cerita ini tentang persahabatan lima perempuan yang punya segudang masalah unik. Timeline cerita ini berantakan, semoga kalian masih paham jalan ceritanya. Maaf kalau banyak typo.
Telepon kantor terus berdering pagi ini di bank karena aku lupa hari ini adalah awal bulan. Muak. Kenapa? Karena para pensiunan pegawai negeri terus menelpon untuk menanyakan apakah uang pensiunannya sudah turun. Mesti sabar, sebab yang bertanya sudah sepuh, kata orang nanti kualat kalau sampai kurang ajar sama yang tua. Yup, aku bekerja di bank sebagai Customer Services. Pekerjaan yang menurutku paling absurd di dunia. Kenapa? Kami digaji cuma untuk dimarahi orang. Ha ha, demi upil kuda nil, kalau mencari kerja itu tidak sulit, aku pasti berhenti dari pekerjaan ini. Stress!
"Hei, Hana..! Itu tolong teleponnya di angkat dulu," tegur Sisil rekan kerja sesama CS di sini.
Yup, namaku Hana. Panggil saja begitu. "Iya, Sil.." Malasnya. Sisil saja sampai tidak sempat mengangkat telepon karena ramainya kantor hari ini. AC ruangan saja sampai tidak terasa. Para pensiunan itu berdatangan menunggu antrian di Teller atau sekedar bertanya jumlah saldo ke kami. Selesai menjawab telepon aku juga harus melayani customer yang datang. Di antara dengungan para obrolan orang tua, aku jadi teringat ke empat temanku. Hah! Ini bukan hari yang berat untuk mereka. Kalau ditanya kenapa? Mereka gajian hari ini! Ah, asik juga. Mesti minta traktir. Eh, kecuali si Rara deh, dia kan jualan online. Jiwa dagangnya kuat banget.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hana
Berbicara tentang teman, ke empat makhluk ajaib yang kumaksud ini adalah sohib sejak masa SMA. Ada Seruni, Eva, Icha dan Rara. Bisa dibilang kami se-geng punya sebutan yang super absurd, Geng Camet, singkatan dari cacat mental. Kalau dipikir, memang lebay banget, haha.
Di tengah kesibukan seperti ini masih saja bisa ingat masa lalu. Nenek-nenek yang sedang kulayani sampai bertanya tiga kali. "Neng? Neng? Jadi berapa saldonya?"
Suara cemprengnya memporakporandakan lamunanku. Sontak aku langsung nyengir kuda. "Eh, iya, Ibu.. pensiunannya sudah turun." Kusebutkan nominal saldonya. "Mau ditarik tunai, Ibu?"
Nenek itu langsung mengangguk. "Iya, tolong ditulisin, yaaa."
"Baik, ibu. Berapa jumlah yang ingin ditarik?" Setelah Nenek itu menjawab, aku segera menuliskan permintaannya di form penarikan. Ini salah satu pekerjaan awal bulan. Teller meminta CS untuk membantu pensiunan menuliskan form penarikan karena tulisan pensiunan sering berantakan dan tidak lengkap, terutama jumlah nominal dalam angka dan huruf. Selesai mengutip nama dan nomor rekening dari buku tabungan, kutulis nominalnya, tidak boleh salah. Setelah itu kuminta customer tersebut untuk memeriksa isi form dan menandatanganinya. Beres. Masih ada yang mengantri dibelakangnya lagi. Huuff.
Lanjut persoalan teman. Pertama, aku kisahkan tentang Seruni. Ini sohib dari zaman SD masih awet sampai sekarang. Mau tau resepnya? Tanya Seruni aja, deh. Menurut aku, dia nih, yang paling kocak nasibnya. Aku tau banget wataknya yang keras. Prinsipal dan idealis. Kalau orang bilang, batu. Karena sifatnya itu dia jadi sering kena masalah apa lagi salah paham. Kalau orang tidak mengenal dekat dengannya, mereka akan beranggapan jika Seruni adalah perempuan jutek dan angkuh. Tatapan matanya itu loh, sinis. Opini yang tidak sependapat sama dia pasti langsung didebat. Padahal sebenarnya sohibku ini aslinya orangnya baik banget, rajin menabung dan suka membantu, ha ha, membantu kami maksudnya. Intinya, Seruni cuma baik sama kami. Sisanya? Sisanya ya bagi dia cuma anak kos. Abis kena comelnya dia, ada saja salahnya. So, hati-hati sama dia, lambenya tajam. Kalau tidak kenal jangan asal ngomong, bisa kena babat. Meskipun begitu, Seruni bagai ibunya anak-anak karena dia yang berani marahin kami kalau kami melakukan hal yang menurutnya dan sebagian besar orang di dunia ini salah.
