Part 01

7 1 0
                                        

Hai...
Cerita lain belum selesai udah bikin cerita baru.
Maapkeun yaaa. Cerita yang lain belum ada ide lagi.
Tapi pengen bikin cerita ini.
Semoga sukaaaa..

Typo bertebarann!!!

*********

"WOEYYYY ONTA BANGUN KAGA LU. SEKOLAH NENG SEKOLAHH.. INGET JANGAN KALAH SAMA SAMSUNG. DIA AJA UDAH S8 MASA LU MASIH SMA. MALU NENG MALU. CEWE KEBO BANGET EDAN." teriakan maut itu menggema diseluruh rumah. Membuat para pendengarnya menutup telinga rapat-rapat. Takut, jika mereka mendengar akan mengalami tuli seketika.

Sementara diseberang pintu yang masih digedor-gedor, ada anak gadis yang masih tidur nyenyak. Tidak menghiraukan teriakan bunda gaulnya. Dia tidak akan mau bangun jika belum ada yang mengancamnya.

"OKE, GAMAU BANGUN KAN LU. GUA POTONG UANG JAJAN LU 50%. KAGA ADA LAGI YANG NAMANYA SHOOPING." ancam si bunda gaul pada anak perawan nya.

Dan diseberang pintu, gadis yang mendengar "potongan 50%" langsung duduk tegak dan balas berteriak dengan bunda gaulnya.

"IYA BUNDA LARA BANGUN INI. GAOSAH PAKE POTONG-POTONG SEGALA." teriakan Lara mengisi seluruh penjuru rumah. Bahkan Ayah dan Abangnya yang masih tertidurpun langsung bangun karena ada teriakan maut dari Lara yang melegenda.

Gadis bernama Lara itu segera beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk mandi. Tak membutuhkan waktu lama, Lara sudah selesai dan sudah memakai seragam sekolah barunya.

Selesai bersiap Lara langsung menuju ruang makan untuk sarapan disana sudah ada keluarganya hanya kurang Lara sendiri.

"MORNINGG ALL.." teriak Lara dari tangga yang mengarah ke ruang makan.

"HEH ANAK DURHAKA. GOSAH TEREAK JUGA KALI." balas bundanya juga teriak

"Bunda juga teriak." potong ayah dan abang karena melihat Lara sudah mengambil nafas untuk mengeluarkan teriakan mautnya.

"Lara sini makan. Duduk deket abang." ajak abangnya agar Lara duduk untuk sarapan.

"Bang Luk. Nanti Lara se sekolah ya sama abang?" tanya Lara ceria tapi masih ada keseriusan di tatapan matanya.

"Iya, nanti kamu se sekolah sama abang. Jadi adek yang baik pas disekolah." nasihat abangnya pada Lara yang suka sekali mencari gara-gara dengan bk.

"Ga janji bang Luk." ucap Lara disertai dengan kekehan kecilnya.

"Udah ayo makan sekarang." perintah ayah dengan tegas. Dan dibalas anggukan oleh semuanya.

Beberapa menit kemudian. Lara dan Luka sudah selesai sarapan. Mereka berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat sekolah karena alasan sudah terlambat. Padahal masih pukul 06:32 terlalu pagi untuk anak nakal seperti Lara.

Saat ini Lara dan abangnya sedang berada di mobil. Mendengarkan musik tanpa berbicara. Karena terlalu hening, Luka membuka suara.

"Lara, nanti disekolah jangan jadi bad girls. Abang gak suka. Abang suka nya kamu yang kalem, yang nurut. Nggak nakal kaya gini. Mau kan nurutin abang?" tanya Luka sendu.

"Bang, Lara emang mau jadi apa yang diomongin sama abang. Tapi Lara gak bisa bang. Lara gak mau jadi orang lain. Biar mereka sendiri yang nilai Lara kayak gimana. Lara juga tau kok kalo Lara di DO lagi disekolah yang baru ini. Lara bakal dikirim ke USA. Nemenin Oma dan bakal homeschooling disana. Lara tau semuanya bang. Abang gak perlu lagi ngingetin Lara buat gak nakal. Karena mau sekeras apapun Lara coba buat gak nakal. Lara bakal berontak bang. Abang tau itu." jawab Lara sedikit sedih karena tau fakta ini baru beberapa hari yang lalu. Kedua orangtuanya terlalu lelah mendaftarkan sekolah untuk Lara. Dan sekolah ini adalah sekolah yang ke 6 untuk Lara.

"Kamu udah tau ya? Maafin abang ya gak bisa bikin kamu jadi anak baik. Abang ngerasa abang itu bukan abang yang bener. Maafin abang ya." lirih Luka meminta maaf.

"Bang udah nyampe. Lara masuk duluan." ucap Lara sembari pergi tanpa menjawab permintaan maaf dari kakaknya.

***

TBC...

Kenapa pake nama Lara dan Luka? Karena aku suka sama namanya.
Kenapa Lara bisa jadi troublemaker? Jawabannya ada dipart lainnya.
Kenapa Luka menyalahkan dirinya sendiri? Jawabannya juga ada dipart lainnya.

***

~Kamu adalah luka sekaligus penyembuh yang aku suka~

Alara Gilicetha Smith.

ALARADonde viven las historias. Descúbrelo ahora