Prolog

250 56 19
                                        

"Ck! Jangan nangis."

"Ayo, aku bantu obatin luka kamu."

~~~

"Lain kali kalo emang gak bisa naik sepeda jangan naik. Gini kan jadinya."

~~~

"Ini buat kamu. Jangan nangis lagi, kalau masih gak mau berhenti nangis, aku ambil lagi ice cream nya.


"... Ara!"

"Amara!!"

"Ah!? I-iya?"

Gadis bersurai panjang kecoklatan itu sedikit terperanjat dan refleks menoleh ke samping, melihat satu sosok yang barusan memanggilnya. Seorang wanita usia 40-an namun masih terlihat cantik itu, berdiri tepat disampingnya seraya menatapnya dengan kerutan di dahinya.

"Kamu ngelamun?" tanya Sang Bunda sambil mengusap surai putrinya dengan lembut.

"Ah, I-itu...," Amara nampak berpikir. Gadis itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sembari tersenyum kecut.

Bunda Sherin mengalihkan pandangannya pada sebuah benda di genggaman tangan Amara, lantas dari situ Bunda Sherin paham apa sebab putrinya itu melamun. Bunda Sherin tersenyum, lalu menarik kursi lainnya kemudian duduk disamping Amara yang saat itu duduk di depan meja belajarnya.

"Bunda bahkan gak tahu dan gak pernah liat langsung siapa pemberi liontin cantik ini," ujarnya lembut masih dengan senyuman yang belum memudar sembari mengambil alih liontin berbandul hati itu dari genggaman Amara. Amara hanya diam dan menunggu kelanjutan ucapan Bundanya.

"Ini udah yang kesekian kali Bunda mendapati kamu ngelamun sambil memperhatikan liontin ini," Bunda Sherin beralih menatap Amara, "Seberapa besar pengaruh pemilik liontin ini ke kamu?" lanjutnya dengan suara lembut serta senyuman yang masih terlukis di wajahnya.

Mendengar pertanyaan bundanya, Amara kini tertunduk. Terlihat gadis itu menghelah napas panjang dan kembali menatap bundanya sambil tersenyum--senyuman yang terlihat dipaksakan.
Amara masih diam, memikirkan pertanyaan dari bunda Sherin barusan apakah dia akan menjawab Ya atau Tidak. Jika Ya, lalu apa alasannya? Jika Tidak, apa pula alasannya.

Amara bingung.

"Amara--"

"Ara gak tahu Bunda...," lirihnya, memotong ucapan Sang bunda dengan cepat.

Suasana hening kemudian.

Bunda Sherin akhirnya hanya bisa tersenyum dan kembali mengulurkan tangannya, mengusap lembut surai kecoklatan itu.

"Ya udah, Bunda gak maksa kamu buat cerita. Yang terpenting sekarang, kamu harus turun gih. Kak Tristan udah nunggu di depan," kata sang bunda, lalu mengembalikan kalung liontin itu pada Amara.

Amara mengangkat kepalanya, memaksakan senyumnya kemudian mengangguk.

••°°°••

Amara dan bunda Sherin berjalan menuruni tangga. Sesampainya di bawah tepat di ruang utama, seorang pria berusia 3 tahun lebih tua dari Amara duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

"Tristan, maaf ya nunggu lama. Amara kesulitan mencari seragamnya tadi," ujar bunda membuat pria itu mendongak. Amara melirik bundanya dengan kedua alis yang terangkat. Ah, rupanya bunda Sherin memberi alasan yang tak masuk akal.

Tristan berdiri, lalu kemudian tersenyum, "Gak apa-apa kok, bunda."

Tristan adalah sahabat kecil Amara, bukan kakak kandungnya. Mereka sudah bersama sejak kecil hingga sekarang. Sejak kecil Tristan selalu datang ke rumahnya jika dia punya waktu, oleh karena itu sudah menjadi hal biasa dia menganggap rumah Amara seperti rumahnya sendiri dan juga memanggil bunda Sherin dengan kata 'bunda' dan begitupun sebaliknya dengan Amara.

"Ya udah gih, berangkat, nanti telat lagi."

Tristan dan Amara bersalaman terlebih dahulu dengan bunda sebelum berangkat.

"Hati-hati."

"Siap, bunda," balas Amara lalu berjalan terlebih dahulu ke arah pintu di ikuti Tristan di belakangnya.

"Emang udah bisa ke sekolah?" tanya Tristan saat keduanya sudah berada di teras rumah. Amara terus berjalan ke arah mobil.

"Iya. Ara udah baikan kok," jawab Amara tanpa menoleh ke belakang.

Amara sempat drop karena kebanyakan mikirin tugas dan harus dirawat di rumah sakit. Sudah seminggu Amara tidak menginjakkan kakinya di sekolah, kemarin dia baru pulang dari rumah sakit dan hari ini dia memaksakan diri untuk ke sekolah.

Amara bosan berada di rumah. Dia rindu suasana sekolah dan juga sahabat perempuannya, Gia.

Tristan akhirnya hanya menghela napas gusar dan melangkah cepat menyusul Amara yang kini sudah masuk duluan ke dalam mobil.

Namun, langkah pria itu terhenti ketika matanya tak sengaja mengkap sesuatu di dekat mobilnya, tepat di samping ban mobil belakangnya.

Tristan perlahan menunduk, mengambil kalung liontin berbandul hati tersebut. Kerutan di dahinya semakin terlihat, ia mencoba mencerna baik-baik apa yang dilihatnya sekarang benar adanya atau tidak?

"Kalung ini..."

Tristan sungguh kenal benda ini, sangat mengenalinya. Dan sekarang Amara memilikinya? Kenapa bisa? Atau kalung liontin itu hanya kebetulan sama saja?

Tapi itu tidak mungkin. Karena kalung liontin itu jelas memiliki perbedaan dengan kalung liontin yang sama lainnya.

"Gimana mungkin..."

To be continued...

Jangan lupa vote and comment ^_^

Peace Of Your HeartHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora