1 [Banyak Gaya]

56 11 0
                                        

Nanda duduk sendirian dibangku taman sekolah. Menunggu kakaknya yang sedang ke kantin, untuk membelikannya makanan.

Hari ini adalah hari pertama pembelajaran setelah MOS selesai. Nanda masih belum memiliki teman akrab.

Akhirnya Aldo, kakak Nanda. Harus menemani Nanda kemana pun. Aldo benar-benar possessive kepada adiknya. Terutama pada Nanda. Karna, Nanda satu-satunya adik perempuan yang ia miliki.

Nanda mengedarkan pandangannya bersamaan dengan lewatnya seorang cowok didepan Nanda.

Cowok itu, satu kelas dengan Nanda. Dia di kelilingi banyak cewek dari awal MOS. Baik kakak kelas, maupun adik kelas selalu melengket pada nya.

Cowok bername-tag Denta Algovaro Fellsie. Panggil saja Denta.

Cowok itu, melewati Nanda dengan gaya sok cool-nya. Yang berhasil membuat Nanda ingin mengeluarkan isi perutnya.

"Hai," sapa Denta dengan sok manis pada Nanda.

Tak Denta sadari, di depannya ada batu besar.

Bruk!

Tubuh Denta terhuyung ke tanah. Nanda menahan tawa nya sebisa mungkin.

Tapi.

"Kepala lo berdarah," ucap Chika, sepupu Nanda yang ternyata nge-fans pada Denta. Teman satu nya juga langsung ikutan panik.

Nanda yang sedari tadi tertawa, langsung terdiam. Ia memejamkan matanya ketakutan.

Ia berdoa dalam hati, agar kakaknya cepat datang.

"Nan? Lo kenapa?" tanya Aldo sambil meletakkan sekantong plastik makanan disamping Nanda.

"Da...darah kak," ujarnya dengan sesungukkan. Aldo mengelus lembut kepala Nanda yang mulai terasa pusing dan panas.

Aldo berbalik. Oh! Dia tau kenapa adiknya jadi seperti sekarang. "Chik, bawa Denta ke UKS sana. Sepupu lo ini gak sengaja liat," Chika kaget.

"Astaga. Gue baru inget, Do. Sorry deh. Terus, Nanda gimana?" tanya Chika dengan khawatir.

"Gak usah khawatir. Gue bawa ke kelas aja dulu, dia nya," jawab Aldo.

Denta yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka menjadi bingung. "Kalian ngomongin apa sih?" tanya Denta polos.

"Ngomongin ketek Pak Ncus!" celutuk Chika yang agak kesal dengan kelakuan Denta.

Denta tidak membalasnya lagi. Ia malah meringis kesakitan karena luka di kepalanya.

🃏🃏🃏

Denta menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ia benar-benar malas mendengarkan penjelasan Bu Astuti, guru Sejarah.

Denta masih bingung. Kenapa, tiba-tiba Nanda diam membisu. Dan samar ia dengar, Nanda juga merasa pusing.

Padahal kan, yang tersandung tubuhnya. Kenapa Nanda yang bereaksi?

Ia melirik ke meja Nanda. Manis. Denta terus menatap Nanda yang sedang fokus pada pelajaran.

Jujur, rasanya susah sekali mencari objek lain selain Nanda. Rasanya sangat tenang memandangi wajah indah Nanda.

"Lah, gue mikirin apa sih?" gumam Denta pada dirinya sendiri di tambah gelengan tak jelas.

"Itu...yang dibelakang. Kenapa geleng-geleng? Gak ngerti?" tanya Bu Astuti yang menyadari bahwa Denta sedari tadi geleng-geleng.

Nanda StoryStories to obsess over. Discover now