Flash Back Kisah

668 23 12
                                        


Yasmin, orang-orang memanggilku.

Terlahir dari keluarga yang brokenhome, bukanlah sebuah pilihan. Jika aku mampu memilih, akan kupilih seorang ayah yang baik, yang mampu membuat keluarganya tetap utuh sampai titik akhir.

Namun, itu hanya diberikan pada orang yang punya dua pilihan. Sedangkan aku, harus menerima tanpa ada pilihan.

🌿🌿🌿

"Daripada aku di madu, lebih baik ceraikan aku!" Inilah kata-kata yang selalu terngiang di telingaku saat melihat Papa.

Sejak mereka berpisah, tak ada kebaikan yang sempurna di rumah ini. Semua bertingkah semau dan sejadi-jadinya. Termasuk diriku sendiri.

Dirto adalah laki-laki terakhir di rumah ini, setelah Papa pergi.
Namun, Dirto bukan anak yang kuat. Sejak seisi rumah menjadi rumit. Dia sering sakit-sakitan. Sampai harus keluar masuk rumah sakit, atas kanker yang dideritanya. Selama ini, Dirto tak pernah menunjukkan jika dia sakit. Semua terungkap saat Papa meninggalkan kami.

Dirto sering sakit kepala, kemudian keluar darah dari hidungnya. Dirto kanker otak. Mama sangat terpukul, saat terakhir Dirto memejamkan mata. Papa berusaha memeluknya, tapi aku tak ingin membiarkan Papa bertindak semaunya.

"Pergi!  Pergi dari sini!" Suaraku memecah suasana haru. Jiran tetangga yang sedang membaca tahlil, menjadi terhenti. Sebagian menenangkanku agar tidak mengusir Papa. Tetap saja, Papa akhirnya mengalah kemudian pergi meninggalkan  rumah duka.

***

Kini hanya ada Aku dan Lila.  Aku dan Mama bersyukur, Lila mempunyai nasib yang berbeda dari Dirto.

Dia berhasil menjadi sarjanawati di salah satu Universitas terbaik di Palembang. Kemudian menikah dengan Baskoro, seorang pengusaha yang kaya raya.

Namun keberhasilannya ini, bukan untuk keluarga kecil kami. Melainkan untuknya sendiri.
Dia hidup bahagia bersama Baskoro dan anak-anaknya, jauh dari rumah Mama. Dan kami, sudah tidak tinggal satu provinsi.

Namun, Mama tak mengeluhkan kerinduannya pada Lila. Bagi Mama yang terpenting adalah, dia bahagia

Sedangkan aku ....
Anak pertama, yang bahunya harus sekuat baja. Yang wajahnya harus lebih tebal dari tembok cina. Yang kakinya harus lebih kuat dari menara pisa. Yang hatinya pun harus lebih indah dari menara Eiffel.

Pun kemudian, tidak menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Tidak menjadi anak terkuat bagi Mamaku. Tidak menjadi hati yang tulus bagi keluarga kecilku.

Karena aku ....
Sudah GAGAL TOTAL.
Gagal total untuk menjadi anak, kakak, istri, dan ibu yang baik bagi mereka.

***

Berawal dari salah pergaulan. Alasan yang tidak ingin aku utarakan, jika ini semua karena sebuah kata "Brokenhome". Maka akan menambah beban dalam batin Mama. Dan aku pastikan, semua ini karena salah dalam memilih teman bergaul. Mengenal seorang Barrac. Yang kemudian, kulampiaskan semua kekecewaanku padanya.

🍁
One day ....

"Beb, hari ini clubing nggak?" Katanya, seraya menyenggol lenganku.

"Nggak, aku capek mau istirahat."

"Nggak asik dong. Pergi aja yuk!"

"Yaudah, entar liat aja. Kalo pergi, jemput aja aku di rumah!"

"Oke sayang!"
Ternyata hari ini, jam pulang lebih awal.
Yah, aku duduk di kelas 3 SMA. Dan pacarku Barac, adalah teman satu kelasku.

Entah kenapa aku menerima cintanya, mungkin karena dia anak motor. Zaman itu anak motor bisa jadi coverboy di sekolah.

Sebenarnya, aku lebih suka dengan cowok pendiam, lovable dan sedikit lugu. Supaya bisa membuatku menjadi lurus. Maksudnya, kembali ke jalan yang lurus. Karena hidupku sudah bengkok saat sering mendengar percekcokan antara Mama dan Papa.

Hijrah Cinta Yasmin ✔Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin