SAHABAT?

33 4 4
                                        

Sekali lagi, Wolfi tidak pernah memaksa kalian untuk membaca apa yang Wolfi tulis, karena ini hanya sekedar kata - kata yang mungkin bagi beberapa orang klise. Tapi coba baca dulu, pahami, sebelum kalian menilai sesuatu yang belum kalian tau.

Semoga ini tetap fiksi, dan tidak menimpa siapapun di dunia nyata

.

.

.

" Jadi Kamu tidak mau mendukungku?"

Dia menurunkan hpnya dan memejamkanmata sambil menghela napas. Sepasang manik coklatnya menatapku tajam, seolah mencari sesuatu yang ingin dia perlihatkan. Posisi kami duduk berhadapan di kamarnya, di atas karpet di samping tempat tidurnya.

" Apa Kamu sadar kalau dia laki – laki sama sepertimu? Apa yang sebenarnya ingin kamu minta dari aku Elvan?"

Aku tiba – tiba tidak bisa berkata, kami sudah mendebatkan masalah ini selama dua hari dan dia masih kekeuh melarangku.

" Ini pertama kalinya aku di tembak cowok, lagi, dia kan tipeku, harusnya Kamu mendukungku, Kamu sahabatku atau bukan sih?!"

Aileen kembali hanya menatapku, ekspresinya mengungkapkan ketidak percayaan atas perkataanku. Dia menegakkan punggungnya yang dari tadi di sandarkan ke kasur.

" Karena aku sahabatmu, aku melarangmu, sahabat bukan orang yang selalu membenarkan apapun yang Kamu lakukan, tapi juga membenarkanmu kalau Kamu salah.

Sebenarnya apa yang Kamu harapkan dari hubungan semacam itu? Aku tidak bicara soal masa depan di dunia Elvan, aku bicara soal akhirat. Ingatlah, haram hukumnya dalam agama kita memiliki hubungan semacam itu. Sebenarnya apa yang Kamu inginkan?!"

Aku menatap kesal Aileen, kenapa sekarang malah mengikutkan agama sih, menyebalkan, lagi pula apa salahnya di coba sih. Apalagi sekarang banya pasangan seperti itu, apa salahnya aku juga ikutan.

" Bukannya harusnya Kamu bahagia? Kamu kan Fujoshi, baguskan kalau Kamu dapat asupan tiap hari?"

Tanganku tiba – tiba di genggam, wajah Aileen menampakkan wajah terluka yang aku sama sekali tidak paham.

" Kamu tau prinsipku, itu hanya di dunia maya, tapi tidak dunia nyata. Elvan, aku akan menjadi busuk dan buruk sendirian, tapi aku tidak akan pernah membiarkan keluarga atau orang sekitarku menjadi busuk juga. Apa Kamu ingin menghancurkan masa depanmu? Aku juga pengen kamu bahagia El, tapi gak gini.

Kamu bahkan belum mengenalnya dengan baik. Apa yang Kamu harapkan dari hubungan semacam itu sebenarnya? Saudaramu sudah begitu merendahkanmu dan ibumu, apa Kamu ingin semuanya semakin buruk untuk kalian?"

" Kamu tidak usah sok tau tentang hidupku, aku tidak butuh Kamu dan nasehat sok sucimu itu. Kamu tidak senang aku bahagia."

Aku menyentak tanganku, dan berdiri. Mendengus tidak lagi berbalik untuk sekedar menatap Aileen. Apa yang dia mengerti tentang aku dan keluargaku? Meskipun aku dan dia sudah berteman sejak kecil, lalu kenapa, dia tidak tau apa yang aku rasakan bukan.

.

.

.

Yeah, akhirnya aku jadian dengan cowok yang menembakku. Tentu saja tida terang – terangan menunjukkan kalau aku jadian dengannya. Orang gila mana yang akan melakukan hal itu saat hal semacam ini masih tabu. Kami hanya sering bersama di sekolah, dan keluar untuk jalan – jalan berdua. Ibu tidak menaruh curiga, hanya kadang bertanya, kenapa aku dan Aileen tidak pernah kelihatan bersama lagi. Aku hanya menjawab kalau Aileen sedang sibuk.

Hari – hariku berlalu begitu saja, hingga tidak terasa kalau sudah sebulan aku menjalani hubungan tidak benar ini. selama itu juga aku menghindari Aileen, baik di sekolah maupun rumah, untungnya kami tidak sekelas. Dan entah kenapa, rasanya ada yang kurang. Tanganku terasa kosong, bahkan meskipun 'pacarku' selalu mengelus atau menggenggam tanganku. Terasa ada yang tidak benar.

Sahabat?Where stories live. Discover now