Chelsea is mine!

53 6 1
                                        

Happy reading gaesss~

Namaku Michael, aku salah satu mahasiswa tingkat akhir dengan jurusan bisnis di Harvard University.

Aku mempunyai dua sahabat terbaik yang selalu ada disampingku yakni Chelsea dan Marco. Mereka selalu ada untukku terutama Chelsea, dia satu-satunya sahabat perempuanku. Dia yang paling perhatian, ia selalu menasehatiku dan Marco jika kami melakukan kesalahan. Dia tak pernah marah jika salah satu dari kami menjahilinya.

Sudah lama aku tinggal dengannya, dan lambat tahun persaan yang dinamakan cinta pun datang. Rasa nyaman ketika dia didekatku atau bahkan rasa hangat dihatiku kala ia begitu khawatir melihatku sakit. Dan tanpa diperintah perasaan itu pun kian membesar. Dari mulai tak ingin dia jauh dariku, sampai ketahap ingin memiliki.

Dia sosok wanita yang baik, lemah lembut, cantik, dan anggun. Keluarganya sudah lama tiada, begitupun dengan keluargaku.

Awalnya hanya aku dan Chelsea yang bersahabat, lalu Marco datang dan kami bertiga akhir nya memutuskan menjadi sahabat juga. Chaelsea tinggal bersamaku di sebuah apartement yang tak jauh dari Universitasku.

"Michael cepatlah turun makanan sudah siap!" seperti biasa setiap pagi Chelsea selalu menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Tak jarang Marco sering bergabung bersama kami.

"Aku akan segera turun!" sahutku. Aku mulai melangkahkan kakiku menuruni satu persatu anak tangga dengan bersiul.

"Jangan bersiul di dalam rumah Michael" dengar hal sekecil apapun dia langsung menasehatiku.

"Iya, mom"

"Kau ini memang aku ibumu. Lekaslah sarapan lalu berangkat, bukankah kau ada kelas pagi."

"Bolehkah aku maliburkan diri hari ini? Rasanya aku ingin terus bersamamu"

"Tentu saja tidak, diluar sana ba-"

"Banyak yang tidak bisa sepertimu. Iya iya aku mengerti. Baiklah aku akan berangkat." sudah pasti itu yang akan ia katakan jika aku sudah mengeluh dengan kewajibanku mengejar gelar sarjana.

"Eum Michael ada yang ingin aku bicarakan denganmu"

"Apa itu?"

"Emm itu, aku-, ah mungkin nanti saja sebaiknya kau segera berangkat. Sekarang bagianku lembur." Aku nenatapnya bingung, tapi akhirnya aku menganggukkan kepala. Karena memang aku harus segera berangkat sebelum dosenku mengamuk.

Ya. Chelsea tidak melanjutkan sekolahnya. Ia lebih memilih bekerja daripada melanjutkan studynya.

"Aku akan menjemputmu nanti."

"tidak usah, aku akan pulang bersama Marco nanti"

"Eoh, baiklah."

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 p.m. tapi kenapa Chelsea belum juga pulang. Apa karena pekerjaannya sampai selarut ini?

"Apa aku harus mencarinya?, tapi bagaimana jika dia datang ketika aku pergi? Aishh" yang kulakukan hanya berjalan kearah pintu lalu kembali berjalan kearah ruang tamu, terus saja seperti itu sampai seseorang yang aku tunggu membuka pintu utama.

"Aku pulang" suaranya terdengar lelah. Dan juga kurasa ia tidak melihatku berdiri diruang tamu, ia berjalan kearah ruang makan untuk mengambil air dari dalam lemari pendingin.

Segera aku mendekatinya yang kini tengah duduk diruang makan seraya meminum air yang ia ambil tadi.

"Kau seudah pulang? Kenapa larut sekali? Kau tahu ini sudah pukul berapa Chelsea?" Aku mencoba bertanya dengan nada yang biasa, meskipun terdengar sedikit ketus.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 10, 2021 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Chelsea is mine! ✔️Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora