Chapter Satu | About Fania

121 14 6
                                        

Selamat membaca😊

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

CHAPTER SATU | ABOUT FANIA

"Hidupku melebihi rumitnya Logaritma."
Fania Dandelionersa

- ♡ - ☆ - ♡ - ☆

Silaunya sinar mentari yang merambat masuk melalui jendela ketika gordennya di sibakkan oleh seseorang, membuat matanya mau tak mau harus terbuka.

Rasanya, mimpi yang ia alami tadi sangat nyata. Terngiang-ngiang tangisannya ketika melihat seorang laki-laki yang tidak ia ketahui siapa, meninggalkannya.

Rasanya aneh, laki-laki itu hendak menoleh, hampir saja ia melihat wajah itu, namun sialnya silau matahari membangunkannya.

Ia mencoba kembali tertidur, memejamkan mata dan mencoba terhanyut dan mengulang mimpi yang sempat tertunda itu. Hanya saja, hal yang dia lakukan itu pasti akan gagal. Ia tidak dapat melanjutkan mimpi yang sempat tertunda itu. Ia sempat melihat al-qur'an berwarna cokelat yang digenggam di tangan kanan laki-laki itu.

"Bangun! Udah jam 8 pagi." Perintah Margareth-adik mamanya yang mengasuh gadis itu sejak kecil. Setiap pagi, selalu wajah Margareth yang dia lihat.

"Bentar lagi, Tan." Jawabnya masih dengan mata terpejam.

"Bangun sekarang atau nanti malem kamu ngak boleh pergi sama teman-teman kamu?" Tanya Margareth. Sial, Gerutu gadis itu, tantenya selalu tau kegiatan yang akan ia lakukan sepanjang hari. Tante-tante kepo.

"Arhg." Gerutunya. Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai setelah menyibakkan selimut yang menutup badannya sejak tadi. Kemudian berjalan menuju kamar mandi meninggalkan ranjang Queen Size miliknya.

"Mama sama papa kamu masih kerja." Ujar Margareth sebelum pergi. Orang yang mendengar itu hanya menghela napas gusar. terlalu biasa, batinnya sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi itu.

Selesai mandi, ia sudah tidak melihat keberadaan Margareth disana.

Fania Dandelionersa nama lengkapnya. Fania adalah nama panggilan yang diberikan orang tuanya. Ia sempat berfikir, apa mungkin orang tuanya yang memberikan nama itu? Sedangkan sejak lahir ia hanya di kasuh oleh tantenya, Margareth.

Dandelion di ambil dari nama ayahnya Dandel yang berasal dari Belanda. Dandelion juga bisa di artikan sebagai bunga cantik yang anggun dan kasta yang tinggi. Dandelion grup adalah nama perusahaan milik keluarganya. Perusahaan tekstil yang sudah bertahun-tahun umurnya itu tidak hanya ternama di Indonesia, melainkan sudah go international.

Dan ersa diambil dari nama ibunya. Wanita anggun dan cantik, yang selalu menjaga image di depan orang banyak.

Fania menatap pantulan dirinya di depan cermin. Pakaian ketat yang selalu bertengger di tubuhnya, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Menurutnya itu cantik.

Rambut ikal alami dan warna pirang pada rambutnya yang di dapat dari keturunan ayahnya. Rambutnya juga panjang hingga pinggang. Kulit putih, mata hazel, dan hidung yang mancung membuatnya merasa sebagai seorang wanita yang sangat sempurna.

Ditambah lagi dengan bendo polos yang selalu bertengger di atas rambutnya yang ikal menambah keanggunannya.

Drrt Drrt Drrtt

Deru ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang membuatnya mengalihkan pandangan dari cermin yang sejak tadi menampilkan pantulan dirinya.

Fania langsung meraih ponsel itu dan melihat nickname Kane❤ yang tertulis disana. Fania kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari kekasihnya itu.

"Morning honey," sapa seseorang di ujung sana.

"Lebay." Jawab Fania singkat.

"Always to you." Kane terus menyerocos bak preman yang sedang menggoda seseorang.

"Au ah." Fania mendengar sangat jelas deru tawa dari suara berat milik Kane.

