"Inget, kamu udah SMA sekarang!"
Kalimat itu selalu dijejalkan ke telinga Ray di berbagai kesempatan dalam seminggu ini. Padahal, menurut gadis itu ia belum lama ini lulus SMP. Masih ada bau bayi yang menempel di badannya. Bahkan, dia tidak bau badan tanpa harus pake deodoran.
Biasanya, kalimat tadi akan meluncur sekitar dua sampai tiga kali dalam sehari. Tapi, hari ini sepertinya lapangan lepas landas di mulut mama Ray sedang rajin. Jadi, ia gencar sekali meluncurkan ultimatum seperti itu. Ray sampai berpikir mau cari kos saja, walaupun jarak rumahnya dan SMA hanya lima belas menit pakai motor. Soalnya dia sudah pusing mendengar ultimatum mamanya itu.
"Dengerin ya Ray, kamu gak boleh gatel ke cowo. Terus, yang lebih penting kamu gak boleh pacaran!"
Ray hanya menghela napas panjang. Semua yang dikatakan mamanya sangatlah jelas, bahkan bagi bocah baru tamat SMP seperti Ray. Dia sudah diajari sejak kecil tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Dan, saat SMP dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh mamanya. Intinya semua itu tidak boleh dilakukan.
Lagi pula, Ray memang tidak tertarik dengan hubungan kasih sayang dengan lawan jenis. Bagi Ray, kasih sayang itu cukup sekedar tidak diganggu saat tidur saja. Itu sudah lebih dari cukup untuk mewakili bentuk kasih sayang yang paling indah di dunia ini.
"Ray, denger gak sih mama bilang apa?"
Tarikan maut mendadak menyerang telinga Ray, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Ekspresi malasnya kini berganti menjadi raut kesakitan bercampur kesal.
"Iya iya, aku denger kok. Aduh, mama lepasin! Ini telingaku copot entar!" pekik Ray seraya merangkak menjauh dari jangkauan sang mama.
"Kamu dibilangin malah ngelawan. Mama ngambek pokoknya!"
Mama mendengus kesal dengan bibir yang maju beberapa senti ke depan. Niatnya ngambek ala cewek cantik di drama korea yang kemarin ia nonton. Tapi, karena anak gadisnya yang emang kurang dihajar. Bukannya dibujuk atau dirayu biar baikan, dirinya malah diejek habis-habisan.
"Ish, gak usah main pout-pout gitu kali bibirnya. Gak imut juga," ucap Ray sambil mengipasi diri sendiri seakan gerah melihat kelakuan sang mama.
Mama yang gen bocahnya masih dominan, dengan tidak santai kemudian melempar bantal sofa tepat ke wajah Ray.
"Rasain tuh!"
Ray hanya memasang tampang malas, kemudian beranjak menuju lantai atas. Ia tidak mau buang-buang tenaga untuk meladeni mamanya yang kini masuk ke dalam mode bocah itu. Lebih baik ia tidur siang, walaupun ada kemungkinan akan diganggu oleh sang mama atau adiknya nanti.
Cklek
Usai mengunci pintu, Ray langsung menjatuhkan diri di atas kasur empuknya. Berkat bantuan AC, Ray bisa melewati tidur siang tanpa kegerahan sedikit pun. Padahal cuaca di luar sedang panas-panasnya saat itu.
***
Mobil itu berhenti di depan gerbang sekolah. Keberadaannya seolah menarik atensi semua orang yang ada di sekitar sana. Apalagi saat seorang gadis yang begitu cantik keluar dari sana. Semua orang terpana dengan kecantikan gadis yang bak malaikat tersebut.
"Ray, hari ini pulang bareng aku aja ya? Gak usah dijemput sama supir kamu."
"Jangan, Ray pulang bareng gue ya?"
"Ray, ntar jalan kuy!"
"Ray, mau gak jadi pacar gue?"
