Pecahan Bunga

79 9 64
                                        

1. si Es Krim dan Bunga Mawar.

_K E R A H_B E R D E B U_

Mawar itu merah. Dan violet biru.
Madu itu manis, tentu saja kamu lebih manis.

"ZITA!!"

Duk!

Gadis muda berumur 18 tahun itu bangun dari duduknya karena terkejut sampai jidat mulusnya mengetutk pot bunga gantung di tokonya. Ia meringis dan mengumpat pelan agar Bos cerewetnya itu tidak dengar atau telinganya akan terbakar mendengar ocehan.

Zita menghampiri Lay setelah sempat limbung atas insiden kejedot pot barusan, padahal dirinya tengah bersantai memejamkan mata sembari merangkai puisi dalam otak yang terkadang ia gunakan, hanya saja masih jam kerja, jika tidak mungkin kedua telinganya sudah tersumbat sehingga earphone miliknya dan duduk di bawah pohon yang rindang sembari menghirup aroma penyembuhan.

Lay, bapak-bapak berhidung besar itu adalah Bosnya. Entah apa arti Lay di China, hanya saja sebagai orang Indonesia Zita anggap itu Alay. Lay terlihat tengah menyiram bunga-bunga mawar di rumah kaca, ia berhenti dan menatap Zita yang sudah berdiri di hadapannya.

"Daripada tidur mending kamu semprotin bunga-bunga yang ada di depan!" seru Lay.

Padahal gue gak tidur!

Zita akui, itu memang salah. Bersantai di jam kerja itu tidak akan pernah berjalan dengan baik.

"Oke, Pak!" sahut Zita.

"Oh iya, Ta! Jangan lupa mawarnya pajangin di depan yang rapi, biar keliatannya bagus terus orang tertarik beli di sini. Inget, mawar di toko kita doang yang paling bagus dan unik, seger pula."

"Iya, Pak!" Zita berbalik dan menuju teras toko untuk menyelesaikan tugas dari bosnya.

Gallica Florist.

Toko yang Zita jadikan tempat mencari uang ini hanya punya 2 karyawan ditambah Bosnya. Tugas Zita hanya menjaga dan mengurus para bunga yang ada di toko agar tetap terlihat segar, biasanya untuk melayani pelanggan kebanyakan Lay yang ambil alih. Tapi jika pembeli hanya membeli satu jenis bunga dan jumlahnya tidak begitu banyak, Lay selalu menugaskan Zita untuk melayani.

"Kamu aja yang ngelayanin. Hitung-hitung belajar, biar tahu jenis-jenis bunga di sini dan biar bisa lebih luwes ngelayanin orang. Jangan tahunya mawar doang." kata Lay saat menyerukan Zita untuk melayani pelanggan.

Zita akui dia masih buta akan berbagai jenis bunga meski sudah hampir sebulan penuh dia bekerja di Gallica Florist. Yang ia ingat dengan jelas hanya ratu dari berbagai bunga. Mawar!

Sementara pekerja satunya tugasnya mengantar bunga-bunga pesanan ke rumah customer.

Meski terbilang masih toko baru dan kecil, Gallica Florist punya 6 macam bunga mawar yang terbilang jarang ada di daerah tempat tinggal Zita. Menjadi daya tarik Zita untuk bekerja di toko itu saat pertama kali mengetahui fakta tersebut, karena Zita suka dengan banyak bunga meski belum mahir mengenal bunga. Rasanya hatinya ikut berbunga saat melihat berbagai macam bunga yang tak begitu Zita kenal.

Jadilah di sini hidup Zita semakin miris dan kesepian karena harus menghabiskan waktu dengan si Alay berhidung besar yang cerewet itu. Jika ia tidak butuh uang, Zita mungkin lebih memilih berbaring di kamar tidurnya atau melukis dan menjualnya dengan harga mahal, huh jika saja ia bisa melukis. Tapi kenyataan tidak semudah membayangkan. Jangankan melukis, menggambar saja Zita akui dia payah.

KERAH BERDEBUWhere stories live. Discover now