"Jalan yuk."

"Ngak."

"Ayo lah, mumpung lagi weekend."

"Ngak, aku capek."

"Ooh ok. Istirahat ya honey, aku nongkrong di tempat biasa sama teman-teman ya."

"Ya." Jawabnya cuek.

Kaneka Rowles. Cowok yang selalu memanfaat kekayaaannya. Fania sudah mengetahui itu sejak lama, hanya saja ia masih butuh seorang pacar untuk jadi 'budak'.

Fania kemudian keluar kamar, memasuki lift agar sampai di lantai bawah. Rumah mewahnya itu memiliki 5 lantai dan sangat luas. Sangat menguras tenaga bila harus menuruni tangga sampai lantai 1.

Iya benar, rumah besar dan mewah itu tak akan lengkap karena tak pernah ada kasih sayang disana. Fania hanya dapat membayangkan, ketika ke ruang keluarga melihat ada mama dan papa nya, serta dirinya yang tengah duduk diantara kedua orang tuanya. Tawa dari setiap nyawa itu terdengar sangat jelas di telinga Fania. Hanya saja, ia kembali tersadar kalau itu hanyalah hayalan.

Kesunyian selalu menghantuinya. Weekend yang seharusnya di habiskan bersama keluarga. Tapi bagi orang tua Fania, berkas-berkas di kantornya lebih berharga dari pada membuang-buang uang hanya untuk kesenangan semata.

Fania dilahirkan hanya untuk menjadi penerus dari Dandelion Grup. Sejak lahir ia tidak pernah di asuh oleh ibunya. Seminggu setelah Fania di lahirkan, mama-nya kembali bekerja. Rasanya, kasih sayang orang tuanya sangat mahal harganya.

Ting

Pintu lift terbuka. Fania langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Fania melihat Margareth sudah menunggunya.

Fania lalu duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan Margareth. Seharusnya yang berada di posisi Margareth itu adalah mama-nya. Ah sudahlah, tidak penting mengingat hal itu. Sudah 18 tahun Fania di lahirkan ke bumi, mama-nya tak pernah makan berhadapan dengannya seperti dirinya dengan Margareth saat ini.

Fania kemudian menyantap makanannya, begitu juga dengan Margareth.

"Bagaimana dengan kuliah kamu?" Tanya Margareth di sela-sela breakfast mereka.

"Biasa aja." Jawab Fania singkat. Iya benar, biasa aja. Dipaksa masuk ke fakultas bisnis manajemen.

"Kamu harus serius kuliah. Biar nanti bisa meneruskan perusahaan keluarga kamu." Kata Margareth.

Fania tak menjawab. Ia sudah bosan dengan kata-kata itu, selalu saja mendengarnya ketika bersama Margareth.

"Jangan pacaran terus, nanti kamu malah ngak fokus sama kuliah kamu." Margareth kembali buka suara.

Fania langsung menghentakkan sendok dan garpu di tangannya. Dan langsung berdiri, meninggalkan Margareth yang menatapnya heran.

Fania kembali masuk lift, naik menuju lantai 4. Satu-satunya ruangan yang tak boleh di masuki oleh pembantunya, termasuk Margareth dan kedua orang tuanya.

Fania selalu kesana ketika hatinya sedang tidak baik. Bermain piano dengan nada yang sangat terdengar jelas bahwa hatinya sedang kecewa dan ingin sekali marah. Entah marah pada keadaan atau mungkin pada takdir yang ia alami.

Alunan nada yang biasanya terdengar sangat lembut dan merdu kini terdengar bahwa yang memetiknya sangat emosional.

Ia tidak mempercayai akan adanya tuhan. Baginya, tuhan itu tidak adil, tuhan itu tidak seharusnya ada. Walaupun di Kartu Keluarga tertulis sangat jelas bahwa ia beragama islam.

Kak Dave, Fania capek. Fania nyusul Kak Dave ya. Fania udah lelah, Kak.

To be Continue

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
To be Continue
Al-qur'an Untuk Fania
Wed, 8 April 2020

Alquran Untuk FaniaStories to obsess over. Discover now