Hidup dalam bayang-bayang Papanya sama sekali tak pernah Darren bayangkan selama tujuh belas tahun hidupnya.
Darren terjebak dalam dua pilihan yaitu menjadi pembangkang atau merelakan mimpinya dan memilih mengikuti apa yang Papanya inginkan. Ditamb...
Lompatan-lompatan kecil dan teratur dari sepasang kaki mungil seorang gadis berambut sebahu tersebut perlahan memelan kala atensinya teralihkan pada secarik kertas dipangkuan anak lelaki seusianya.
"Bukankah kita akan selalu bersama? Ayo menjadi sukses bersama-sama. Mimpi kita. Ayo wujudkan semuanya bersama. Berjanjilah untuk selalu menggenggamnya." Gadis kecil tersebut membaca sebait coretan puisi yang ada di secarik kertas tersebut.
"Kau sudah membacanya?" Anak lelaki pemilik tulisan tersebut berbalik mengubah arah duduknya menghadap gadis kecil tersebut,
"Kau menyukainya?"
Gadis tersebut memberikan anggukan semangat sebagai jawaban bahwa ia sudah membaca dan menyukai tulisan anak lelaki tersebut.
"Apakah itu salah satu puisimu?" Gadis kecil bertanya. Si anak lelaki mengangguk.
"Kalau begitu lanjutkanlah! aku ingin mengetahui bagian selanjutnyanya,"
Anak lelaki tersebut berdiri dari duduknya, berniat menyamakan tinggi badannya dengan si gadis meskipun percuma karena tingginya yang hanya mencapai bahu si gadis.
"Kalau kau ingin melihat bagian selanjutnya berjanjilah untuk selalu bersama. Kamu, Kak Bam dan juga aku. Akan aku tunjukan bagian penuhnya saat kita dewasa nanti," ucap anak lelaki tersebut menjulurkan jari kelingking kirinya meminta gadis itu untuk berjanji.
Gadis tersebut berjanji dengan membalas menautkan kelingking kanannya. "Janji! Ayo menjadi sukses dan bertemu di akhir,"
Meskipun dengan bentuk tautan jari kelingking yang aneh, pada akhirnya kedua anak tersebut sama-sama berjanji untuk bertemu di akhir setelah mereka sukses meraih mimpi mereka nanti.
Senyum indah terukir di masing-masing bibir kedua anak tersebut. Keduanya terlalu polos untuk mengerti apa yang akan mereka hadapi nantinya.
Hingga seorang anak lain yang nampak lebih tua setahun dari keduanya memanggil mereka. "Dareen, Geva kemarilah! Aku telah menyelesaikan lukisanku. Apakah kalian tidak ingin melihatnya?"
Darren dan geva menoleh lalu kembali bertatapan dengan senyum jahil di bibir masing-masing.
"No! Lukisanmu menyakiti mata kami." Tapi sedetik kemudian keduanya berlari ke arah Bambam untuk melihat apa yang telah Bambam lukis.
Dengan tangan dan kaki yang mungil Kita menari dan berpelukan. Itulah masa kecil yang penuh warna
Mereka bertiga tertawa bahagia membayangkan impian masing-masing. Berandai-andai apabila mereka dewasa nanti, menikmati impian yang telah mereka capai tanpa tahu apa saja yang akan mengacaukan dunia mereka. Mereka tak tau bahwa kehidupan di dunia ini terlalu sempit dan gila.
Mimpi yang penuh warna-warni. Semuanya meluap dalam kedua tangan mereka
Mykiddie proudly present
UNTITLED
Oops! Ang larawang ito ay hindi sumusunod sa aming mga alituntunin sa nilalaman. Upang magpatuloy sa pag-publish, subukan itong alisin o mag-upload ng bago.