Elegi yang Bergema di Dasar Jurang (1)

45 6 0
                                        

Sebulan telah berlalu sejak Countess Evelyn mengembuskan napas terakhir di wastu megah yang tersembunyi di atas bukit penuh rona. Tadinya bangunan itu hangat, terasa penuh cinta, bak senantiasa disinari oleh pelita. Kini hanya menyisakan kesunyian dan kegelapan yang menyesakkan. Setiap detik yang bergulir di ruangan itu seakan membekukan satu persatu kenangan indah, memudarkannya bersama gerakan waktu yang menguras jam pasir manusia dengan cepat. Semua tentang Evelyn Fairchild—senyumnya yang menawan, tawanya yang menggema, dan lembutnya sapaan yang selalu mampu menyentuh jiwa—sekarang lenyap seperti salju yang meleleh di atas tanah.

Earl Alexander Hawthorne berdiri terpaku di depan meja kerjanya, merasakan kekosongan yang menyakitkan mengimpit dadanya. Wastu yang luas hanya menorehkan luka dalam di hatinya, membuatnya terus mengingat sosok Evelyn dan momen-momen manis mereka di setiap sudut ruangan. Aroma mawar yang menguar dari taman, yang dulunya menjadi favorit Evelyn, kini tak lebih dari bayang-bayang kelam yang tak berkesudahan. Ia teringat tatkala dunia luar terasa jauh dan tak berarti, hampir bagai neraka—mereka berbagi cerita, memeluk satu sama lain di bawah sinar rembulan. Saat seluruh dunia menjadi musuhnya, ia hanya punya Evelyn.

"Padahal kamu yang berjanji untuk bersama sampai akhir, Evelyn. Tapi, mengapa?" Dalam kehampaan, Alexander merasa terasing, seolah terjebak dalam dunia yang kehilangan warna. Di antara tumpukan surat yang belum dibaca dan buku-buku yang terabaikan, ia merasa seperti hantu yang berkeliaran di tempat yang dulunya hidup. Setiap detik, rasa rindu itu menempel di kulitnya, menimbulkan rasa sakit yang tak kunjung sirna. Ia bertanya-tanya apakah Evelyn masih ada di suatu tempat, menantinya dengan senyuman yang sama, atau apakah ia telah sepenuhnya pergi ke nirwana. Meninggalkannya terjebak di dunia yang membelenggunya seperti sebuah kekang.

Karena jika kamu yang meninggalkanku lebih dulu, aku tidak akan sanggup.

Kalimat Evelyn kembali menyelimuti pikirannya seperti kabut di malam musim dingin. Masih ia ingat dengan jelas, bagaimana tangan lemah istrinya yang semakin ringkih berusaha menjangkau wajahnya. Saat itu, Evelyn sekarat. Pupil birunya yang selalu bersinar terang terlihat kosong dan mati. Bibirnya yang dulu sewarna persik berubah pucat. Air mata bercampur peluh membuat rambutnya yang biasa sehalus sutra jadi kusut masai. Mungkin orang lain berpikir penampilannya mengerikan. Rupanya akan menyayat setiap hati yang memandangnya lamat-lamat. Namun, bagi Alexander, Evelyn tetaplah wanita tercantik. Satu-satunya yang terindah. Dalam sakit maupun sehat, ia akan selalu mencintai wanita itu dengan segenap hatinya. 

"Jangan berkata begitu. Tidak akan ada yang pergi." Alexander segera meraih pergelangan tangan Evelyn dan mengecup ujungnya lembut. Ia menuntun telapak tangan yang terasa membeku ke pipinya, mencengkamnya erat sampai jemari mereka membentuk kelindan. Bibir Alexander melengkung, membentuk bulan sabit sempurna di wajahnya. "Dokter bilang kamu akan sembuh. Jika rutin mengonsumsi obatnya... kamu bisa—Evelyn?"

"Alex..." Evelyn tersenyum lemah, kedua tangannya yang rapuh mengangkat dengan susah payah, menangkup wajah pria di hadapannya. Ibu jarinya bergerak pelan, mengusap pipi Alexander berulang-ulang, seperti hendak menghapus sisa-sisa kepedihan yang membekas di sana. Netra biru itu menelusuri wajah suaminya dengan sorot yang dalam—hangat, meski napasnya sudah mulai lemah. "Tidak apa... Jika Azrael mengambil nyawaku sekarang, aku... tidak punya penyesalan apa pun."

Kata-kata Evelyn dengan napas yang kian berat, memotong keheningan yang menyelimuti kamar itu. Suara lemah dan penuh keikhlasan terdengar begitu berbeda dari sebelumnya. Tatapan Evelyn yang lembut—seolah meminta Alexander untuk berhenti melawan nasib yang sudah menjemputnya—justru meremukkan hati pria itu berkeping-keping.

"Tidak, jangan bicara seperti itu," bisik Alexander, suaranya parau oleh rasa takut dan kesedihan. "Kamu tidak akan pergi. Kita masih punya waktu, Evelyn."Tangannya mencengkeram tangan istrinya dengan kuat.

The Heart's Refuge (Antologi)Stories to obsess over. Discover now