Tentang Hujan, Tentang ingatan bulan Desember, Tentang kamu, Tentang mereka yang selalu menjelma menjadi luka, Tentang aku yang berusaha melupakanmu.
⚠️Cerita Pertama saya di Wattpad
Awal dan akhir, hujan dan reda, gelap dan terang, segalanya berkesinambungan.
Hanya ada satu yang bertolak belakang, aku dan semesta. Malam ini, angin berhembus cukup kencang, aku membiarkan rambutku yang tergerai tertiup angin. Mendongak menatap langit yang berubah kelabu, menarik sudut bibirku, lalu tersenyum simpul. Beranding terbalik dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Kurasakan air jatuh membasahi pipi, semakin banyak dan deras, aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Entah di detik keberapa cahaya terang mendadak hilang, gelap.
Aku memanggil siapa saja yang berada di dalam rumah, namun baru kusadari tiada seorang pun disini. Sial, aku terjebak disituasi yang menyebalkan.
Bosan, menatap sudut ruang yang gelap, hanya kehampaan yang kudapat.
Aku mencoba menyusuri kesetiap penjuru ruang, mencari lampu senter, handphone atau korek api sekalipun,
Ah, kenapa pula yang kuingat hanya korek api tanpa lilin? Ingin rasanya membakar kehampaan yang ada, membakar seluruh isi rumah beserta segala kenangan, termasuk membakar hidup-hidup diriku sendiri yang masih ada didalamnya, tanpa sisa.
Sisi gelapku menyeringai. Lupakan khayalan buruk barusan.
Aku mencari handphone yang terakhir kali seingat ku kutaruh di atas kasur, namun nihil. Tak kutemukan apapun yang bisa menerangi, kucoba melebarkan dan menajamkan penglihatan, Namun gagal, terlalu banyak gelap.
Baru dua langkah melangkah, kakiku terbentur meja cukup keras hingga decitan terdengar. Sial, kurasakan kakiku mendadak sulit untuk digerakan, nyeri. Aku segera melangkah pelan-pelan keluar dari kamar dengan hati-hati agar tak terhantam lagi.
Sudah sekitar tiga puluh menit aku mencari handphone ku yang raib entah kemana, alhasil aku memutuskan untuk keluar rumah, pergi ke minimarket di ujung jalan, yang tidak begitu jauh.
Aku berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan tanpa alas kaki, melewati jalanan gelap dan senyap, lagi-lagi tak kutemukan titik terang. Mendongkak menatap langit yang juga sama, gelap. Hujan berkali-kali jatuh mengenai wajahku, aku tak peduli lagi. Penglihatanku mulai pudar, aku mengusap wajah yang penuh dengan air hujan, namun percuma, hujan terus-menerus menerpa wajahku.
***
"Bang, lilinnya masih?" tanyaku pada Bang Kohar, penjaga minimarket.
"Baru aja habis, Neng. Udah diborong semua tadi" ujarnya.
"E e eh, tapi korek nya masih banyak hlo neng, senternya juga masih ada" tawar Bang Kohar
"Nggak deh bang, buat stok abang aja"
"Lah kan ngestok buat dijual, Neng... Ah ilahh" ujarnya menahan frustasi.
"Apa mau beli payung aja?" tawarnya lagi, aku menatap badanku yang udah hampir basah kuyup gini baru ditawarin payung.
"Emm, kalau gitu sendalnya nggak mau beli sekalian, Neng?" tawarnya sekali lagi sambil cengar-cengir menatap kakiku. ah, aku lupa pakai sendal, bukan lupa sebenernya.. hanya saja tadi buru-buru ke sini dan nggak keliatan sama sekali dimana sendalku berada, yaudah nyeker aja sih, toh deket juga dari rumah, nggak jauh-jauh amat.
Aku menatap Bang Kohar tanpa membalasnya, sepertinya dia paham bahasa raut wajahku.
"Ng.. oke yhh" kata Bang Kohar, aku berbalik arah pulang.
Aku kembali, setelah hujan terhenti. Kupijakan kakiku pada anak tangga ketiga depan rumah, ada yang aneh, pikirku. Kualihkan pandangan, tidak ada siapapun. Namun aku merasa setiap gerak-gerikku terus-menerus diawasi, aku mundur, urung memasuki rumah.
Benar saja, tepat di depan pintu gerbang, ia menatapku dengan mata birunya yang bercahaya, baru kali ini kutemukan titik terang bukan kegelapan, aku segera menghampirinya.
"Kenapa?" tanyaku dengan posisi jongkok didepannya, ia tak menjawab hanya terus-terusan menatapku, aku jadi maluw.
Hujan membuatku merasa lapar, semoga saja masih ada cadangan mie instan.
"Laper nggak? Mau makan?" tanyaku.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Meong" akhirnya setelah lima abad menanti, ia menanggapi ucapanku, aku tersenyum lantas membawanya memasuki rumah.
Seketika lampu menyala terang, cahaya telah kembali berpijar.
"Hey, you bring the bright" ujarku sambil menatap kucing putih kecil yang berada di gendonganku, menggemaskan sekali.
"Rumahmu dimana? Namamu siapa?" tanyaku yang hanya dijawab gelengan olehnya saja.
Eh, sejak kapan kucing bisa geleng-geleng? Hais lagi-lagi khayalanku menyelinap.
"Selamat datang dirumah barumu, MALIKA!" ujarku bersemangat, hampir saja ia jantungan akibat nama panggilan yang baru saja kubuat.
(Malika: Kucing putih kecil, mata bulat hitam pekat yang dicintai dengan sepenuh hati, seperti anak sendiri).
Aku segera mengecek persediaan mie instan, tanpa mendengarkan protes dari Malika. Karena aku tau kalau Malika juga sudah sangat lapar.
Tapi tunggu, mana ada kucing yang makan mie instan??
Udara disekitarku menjadi sangat dingin, aku baru sadar, seluruh tubuhku basah kuyup. Aku menggigil hebat, Lagi-lagi pandanganku mulai pudar. cahaya disekitarku mendadak hilang lagi, bersamaan dengan tubuhku yang jatuh dan luruh begitu saja.
Kau bilang ini takdir,
Ini adalah akhir.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
Sudah kubilang bahwa akan ada awal dan akhir, hujan dan reda, gelap dan terang.
Hai, Remember Desember cerita pertamaku di wattpad, semoga suka ya?