Surabaya,19 April 2011
Suasana hening pagi,ayam berkokok bersaut saut-an membangunkan seorang gadis berusia 17 tahun 12 hari.
Gadis berwajah oriental,memiliki kelopak mata ganda dengan alis yang tebal tertata rapi serta rambut acak acak an.
Membuka mata menyambut pagi ini,berharap sang senja segera menjemputnya.
Shania POV
Tok tok tooook,, duk jeduuk ,, (baca : mengetuk pintu)
"Morneeenggg Dek,buruan bangun,mau berangkat bareng ga?"
"Issh,iya bang bentar cici beres beres dulu nih,sekalian mandi." Sahutku,
Dia Agam, lebih tepatnya saudara kandungku selisih usia 4 tahun denganku, mungkin dia sedikit berantakan,tapi hanya dia satu satunya manusia tertampan dalam kamus kehidupanku selain alm. papa.
Aku tinggal di rumah sederhana milik mama, semenjak papa pergi perusahaan ritel miliknya mengalami kebangkrutan. Hingga mama depresi dan mengirimkan kami di tempat mama dibesarkan.
Aku dan bang Agam lahir di Jakarta,tumbuh besar di sana. Namun semuanya berubah saat aku di buang pergi ke Surabaya oleh mamaku.
Author POV
"Udaah lemot,baju kea tukang cukur gitu,apalagi dah itu kaos kaki sebelah,uda kea kang becak boss" Ejek Agam.
"Mending gua cewe bang,daripada lu sok rapi,nyatanya busuk dah kelakuan jorok kea sampah wleek" Balas Shania.
"Beraninya elu dah wkwkwk,dasar adik satu ga sopan banget sama gue,gaada segan segannya."
"Yauda nih,lu ga telat bang? Ga berangkat nih?"
"Oh shit,karna lu gua bakal puter waktu kalo bisa, uda buru keluar,kunci rumah dulu gua ambil beki di garasi belakang."
Oh iya,beki adalah satu satunya kendaraan motor cbx milik bang Agam satu satunya,Agam dulu rela jual Shani daripada si beki engga ganti oli,biar dikata si beki juga makan gitu.
"Siaap abaaangg Agaaam agaaamaaa,,,"
Emang beda deh bang Agam dari cowok lainnya.
"Syialand lu,gua denger ya"
Agam mengantarkan Shania dengan selamat hingga tujuan, setelahnya ia tancap gas ke kampus tempatnya mencari ilmu.
Shania kini berada di angkatan ke 2 Smk Taruna Bakti jurusan Multimedia. Disinilah dia bertemu dengan kawan dan masa lalunya.
Shania POV
Sejak kematian papa,mama banting tulang kerja dan menghidupi kami,ia hanya memberi uang bulanan dan memenuhi kebutuhanku dengan Agam. Sudah 3 tahun berjalan aku disini.
"Ci shan,nanti bareng shasya buat tugas animasi 3Dnya,dikumpul minggu depan." Ujar bella.
"Halah sih bella,kayanya udah capek sama kamu shan,sama aku aja bikinnya." Leo.
"Opo sih le,aku iku kebagian mbe dina. (Apa sih le,aku sudah kebagi sama dina)" Sahut bella.
"Halah janco,bilang aja udaaah lelah seregu bareng shani wkwk" Leo.
"Hush,udah udah bicaranya, iya bell nanti aku hubungi sasya." Sahutku.
"Iya tau tuh,Leo mulutnya bangke." Ejek Dina.
Bella,leo,dina teman dekatku sekelas di sekolah ya walaupun mereka tidak sempurna,namanya orang kan banyak kekurangan,mungkin kekurangan mereka paling ditonjolkan.
Kegiatanku di Smk tidak jauh dengan Praktikum kejuruan.
Kalian pasti bertanya,kenapa bisa aku sekolah di SMK?
Yups. Hanya lelah saja dengan kehidupan remaja yang itu itu.
Ingin keluar dari zona nyaman,ingin punya pengalaman dunia kerja,itulah alasanku pergi SMK.
Beda halnya dengan bang Agam,dia cerdas,Dia lebih suka mempelajari dan menganalisa materi daripada praktek kerja.
Pantas saja sekarang ia mengambil bidang studi sains dkk,aku tidak paham dengan pelajaran bang Agam.
Aku berjalan keluar kelas menuju taman belakang dengan menenteng sebuah teajus apel yang dibelikan bella tadi.
Memasang earphone dengan nada mengalun kesukaanku. (Peach-IU)
"Soal yang kemaren jangan dipikirin ya."
Aku terkejut dengan tepukan tangan di pundakku,sehingga aku menoleh kebelakang.
"Apaan sih bi, bikin kaget aja" Ujarku.
"Lusa,aku pergi ke Malang,mau ikut? Ada abi sama bunda,si kimpul juga ikutan."
"Lusa? Sepertinya engga deh bi,banyak tugas yang belum jalan ini."
"Hmm,yasudah lah. Kenapa di taman sendiri?,lagi gaada kelas?"
"Bosen aja."
"Kalo gitu aku temenin. Aku juga mau bolos kelas,susah tau ngitung angka yang belakangnya beruntun kea kereta lebaran." Alibi Abian.
Abian adalah seonggok pria tampan yang dapat dikatakan idaman bagi wanita disekolahku. Ia pandai bersosialisasi,memiliki wajah sempurna dengan alis tajam,rahang tegas,kulit putih.
Sayangnya dia milikku sejak 2 tahun lalu. Jangan diambil,mungkin dia jodohku. Bolehkan?
"Huft,yasudah sini duduk."
Bian tersenyum riah,segera mungkin menempatkan kepalanya di pangkuanku.
Angin berhembus ringan,Abian terlelap dengan ukiran mata tertutup dan bibir tipis merah nakalnya terkatup sempurna.
Dia aktif dalam berorganisasi,tidak pandai mengucap apa yang di rasakannya pada orang lain.
Hanya saja dia sudah kuanggap suamiku kelak.
Keluarganya berpegang teguh pada keimanan beragamanya. Sungguh keluarga harmonis dimataku.
Tidak salah jika Abian tumbuh dewasa dan bijaksana. Dia seangkatan denganku bedanya ia berada di kelas Akuntansi.
___
©2019/November
VOUS LISEZ
Love Side
NouvellesPolosnya kehidupan bentuk kenikmatan sebuah rindu. Shania Cliantha menemukannya se-masa lalu hingga mengubahnya menjadi pilu. Seorang lelaki nampak menopang bahu diantara mahkotanya. Perempuan menancapkan luka padamu. "Apa caramu bertemu denganku d...
