"Kamu mau nikah dengan Aji?"
Pertanyaan yang sederhana.
Pertanyaan yang dilontarkan dengan bercandaan tempo hari oleh teman Bundanya yang sudah Jenna kenal sejak kecil itu masih mengganggu pikiran. Bukannya ia tidak mau, tapi apa bisa tiba-tiba langsung menikah?
Padahal jelas-jelas, saat bertandang tempo hari ke rumah, Aji yang dimaksud sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Bahkan, kala Jenna kini berhadapan dengan pria itu, Jenna masih belum paham. Sebenarnya pria itu minat menikah atau tidak?
"Maaf ya ngajak kamu ketemu pagi-pagi. Rapatku nggak bisa dimajukan," ucap Aji sembari menyeruput kopinya yang baru saja dihidangkan.
Cafe memang masih cukup sepi, hanya ada satu atau dua pelanggan yang menikmati secangkir kopi disana untuk memulai hari.
"Nggak papa, Mas. Siang nanti juga kebetulan aku banyak kerjaan."
"Aku juga nggak bisa lama," jawab Aji melihat jamnya. "Kalau begitu, langsung aja."
Pria itu tersenyum tipis sedangkan Jenna mengangguk pelan. Tenggorokannya kering sekarang.
Aji sangat tampan. Bahkan hanya dengan kemeja putih dengan lengan ditekuk tanpa dasi seperti ini pun, dia terlihat berkharisma. Aura kepemimpinannya membuat Jenna sedikit ciut untuk berbicara. Apalagi sejak dulu ia sudah ngefans dengan Aji Saka.
Saat Jenna masih pakai seragam SMA, tanpa sengaja ia bertemu Aji di acara yang Mama Aji buat. Bunda Jenna mengajaknya kala itu. Mereka mengenalkan keduanya, tapi ya begitu saja... Aji masih ingin melanjutkan S2 di Aussie, sedangkan Jenna masih harus lulus SMA.
Hanya cinta monyet. Tapi siapa sangka, impian aneh waktu itu terjadi sekarang di hidup Jenna yang menginjak usia 21?
"Soal tawaran Mama kemarin, kan? Aku..."
Belum selesai Jenna bicara, Aji sudah memotongnya. "Iya, ada hal yang mau kusampaikan dan aku harap kamu akan mengerti."
"Apa, Mas?"
"Sebenarnya aku..."
Lalu Aji mengatakan semuanya. Mulai dari keinginannya untuk menikah tanpa pesta besar, keinginan untuk hidup tanpa saling mengganggu privasi, hingga alasan mengapa ia setuju dijodohkan.
"Namanya Cassie?"
"Iya, Cassandra Saka. Panggilannya Cassie. Gimana? Apa kamu mau jadi ibu dia?"
* * * * *
Cassie.
Namanya Cassie Saka. Anak Aji.
Sarah yang menamakan dia. Aji sendiri nggak menyangka kepergian Sarah ke Indonesia 2 tahun lalu membawa Cassie dalam hidup seorang Aji Saka.
Sama seperti Aji dulu yang terkejut, Mungkin saat ini Jenna juga kaget. Mungkin Jenna berpikir, bagaimana bisa Aji yang belum menikah dan belum pernah menikah itu memiliki anak.
Aji menatap Jenna sekarang. Anehnya, Jenna balik menatap pria itu tidak dengan pandangan jijik, seperti kebanyakan gadis lain yang antri Aji tiduri. Sekuat tenaga, mereka akan berusaha membuat Aji tidak membicarakan nama Cassie, memfokuskan perhatian pria itu hanya pada mereka saja. No offends, tapi Aji benci hubungan tanpa manners seperti itu.
Diakui atau tidak, Cassie adalah bagian dari hidup Aji. Mau atau tidak, Cassie akan jadi bagian hidup mereka yang nikah dengan Aji kelak. Jadi maaf aaja, jika Jenna juga menginginkan hal yang sama seperti gadis-gadis jalang itu, tidak peduli seberapa baik Jenna di mata Mamanya, Aji tidak akan melanjutkan perjodohannya.
"Udah ngerti sekarang?"
Jenna terlihat menimbang sebentar sebelum bertanya malu tentang Sarah.
"Kami memang sepakat tidak menikah," jawab Aji singkat. "Cassie dititipkan Sarah padaku."
"Oh."
Hanya itukah yang bisa dia katakan? Oh? Pikir Aji geli. Apa dia tidak bisa menanggapi dengan lebih baik?
Aji menatap Jenna dan berkata, "Jadi, apa kamu mau, tidak Cuma jadi istriku saja, tapi juga jadi Ibunya Cassie?"
"Apa Cassie mau punya Ibu tiri?"
Aji terkejut dengan pertanyaan itu. Aji pikir Jenna yang keberatan, tapi ternyata ia salah. Gadis itu malah memikirkan apa Cassie tidak keberatan ia hadir di hidup mereka.
Berdeham kecil, Aji menjawab, "Cassie nggak masalah."
"Lalu Sarah?"
Aji menatap sangsi pada Jenna yang sepertinya menyesal sudah bertanya. Aji juga malas membahasnya, tapi mereka akan menikah. Calonnya harus tahu tentang Sarah.
"Sarah tidak keberatan. Dia malah akan senang tugasnya digantikan," ucap Aji dengan nada mengejek.
"Lalu dengan kalimatmu yang tidak saling mengganggu privasi?"
"Karena kita tidak saling cinta, dan karena aku menikah dengan kamu agar bisa mengurus Cassie, jadi aku nggak akan membatasi kamu. Cukup kamu jadi Ibu yang baik buat dia, itu sudah cukup."
"Maksudnya?" Tanya Jenna tidak paham.
"Aku tahu aku nggak akan bisa ngasih kamu cinta, jadi seenggaknya aku akan menghormati kamu."
"Mas sadar apa yang Mas katakan? Mas ngijinin aku selingkuh."
Iya, dia sadar 100% dan dia nggak masalah dengan itu. Lagipula, dia nggak cinta Jenna, kan?
"Tentu saja. Apa salahnya? Toh, Mama dan Bunda bahagia. Cassie bahagia. Kamu bahagia dengan pilihanmu nanti. Aku juga bisa bahagia dengan pilihanku nanti. Begitu lebih baik, kan?"
* * * * *
CZYTASZ
Aftertaste
RomansMenikah tentu menjadi impian semua wanita, termasuk Jennahara. Ia ingin menikah dan menjadi wanita bahagia di keluarga kecilnya. Terlebih sang calon suami adalah Aji Saka, CEO perusahaan ternama yang sudah sejak dulu disukainya. Jadi bisa dibayangka...
