"Sehari aja enggak usah buat keributan bisa nggak sih?"
"Ibu harap hal ini tidak terjadi lagi Zeva," ujar seorang guru yang kini berada dihadapan Zeva.
Zeva mengangguk dan menunduk dalam-dalam. Dirinya kini tidak berani menatap guru BK-nya yang terkenal killer itu. "Baik bu," ucap Zeva.
"Sudah menjadi tugas seorang ketua kelas untuk mengatur semua anggotanya untuk tertib. Jangan sampai ada keributan lagi, kali ini ibu hanya memberi teguran. Kalau sampai terjadi lagi, ibu akan memberi hukuman yang lebih berat. Ini catatan ke-16 karena ulah kelas kamu yang membuat keributan. Apakah kamu mengerti Zeva?" tanya ibu gurunya itu.
"Me-mengerti bu," jawab Zeva sambil tergagap.
"Baik, kalau begitu kamu bisa kembali ke kelas."
"Terima kasih bu."
Setelah keluar dari ruang BK, Zeva menghela nafas panjang. Kali ini dirinya begitu kesal karena ulah teman-teman sekelasnya yang membuat Zeva masuk ke ruang BK. Sebagai ketua kelas, yang notabene'nya sebagai penanggung jawab atas seluruh keadaan kelas. Maka dirinya lah yang lagi-lagi dipanggil oleh Bu Maya, guru killer yang tadi membuatnya keringat dingin. Beruntung untuk kali ini dia hanya diberi teguran, bukan hukuman yang biasanya diberikan.
"Kali ini gue nggak bakal ampunin lagi tuh bocah-bocah." Umpat Zeva sembari berjalan ke kelasnya.
XI TKJ 1 adalah kelas yang paling dianggap rusuh dan gaduh oleh guru-guru dan siswa-siswi di sekolah ini. Sudah menjadi sebuah kebiasaan rupanya karena dari kelas X, kelas itu juga yang paling banyak mendapat catatan dari BK.
Setelah lama berjalan, akhirnya sampailah Zeva di ruang kelas XI TKJ 1. Langkahnya terhenti karena dia merasakan keanehan saat memasuki ruangan itu. Kelas yang awalnya berisik, gaduh, dan berantakan mirip kapal pecah. Kini berubah menjadi tenang, rapi, dan hening. Niatnya untuk memarahi teman-temannya pun dia urungkan.
Zeva mengangkat sebelah alisnya karena bingung. "Ngapain diem? Tobat lo pada?"
Hening.
"Bodo amat lah, dari pada berisik. Entar gue juga yang kena marah Bu Maya," ucap Zeva kemudian duduk di bangkunya.
"Ck, berisik salah, diem juga salah. Lama-lama gue jadi mirip Raisa deh yang serba salah," cetus seseorang dari sudut ruangan dengan kaki berada di atas meja.
"Gila lo Rel, Raisa itu cewek lo sendiri cowok. Dasar enggak waras!" ujar seseorang lagi.
"Lo juga aneh, orang lagi bercanda juga nanggepinnya serius amat," ucap orang tadi.
"Udah-udah diem. Karel, lawakan lo nggak lucu ya, terus tuh kaki ngapain lo ke atasin turunin enggak?" ancam Zeva yang mulai jenuh dengan keadaan kelasnya.
"Iyee ... iyee, cewek mah ribet nggak bisa diajak santuy." Gumam Karel sembari menurunkan kakinya.
Zeva masih kesal dengan perilaku teman-temanya yang tidak bisa diajak kerja sama. Semuanya hanya mementingkan dirinya sendiri. Walaupun ada beberapa temannya yang kalem dan tidak membuat ulah.
Zeva kemudian maju ke depan kelas untuk memberikan nasihat kepada teman-temannya karena kebetulan kelasnya sedang ada jamkos. "Oke to the point aja gue harap kali ini adalah catatan yang terakhir kita di BK. Apa lo pada enggak malu jadi bahan gosip kelas lain karena keonaran kita? Please ... disini gue berharap dengan sangat kekompakan kita. Buktiin kalo kita juga siswa-siswi yang baik, yang punya keniatan buat belajar. Pada setuju enggak?"
"Gue setuju!" Ucap Karel dengan lantang.
Semuanya memandang ke arah sumber suara. Karel, laki-laki yang dianggap si pembuat onar karena sering sekali membuat kegaduhan dengan tingkahnya yang annoying. Kini menyetujui usul Zeva. Contohnya minggu kemarin saja dia memecahkan kaca jendela karena menendang bola terlalu keras saat bermain bola di dalam kelas.
YOU ARE READING
WAKAJI
Teen FictionWAKAJI atau warga kelas tkj siji (siji dalam bahasa indonesia artinya satu) adalah kelas yang paling susah untuk di atur. Berbagai upaya pun di lakukan untuk bisa mengatasi segala kegaduhan yang di buat oleh siswa-siswi kelas tersebut. Namun ada saj...