Seruni bekerja di restoran bintang lima di sebuah hotel besar by accident. Biasanya dia orang yang detail, tapi mungkin sudah takdir kalau dia bakal kerja jadi budaknya chef judes di restoran itu. Semua berawal ketika Seruni masih mencari pekerjaan, baru lulus dari fakultas sastra indonesia. Cita-citanya ingin jadi editor. Keren, kan? Yah, tapi nasib berkata lain. Seperti kataku, jaman makin sulit, cari kerja itu gak gampang. Seruni merasakan bagaimana susahnya, lamar sana-sini tapi tidak dapat panggilan. Sekalinya di panggil cuma perusahaan tipu-tipu yang suka ambil untung dari para pencari kerja.
Someday, Seruni mendapatkan sebuah panggilan interview. Pasti kebayang gimana girangnya dia pada saat itu. Setelah berbulan-bulan jadi pengacara -pengangguran banyak acara- iyes, ada juga yang mau ngasih dia kesempatan. "Baik, pak. Hari senin jam sembilan pagi. Alamatnya?" Seruni sempat bengong saat alamatnya disebutkan dari sambungan di ponselnya. Setelah percakapan singkat itu, dia terdiam cukup lama mengingat-ingat saat apply CV ke berbagai perusahaan. "Hotel? Emangnya pernah ya ngirim CV ke sana?" Mana dia ingat, sudah ratusan CV yang dia kirim dari situs web loker sampai yang di koran.
Akhirnya case ini jadi pembahasan saat kami kumpul bareng di sebuah mall di daerah Depok, sebab rumah kami masih kawasan daerah itu. Kami lebih suka nongkrong di food court bukan karena nyaman, tapi memang kemampuan isi dompet yang mewajibkan begitu. Masih cari-cari kerja, jadi penyakit kanker lagi meradang parah.
Yang pertama datang sudah pasti Seruni yang menjemput aku duluan. Kita naik angkot berdua ke sana. Berikutnya Rara, Icha, dan terakhir yang super duper ngaret, si Eva. Kita gak bakal heran kalau Eva telat. Dandannya sama pilih bajunya itu loh bisa sampai berjam-jam. Jadi kalau janjian sama Eva, waktu ketemuan harus dimajukan dua jam lebih awal.
Siangnya kita semua sudah lengkap. Ritual pertama cipika-cipiki, rame sendiri satu meja, berasa yang punya tempat. Setelah itu keliling ke standfood court untuk cari makan. Setelah ribut di sana-sini menimbang menu sesuai selera dan budget, akhirnya ritual selesai. Kami duduk satu meja menunggu pesanan sambil membahas problem Seruni. "Jadi gimana? Gue datang gak nih?"
"Kalau menurut gw, datang aja. Kan itu jelas -hotel- jadi gak mungkin perusahaan tipu-tipu," jawab Eva yang duduk sebelah Icha. Dia sedikit merapat ke Icha. "Pinjem kaca donk, Cha."
"Ish, elu. Masih sempet-sempetnya ngaca," sungut Icha. "Gue gak bawa, coba tanya Rara." Cewek berwajah bulat tapi cantik ini berlagak serius memandang Seruni. "Coba aja dulu, Ni. Lagian cuma datang ke sana, kan elo gak rugi apa-apa."
Sementara Eva beralih ke Rara, tapi cewek manis itu hanya menggeleng. Akhirnya aku yang mengeluarkan bedak yang ada kacanya dari dalam tas dan memberikannya ke Eva. "He he. Thanks, Han."
Aku hanya tersenyum memaklumi sifat Eva yang always worried dengan penampilannya. "Iya, bener kata Icha. Gak ada ruginya datang," timpalku pada Seruni.
Dahi Seruni sedikit berkerut. Aku tahu banget ekspresi macam itu selalu dikeluarkan kalau dia ragu dan takut. "Tapi ini hotel, loh. Agak serem gak, sih?"
Mulai deh sifat pesimisnya keluar. "Eh, jeng. Ini hotel besar, bukan hotel melati!" sungutku gemes, yang lain juga jadi cekikikan. Kesannya dia bakal kerja yang 'aneh-aneh' aja di sana.
"Ish, elu mah. Gue juga tau itu hotel besar. Tapi gue gak tau ngelamar jadi apaan di sana," dalih Seruni.
"Nah, loh!" timpal Icha.
🐱🐱🐱
To be continued, guys..
🌸Segini aja dulu ya, authornya sibuk maen game online 😁🌸