Part 1

2.2K 52 6
                                    

Sehari sebelum hari ulang tahunnya,  hidup Athalia baik-baik saja. Gadis itu bisa berangkat dan pulang bekerja dengan tenang atau pun makan dan minum tanpa takut tersedak. Ia masih bebas hang out dan tertawa-tawa, tanpa perlu memikirkan bahwa teman hang out-nya yang sekarang bukan sepantarannya lagi. Lebih jelasnya, sebagian besar orang-orang yang sebaya dengan dirinya sudah bepergian atau hang out bersama suami dan anaknya.

Sehari sebelum hari ulang tahunnya, Athalia selalu merasa bahwa surga sudah diberikan Tuhan sejak di bumi dan ia bersyukur bisa menjalaninya dengan baik.

Namun, pada hari ulang tahunnya, Athalia mendadak ingin hidup di bawah selimutnya saja. Terbenam di sana selamanya. Tidak ingin melihat matahari terbit dan tenggelam, apalagi terbawa arus waktu yang tidak pernah punya keinginan berhenti.

Kalau saja manusia tidak perlu bekerja untuk sekadar mengisi perut, mungkin hal itu akan benar-benar dilakukannya.

Senyatanya, walaupun hidup kadang sudah terasa seperti di surga, Tuhanlah yang Maha Pemenang. Dia selalu punya kekuatan untuk menunjukkan neraka kapan saja. Termasuk sekarang.

Neraka Athalia dimulai hari ini, ketika gadis itu melihat papanya sudah menyiapkan sarapan superistimewa. Nasi goreng yang ia yakini berisi irisan cumi—kesukaannya, salad buah, roti tawar dan aneka selai, serta dua pitcher minuman yang masing-masing berisi orange juice dan susu murni, sudah tertata rapi di atas meja. Biasanya, menu sarapan yang disiapkan papanya tidak pernah selengkap ini karena meskipun papanya sudah pensiun dan punya banyak waktu di rumah, beliau lebih memilih menghabiskan paginya di kebun kecilnya di belakang rumah.

Papa Athalia, Adam Nataprawira, sudah menanti anak gadisnya dengan mengibarkan senyum cerah sebagai ganti mengibarkan bendera kemenangan. Begitu Athalia menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya, senyumnya makin tertarik ke atas.

"Selamat ulang tahun yang ke-31, ya, Athalia yang cantik," ujar Adam berseri-seri.

Athalia mencoba bersikap biasa saja dengan berpura-pura lupa. "Oh, ini udah tanggal 1 Februari, ya? Lupa gue. Makasih banget ya, Pa, udah ngingetin," balasnya sambil menepuk jidat.

"You're very welcome. Papa juga ngingetin angka 31-nya lho," sindir lelaki itu sambil membuka piring untuk menampung nasi goreng yang tadi diraciknya waktu Subuh.

Sejenak, Athalia menahan kata-katanya. Ia akhirnya memilih bertanya, "Emangnya kenapa, Yah, sama angka 31?"

"Kamu mau pura-pura lupa lagi?"

Athalia yakin, papanya sedang menyerukan kata 'sekakmat' di dalam hati. Tiba-tiba saja ia merasa bodoh. Dengan tiga puluh satu tahun dibesarkan oleh lelaki yang sering ia ledek bermuka Mr. Bean ini, harusnya ia tahu, papanya bisa membedakan gelagat dirinya saat jujur atau saat bohong.

"Nggak peduli lupa atau nggak, Papa mau ceritain lagi soal apa yang Papa bilang waktu kamu ulang tahun yang ke-29. Waktu itu—"

"Atha inget kok," potong Athalia santai. Kini gadis itu mulai mengunyah potongan melon yang ada dalam semangkuk besar salad buah. "Kalau usia Atha udah lewat 30 tahun, itu artinya Papa boleh nyariin calon suami buat Atha."

"Anak Papa memang pinter."

Sebenarnya Athalia sudah berusaha melupakan perjanjian tidak tertulis dua tahun silam itu. Tapi, di saat-saat menyebalkan semacam ini, ingatan tentang hal menggelikan itu selalu saja menyeruak.

Waktu itu, papanya memberinya sebuah city car warna putih sebagai hadiah ulang tahun. Anak mana yang akan pasang muka cemberut sewaktu menerima hadiah mobil keren? Jawabannya jelas tidak ada. Athalia juga sama. Ia bahkan melonjak-lonjak childish. Di pikirannya, papanya sudah mulai tidak pelit lagi terhadap anak sendiri.

Marry My DaughterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang