih teman-teman yang sudah baca sampai akhir bab ini. Jangan lupa follow,kasih bintang dan komen yaw.
Jangan lupa juga follow ma ig: @Chocoffe19 dan twitter : @AnishaArifa silahkan dm aja yg mau cerita-cerita, mumpung author lagi selow.
Salam hangat
Icha
YOU ARE READING
JANJI DESEMBER
RomanceSemoga yang kutuliskan bisa menjadi teman pendamping saat hening malam sepimu . Kau adalah tempat berbagi dari derasnya air mata Kau adalah tempat bersandar dari peluhnya suram masa lalu Kau adalah tempat ternyaman untukku pulang dari penatnya kenya...
