Satu

205 18 0
                                        

Ini adalah hari terburuk yang pernah dialami oleh seorang anak laki-laki yang tengah duduk di ruang tengah bersama keluarganya, bagaimana tidak? Ia diharuskan melanjutkan sekolahnya di SMP Intelegency yang dimana anak didiknya diasramakan, tidak diizinkan membawa smartphone, dan peraturan-peraturan yang berbanding terbalik dengan kesehariannya.

Ia merasa akan sangat tersiksa di sana, selain karena harus berpisah dari game online kesayangannya, ia juga harus berinteraksi dengan orang-orang baru yang menurutnya hanya membuang-buang waktu saja. Ia malas jika harus mulai dari nol lagi. Di sisi lain ia jg tidak ingin mengecewakan orangtuanya.

"Mah, harus banget yah Bima di sekolah itu?" Anak laki-laki yang sedari tadi hanya duduk itu akhirnya angkat bicara.

"Udah jadi tanggung jawab orang tua buat jauhin anaknya dari hal-hal yang gak baik, Kamu lihatkan anak jaman sekarang kayak gimana? Mama gamau kalau nanti kamu salah pergaulan. Seenggaknya di sana kamu udah dijamin" ucap Marista posesif.

"Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh, papa maksa kamu ke sana bukan karena papa mau buang kamu, bukan karena kamu nyusahin papa sama mama di sini. Kamu harus bisa lebih dari papa" Taufiq ikut nimbrung.

Cowok dengan nama Bima itu hanya menghela nafas pelan. Mau tidak mau ia harus menuruti keinginan orangtuanya untuk melanjutkan sekolahnya di SMP Intelegency.

***

Hari ini merupakan tahun kedua Bima di SMP, Ia di jemput Marista dan Taufiq setelah mendapat kabar dari gurunya jika Bima sedang sakit.

Setelah sakit Marista dan Taufiq tidak lagi memaksa Bima untuk kembali ke sekolahnya dan di perbolehkan memilih sekolah sendiri. Ia akhirnya memilih salah satu sekolah yang cukup populer di kotanya.

"Bima Ankara Gibralta, dia akan menjadi teman baru kalian" ucap seorang guru dengan ramah. Bima hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Karena efek setelah sakit ia hanya duduk diam sampai pelajaran berakhir, Ia tidak berkenalan dengan teman-teman kelas barunya bukan karena dia sombong, tetapi mereka sudah saling mengenal. Bisa dibilang sebagian besar teman kelasnya itu adalah teman masa kecilnya.

Beberapa hari kemudian Bima sudah bisa bergabung kembali dengan teman-temannya.

"Bimaaaaa, mabar yok!!" ucap seorang teman Bima sekaligus tetangganya, Bima hanya mengiyakan dan mengambil benda pipih yang ada dalam kantong celananya. Begitulah kehidupan Bima dan teman-temannya di sekolah, walaupun sering bermain game, itu tidak membuat Bima melupakan waktu belajarnya. Ia hanya akan bermain game jika jam istirahat dan tugasnya selesai, tidak mengherankan jika Bima masuk golongan orang-orang pintar di kelasnya.

"Kringggggg"

"Eh, Bim kan udah bel tuh pangeran Tyo pulang duluan yah. Princess Yumi, pulang yuk!" ucap Tyo yang membuat Bima bergidik. Bima harus rela menyaksikan adegan-adegan yang membuatnya risih. Secara Tyo dan Yumi adalah sepasang kekasih yang ada dalam kelasnya.

"Ihh, Tyo apa apaan sihh jangan bikin gue jijik dehh" ucap Yumi bohong. Sebenarnya ia merasa senang dengan perilaku Tyo hanya saja gengsinya terlalu tinggi. Dan Tyo tahu itu, sangat tahu.

Diam-diam ternyata Bima iri dengan Tyo, dia yang konyol saja sudah punya pacar, sedangkan dirinya? Ia bahkan belum pernah memiliki pacar sebelumnya. Bima sebenarnya mudah mendapatkan kekasih jika ia mau, secara dia memiliki wajah di atas standar, hidung mancung, alis tebal, bulu mata yang lentik, rahang tegas, tubuh yang jangkung, ditambah lagi kepintarannya. Siapa yang bisa menolaknya?

"Bim, ga pulang? Kalau ngga gue kasih kunci kelas, gw mau pulang duluan soalnya, tapi besok datangnya cepet yahh" Ucap Naomi selaku ketua kelasnya. Bima tidak menanggapi dan langsung keluar dari kelas. Naomi yang melihat itu hanya mengikut Bima keluar dari kelas dan menguncinya.

HangerStories to obsess over. Discover now