1. Awal Kehancuran

11.1K 394 3
                                        


Ghibran dan Ayah Rania duduk berhadapan. Pengantin wanitanya tidak menemani akad, karena statusnya dengan Ghibran belum sah menjadi suami istri. Dan umumnya, majlis akad nikah di hadiri banyak lelaki yang bukan mahromnya, termasuk pegawai KUA.

"Bismillahirrohmanirrohim," Ayah Rania menjabat tangan Ghibran para saksi pun mendengar dengan serius.

"Saya nikahkan engkau, Muhammad Ghibran Alkalifi bin Adnan Khalif dengan putriku, Rania Anindya Putri binti Ahmad Syarief dengan mas kawin cincin berlian dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinya, Rania Anindya Putri binti Ahmad Syarief dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"

"Gimana para saksi?"
"SAH!"
"Alhamdulillah."

Kemudian Ayah Rania membacakan doa setelahnya, "Barakollahulakum wa baroka'alaikum wa jama'a bainakuma fii khoir."

Dan kini Rania resmi menjadi istri sahnya Muhammad Ghibran Alkalifi, kaum adam yang telah lama Nayla cintai.

Nayla yang sedari tadi menyaksikan akad itu dari jendela, akhirnya menitikan air mata yang sedari tadi ditahanya di balik cadar. Hancur belebur sudah hatinya, sudah tak ada harapan lagi untuk memiliki Ghibran seutuhnya.

Nayla berlari, menjauh dari ruangan itu dengan air mata yang sudah bertumpahan membasahi cadarnya.

Ya Allah seharusnya aku tidak perlu sedih. Karena aku tidak sebaik Rania yang berani memperjuangkan Ghibran untuk menjadi imamnya. Aku hanya mampu mencintainya dalam diam dan menyebut namanya di setiap doaku. Aku tak mampu berbuat lebih selain itu. Aku lemah.

Ya Allah, kuatkan aku menerima kenyataan ini. Berikanlah aku kesabaran.

Ya Allah, aku percaya dengan takdir mu bahwa ada yang lebih baik darinya.

Ya Allah, yang maha membolakan balikan hati. Hapuskanlah rasa ini, bantulah aku melupakanya. Aku tidak mau mencintai seseorang yang sudah sah menjadi milik orang lain, aku tidak mau merasakan panasnya neraka karena perasaan haram ini. Bantu aku Ya Allah. Aku butuh pertolongan mu. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

*******

"Assalamualaikum Tante," Nayla terlihat lesuh.

"Waalaikumussalam, loh Nay, bukannya kamu jadi pendamping pengantin perempuanya?" tanya Darsih, Tante Nayla.

"Aku memang di tawarkan kemarin, tapi aku menolaknya."

"Kenapa? Bukankah Rania sahabatmu?"

"Aku hanya lelah," jeda Nayla, "Aku masuk ke kamar dulu ya Tan, mau istirahat sebentar."

"Tapi kamu nanti hadir ke walimahanya?"

"InsyaAllah, Nayla usahakan datang," walaupun hati Nayla sedang sakit.

"Yasudah, nanti berangkatnya bareng Tante ya."

"InsyaAllah Tante," lalu Nayla bergegas menuju kamar.

Selama ini Nayla hanya tinggal bersama Tantenya juga Kakaknya bernama Nina Anggraini. Karena Nina sudah menikah jadi jarang terlihat dirumah Nayla.

Orang tua mereka sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu akibat kebakaran rumah yang menimpa mereka, hanya Nina dan Nayla yang selamat dari peristiwa itu. Dan suaminya Darsih juga sudah meninggal, karena menderita penyakit diabetes.

Nayla lulusan S1 PGSD, Alhamdulillah dia sudah ngajar di SD Nurussalam yang tidak jauh dari rumahnya. Memang sudah menjadi impiannya menjadi seorang guru. Menurutnya, menjadi guru menyenangkan, tidak hanya berbagi ilmu tapi juga berbagi kasih sayang.

Nayla untuk Ghibran (SELESAI)Stories to obsess over. Discover now