s k e t c h e r : [ ]

30 6 0
                                        

--[]--

Danial Arsanata|

Danial cukup mengerti kenapa teman-temannya mendadak stress memikirkan soal kemana takdir akan membawa mereka. Dari awal sejak kelas lima sekolah dasar, Danial punya cita-cita untuk masuk kedokteran dan bekerja karena dirinya sendiri. Itu semua karena ia tak mau jika harus disuruh untuk mengambil alih urusan perusahaan milik ayahnya. Bidang itu benar-benar bukan passion Danial, dan Ayah tidak pernah mau mengerti.

"Lo sendiri, udah tahu bakal kemana?"

Jadi hari ini, Danial memutuskan untuk masuk jurusan kedokteran meski ayahnya tidak tahu sekalipun.

Danial mengangguk. "Elo, sih, enak udah punya rencana kemana. Gue sendiri malah nggak tahu harus apa selesai sekolah," kata Elea.

Danial juga paham kenapa Elea masih sulit menentukan pilihan. Itu karena ia hanya malas-malasan dalam belajar. Asalkan absen terisi, tertidur di kelaspun sudah bukan menjadi masalah baginya. Tapi tunggu, Danial tahu Elea sering ketiduran bukan karena sering memperhatikan loh ya. Cewek itu memang kentara punya kantung mata yang lumayan tampak meski dilihat dari jarak papan tulis hingga bangku belakang.

*

Eleanore Clauren|

"El, rencananya, lulus dari sekolah ini lo bakal kemana?" tanya Audrey yang hari ini tampak berbeda dengan potongan rambut baru.

Elea sendiri juga tidak yakin apakah ia benar-benar akan melanjutkan kuliah atau lebih memilih bekerja. "Nggak tahu, sih, gue masih belum kepikiran aja."

"Seriusan? Nggak lama lagi kita bakal ujian akhir. Baiknya, lo pikir dari jauh-jauh hari supaya tindakan yang lo ambil benar-benar bulat."

Iya, Elea tahu. Menjadi siswa yang bahkan tidak tahu apa kemampuan dirinya sendiri adalah sesuatu yang bisa dianggap menyedihkan. Elea suka bahasa Inggris, ia paham dan mengerti setiap ada yang mengajaknya bicara, tapi sayangnya Elea tak bisa menjawab. Elea suka berolahraga, tapi agaknya itu karena dia lebih suka berkegiatan outdoor. Elea benci fisika, sangat. Semenjak ia tahu apa itu hukum Newton dan Archimedes, otak Elea tak bisa di ajak bekerja sama. Matematika? Yah, jangan tanya. Kimia dan Biologi? Kedua pelajaran itu selalu membuatnya mengantuk. Apa lagi kalau penjelasan serta rangkaian pembelajarannya disiarkan melalui layar proyektor.

Ah ya, ada satu pelajaran yang lumayan Elea suka. Seni budaya dan keterampilan. Didalam kedua pelajaran itu, ada satu materi pembelajaran yang mengharuskan seluruh siswanya menggunakan kanvas dan tinta.

Iya, Elea suka menggambar. Sedikit bayangan tentang bagaimana ia yang akan berkuliah di jurusan seni sering terlintas di benaknya. Ia juga sudah memiliki satu universitas incaran. Namun ada beberapa hal yang membuatnya kembali berfikir lebih jauh, orang tuanya-khususnya papa, tidak setuju jika anaknya masuk jurusan seni. Apapun itu alasannya. Padahal mama adalah lulusan seni fotografi. Tapi, kenapa?

--[]--

status: On-Going,
start from 01 Desember 2019


Sachi

SketcherWhere stories live. Discover now