1

238 10 0
                                        

Deru nafas sangat mendominasi di ruangan itu, seorang gadis tengah terkapar didalamnya dalam keadaan mengenaskan. Ia pun menangis seraya berkata, "ibu..hiks! Aku ingin pulang! Hiks!"

Tiba-tiba pintu pun terbuka dengan kerasnya, "siapa yang menyuruhmu menangis?!" Seorang pria datang lalu menyeret si gadis keluar ruangan dan memindahkannya ke ruangan lain yang didalamnya terdapat satu kursi dan banyak meja-meja yang berjejer di sudutnya.

"Tolong... hiks! lepaskan aku.. hiks!" Lirih si gadis, tetapi si pria tetap menariknya kasar dan mendudukkannya di kursi itu.

"Kau diam disitu!! Jangan mencoba beranjak dari situ!! Atau terima akibatnya!!" Sang pria mengambil sesuatu dari salah satu meja di dalam lokernya. Borgol. Si gadis terlihat pucat ia sangat takut.

Sang pria tersenyum sinis lalu memborgol kedua tangannya ke belakang, dan memborgol salah satu kakinya, sehingga sekarang ia tak bisa bergerak. Ia pun semakin terisak, membuat si pria kesal dan menampar pipinya keras.

"Jangan menangis!! Kau mau aku tambah hukumanmu hah?!?!"

Ia hanya terdiam, sambil sesugukan.

"Tidak mau kan!! Sekarang diamlah!" Si pria mengambil pisau dari sakunya.

Ia terkejut dan menggeleng-geleng kasar, "jangan..." lirihnya.

Sang pria semakin menyeringai lalu mengambil salah satu kakinya, "kita mulai sayang!"

"Tidak! Tidak! Kumohon! Tolonglah tuan!"

Sreeeeet! Sret! Sret!

"AAAKH!!" Ia berteriak sampai bergema, pisau itu menyayat kakinya sampai darahnya merembes, tapi sang pria lebih dulu menjilatinya sampai celemotan karena darahnya mengalir begitu deras.

"Ini balasanmu sayang! Tapi ini belum cukup!"

Plak! Plak! Plak!

Telapak tangan itu menampar keras pipinya hingga memerah, ia meringis sakit. "Hentikan ku mohon padamu tuan!"

"Kumohon..." lirihnya mulai meneteskan air mata.

Si pria mencengkram rahang si gadis menampakkan air mata yang mengalir, ia menjilatnya sehingga tak ada air mata yang membanjiri pipi si gadis.

"Sudah ku bilang! Jangan menangis sayang! Kau membantahku ya? Berhentilah menangis okay? Aku akan melepaskanmu!"

Sang pria menepati janjinya, ia membuka borgol yang mengikat tubuh si gadis.

"Sudak ku katakan! Untuk tidak dekat dengan pria lain, apalagi dengannya! Karena aku sangat membencinya! Jangan ulangi ya?" Pria itu berkata sangat lembut, sambil mengecup dahi si gadis. Sedangkan si gadis mengangguk pelan.

"Bagus!" Ia mengangkat si gadis dan membawa ke kamarnya dan membaringkan si gadis dengan lembut lalu ia berbaring di samping menarik si gadis ke dekapannya, ia pun memeluknya dengan posesif dan mengecup puncak kepala si gadis.

"Tidurlah!" Ujarnya sambil mengelus surai belakang si gadis sampai si gadia pun tertidur karena belaian itu.

---

"Apa kau akan terus seperti itu? Kau tak kasihan dengannya?" James bertanya dengan nada kesal tetapi wajahnya tetap datar dan tentu saja tampan.

"Entahlah... aku butuh pelampiasan! Kemarin aku tak sempat mendapat orang karena sibuk dengan perusahaan!" Henry menjawabnya dengan santai sambil meminum vodka dihadapannya.

"Dasar kau! Kau kan bisa melampiaskannya pada maid atau bodyguardmu! Kau tau dia sangat tertekan karena sikap gilamu ini!" James sungguh kesal dengan sahabatnya ini, bisa bisanya ia menyiksa seorang gadis dibawah umur terlebih lagi orang tua gadis itu mempercayakan pengasuhan kepadanya. Awalnya memang Henry sangat menyayanginya, tapi lama-lama Henry berubah menjadi monster, ia tau sikap itu memang ada dari dulu, tapi ia tak menyangka akan timbul kepada si gadis cantik nan manis yang permah ia sayangi itu.

I Am Your MasterWhere stories live. Discover now