Malam hari yang mencekam. Hujan turun sangat lebat. Petir bersahut-sahutan. Seorang wanita paruh baya tengah berlari menyelamatkan diri. Dia terus berlari dan berharap agar orang yang mengejarnya akan kelelahan.
Dinginnya malam hingga menusuk tulang tidak membuatnya berhenti berlari. Orang itu memakai hoodie berwarna hitam menutupi kepalanya. Dia membawa pisau hendak membunuh wanita paruh baya tersebut.
Wanita itu terus berlari sekencang mungkin. Tiba-tiba dia tersandung dan akhirnya jatuh tersungkur. Lutunya berdarah karena tergores dengan aspal. Dia meringis memegangi kakinya. Derap kaki orang itu semakin dekat. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dia bangkit kembali dan berlari dengan tertatih. Dia melihat kebelakang. Orang itu berjalan cepat dan menatap tajam ke arahnya. Dia berlari lagi membujuk kakinya agar berlari lebih cepat. Dia berlari kencang dan memasuki hutan berharap bisa sembunyi di sana.
Lengannya berdarah karena tergores ranting-ranting pohon. Dia berlari sambil memegangi lenganya yang berdarah. Dia tetap berlari. Suasana semakin mencekam ketika dia semakin masuk ke dalam hutan. Lagi-lagi kakinya tergores oleh ranting-ranting pohon. Dia kembali meringis dan tetap berusaha membujuk kakinya untuk tetap berlari walau sudah tertatih-tatih.
Dia lelah. Dia berhenti dan bersembunyi di balik pohon besar. Langkah kaki orang itu semakin mendekat. Orang itu menancapkan pisaunya pada sebuah pohon kemudian mencabutnya. Beralih pada pohon lain juga seperti itu. Kemudian sampailah pada pohon tempat wanita itu bersembunyi. Dia menancapkannya pada pohon itu.
"Kau sangat bodoh dalam bersembunyi.", katanya, kemudian menampakkan seringaian seramnya. Wanita itu tercekat tak mampu bersuara.
Orang itu langsung menancapkan pisaunya pada perut wanita itu. Tapi wanita itu sudah lari terlebih dahulu. Suasana makin menegangkan. Hujan tak mau berhenti mengguyur kota itu. Darah ada di mana-mana mengalir bersama air hujan. Wanita itu tetap berlari walau sejujurnya dia sudah tidak kuat untuk berlari lagi.
"Aku tahu kamu lelah. Jadi menyerahlah! Dasar pengkhianat!", teriakan orang itu tak membuatnya berhenti berlari.
Dia masih berlari menjauh. Dan akhirnya dia bisa keluar dari hutan yang menyeramkan itu. Dia berlari di jalanan dan berteriak minta tolong.
"Tolong!! Siapa pun tolong aku!!", teriaknya sekeras mungkin sambil terisak. Namun suara hujan dan petir mampu mengalahkan teriakannya.
Dia sudah tidak kuat. Kakinya, lengannya, lututnya. Semuanya sakit. Darahnya tetap mengalir tidak mau berhenti. Dia terduduk lemas di atas jalan aspal yang dingin itu. Dia pasrah.
"Akhirnya kau menyerah juga.", katanya di barengi dengan seringaian menyeramkan yang khas darinya.
"Aku mohon jangan bunuh aku. Apa salahku? Aku minta maaf. Aku janji akan melakukan apapun kalau kamu mau memaafkanku.", katanya dengan tangan menyatu, memohon sambil terisak
"Setelah banyak yang kau perbuat, dan kau masih bertanya apa salahmu?! Dasar tidak tau diri!", sentaknya membuat wanita itu terkejut tidak tahu harus bagaimana.
"Aku mohon maafkan aku.", wanita itu masih tetap memohon. Dia sudah tidak memerdulikan tubuhnya yang penuh luka dan mengeluarkan banyak darah.
"Semudah itu kamu minta maaf setelah apa yang kamu perbuat?! Aku sudah terlanjur muak dengan semua tingkahmu. Aku tidak bisa memaafkanmu!", orang itu membentak wanita malang itu.
Orang itu mendekat dan berjongkok dihadapan wanita itu. Kemudian mencengkram pipinya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih setia memegang pisau.
"Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?", tanyanya sambil mencengkram pipi wanita itu dan memainkan pisaunya. Sungguh menyeramkan.
Wanita itu tidak bisa menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa terisak sambil memandangi orang itu. Kejam. Menyeramkan. Mungkin itu julukan yang pantas ditujukan pada orang itu. Setelah beberapa detik tidak mendapat jawaban, orang itu melepaskan cengkramannya dengan kasar. Kukunya yang panjang tidak sengaja menggores pipi mulus wanita itu.
"Akh!", pekiknya pelan.
Tiba-tiba sebuah pisau mendarat pada pelipisnya mebuatnya mengeluarkan banyak darah. Sekali lagi dia berteriak kesakitan.
"Akh! Sakit!", pekiknya sambil memegang pelipisnya yang mengeluarkan darah.
"Sakit? Oh! Benarkah? Maaf aku memang sengaja.", katanya mengejek sambil menatapnya sinis.
Kemudian tanpa aba-aba sebuah pisau menancap sempurna pada perut wanita itu. Wanita itu kaget dan langsung mengerang kesakitan.
"Aaakkhhh!!!", setelah berteriak, dia terbatuk. Mulutnya mengeluarkan darah.
"Aku mohon ampun.", mohonnya dengan nafas tersengal.
Sedangkan orang itu tidak peduli. Dia dengan santai mencabut pisau itu dari perut wanita itu. Dia kembali menyeringai melihat wanita itu sudah tidak berdaya. Dia kembali menusuknya lagi membuat sang empu berteriak.
"AAKKHH!!!"
***
Tbc:)
YOU ARE READING
Bulan Bintang
Teen FictionSebuah cerita yang mengisahkan tentang Bulan yang ingin seperti Bintang. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, Bulan juga ingin hidup bahagia tanpa ada yang membuatnya tertekan. Bulan adalah gadis cantik berlesung pipit yang sangat ceria dan muda...
