Prolog. 🍈🚲

95 9 0
                                        

Dear Sepeda.

Aku ingin nanti warnamu tak termakan waktu.
Bertahanlah demi sang melon yang setia menunggu.
Tak takut busuk dan aneh badanmu.
Yang ia inginkan hanya melepas rindu.

Warna kuningmu melambangkan sebuah keberanian.
Tak takut malam, banmu berputar menerjang.
Demi seonggok bola hijau tak berdaya dalam balutan sayang.

Si melon hanya mengucapkan terimakasih dan aku tunggu kamu di surga kelak.

🍈🚲

Dzara melangkahkan menaiki anak tangga sekolah. Hari ini adalah hari kedua seleksi Olimpiade matematika yang ia tunggu-tunggu. Malam tadi ia meminta doa pada kedua orang tuanya agar ujiannya lancar. Semoga yang ia harapkan tercapai demi sang nenek tercinta.

Dalam perjalanan, Dzara berpapasan dengan Arsen. Lelaki tinggi itu menatapnya rendah seakan ia adalah orang yang paling tepat untuk Olimpiade ini. Dzara tak kalah sengit dalam membalas lirikan. Lirikan tajamnya menusuk mata Arsen yang tersenyum miring.

"Apa lo liat-liat. Naksih ya? Gue sih gak papa lo naksir sama gue. Sayangnya gue gak naksir sama ko. " ucap Dzara menatap Arsen dengan Mata berkilat-kilat.

"Nga-Ca! "ucap Arsen dengan penuh penekanan. Lelaki tinggi semapai itu lalu meninggalkan Dzara yang menahan hasrat ingin mencekik lelaki itu.

"Mati aja lo. Nanti kuburannya biar gue yang gali. "ucap Dzara asal.

Gadis itu lantas melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas XII-IPA 1, tempat dimana ia akan menjalankan tesnya.

Sudah dua jam Dzara berkutat dengan angka-angka matematika. Kadang ia salah menggunakan rumus,  salah membagi, salah soal, dan lain-lain. Hal ini membuatnya jadi tak percaya diri. Ia jadi ingat kata neneknya kemarin saat ia berkunjung.

"Kalo gak bisa jangan ikut! Nanti malu  Nenek sama Arsen. "

Ia jadi malas dan membiarkan dua nomor yang membuatnya pusing kosong tanpa isi. Matanya menatap jendela yang langsung menyajikan pemandangan lapangan. Di sana Angga Rahsya, teman nasa kecilnya tengah berlatih futsal. Rambutnya yang basah dan tertiup angin membuat para junior perempuan yang melihatnya menjerit tak karuan.

Ia tersenyum, setidaknya masih ada harapan untuk membuat Angga menatapnya bukan dengan kata sahabat. Melainkan melihatnya karena Dzara memang benar-benar menaruh rasa. Bagi Dzara, Angga segalanya. Bagi Angga, Dzara juga segalanya tetapi bukan yang pertama. Melainkan ia menjadi yang kedua setelah Raya. Pacar Angga.

Dzara menatap kertas jawabannya dengan tatapan kosong sampai seseorang memukul mejanya.

"Apa sih? "tanya Dzara tanpa melihat si empunya tangan. Ia malah melihat ke arah jendela.

Sempat sunyi, Dzara yang merasa ada yang tidak beres lalu menoleh, di sana berdiri Pak Yasir dengan tampang galaknya. Dzara tentu tidak takut. Muka galak itu masih galak punya ibunya.

"Kamu niat gak sih ikut seleksi? Bapak udah ngasih saran buat kamu. Kamu itu punya bakat di kebahasaan bukan ilmu matematika. Kalau kamu malah maksain diri nanti bapak juga yang pusing! "geram Pak Yasir.

"Lha saya pengin bisa matematika kok Pak. Masa gak boleh? "tanya Dzara lugu.

"Ini bukan cuman soal semata. Ini akan mewakili sekolah kita nanti di pusat. Kalau kamu yang ikut, nama sekolah bisa hancur. "balas Pak Yasir.

DzaraWhere stories live. Discover now