1

51 3 0
                                        

Hari ini adalah hari pertama bagi seorang gadis cantik dengan perawakan tubuh yang tinggi tetapi tidak meninggalkan kesan manis pada dirinya. Tami Nanda namanya, sekarang dia sudah duduk di bangku kelas X Sekolah kejuruan ternama di kotanya.

Tami merupakan anak yang agak pendiam, kesan pertama yang di dapat orang ketika baru pertama kali bertemu adalah menganggap Tami sebagai anak kalem dan pendiam tetapi nyatanya jika dia sudah berada di sekitar temannya maka kegilaannya akan muncul secara otomatis. Tami ini juga pecinta berat salah satu karakter ternama Jepang yaitu Doraemon.

Pagi ini Tami memulai harinya dengan semangat, dia berencana untuk mendapatkan teman dekat pada saat pembagian kelas nanti. Tapi terbesit sebuah pikiran yang membuatnya menjadi takut, dia takut jika nantinya teman teman sekelasnya tidak menyukainya. Tetapi mendengar sebuah nasihat dari ibunya membuat kepercayaan dirinya yang sempat hilang kembali muncul dan dia bergegas sarapan dan menyiapkan segala keperluan untuk sekolah hari ini.
-
-
-
-
-
Sesampainya di sekolah Tami dengan langkah yang pelan mulai memasuki kawasan lapangan di mana akan dilakukan pembagian gugus yang mana akan menjadi teman kelasnya. Saat dirinya sudah menempatkan dirinya di barisan jurusannya Tami menunggu panggilan namanya, dia sempat berharap dapat satu kelas dengan teman SMP nya dulu tapi sayang di gugusnya hanya dirinya yang berasal dari SMPnya, sedangkan temannya berada di gugus yang lain.

Tami mendapat gugus di mana isinya adalah anak anak dengan nilai tes masuk 32 teratas di tes jurusannya, bisa dikatakan bahwa Tami mendapatkan kelas unggul untuk masa SMA nya ini. Saat dirinya sedang memperhatikan sekelilingnya dia mendapati seorang anak perempuan yang juga merupakan anggota gugusnya menatapnya dan tersenyum, Tami hanya balas tersenyum dan anak tersebut ternyata menghampirinya dan mengajak dirinya berkenalan.

"Hai nama gue Detria Putri, nama lo siapa? Kita satu gugus kan?" melihat Detria yang mengulurkan tangannya membuat Tami mau tak mau menyambut uluran tangan tersebut.

"Eum hai juga nama gue Tami Nanda lo bisa panggil gue Tami atau Nanda. Iya kita satu gugus."

Tak terasa Detria dan Tami mulai dekat, mulai dari pergi berdua sampai makan bekal bersama. Tami yang sudah mendapat teman pertamanya di sekolah barunya ini merasa senang. Sekarang mereka berdua sedang menyantap bekal makan siang mereka sambil menunggu dipanggil kembali oleh anggota Osis untuk berkumpul kembali di lapangan. Bertepatan dengan ditutupnya kotak bekal Tami, para anggota osis langsung memberitahu untuk berkumpul di lapangan untuk arahan besok.

Saat berbaris Tami melihat Detria mendekati seorang gadis dengan perawakan pendek dan memiliki wajah yang manis. Tami mengenalnya dia merupakan anak dengan nilai tes tertinggi. Tidak butuh waktu lama akhirnya barisan dibubarkan dan para siswa diminta untuk dapat hadir besok di tempat yang telah ditentukan tepat waktu.
-
-
-
-
-
Keesokan paginya Tami langsung bergegas pergi ke tempat yang ditentukan anggota Osis untuk melakukan acara PLS. Disana dia melihat Detria yang melambaikan tangan ke arahnya agar dirinya mendekat. Sesampainnya di sana Tami melihat sekeliling tempat tersebut. Dapat dikatakan bahwa tempat yang sekarang dia datangi semacam tempat pelatihan para tentara.

Setelah menunggu selama 30 menit sekarang kegiatan PLS akan segera dilaksanakan. Acara tersebut diawali dengan kegiatan apel pagi yang dipimpin oleh salah satu anggota tentara yang berada di sana. Tami yang sekarang berada dalam barisan gugusnya terdiam memandangi semua anggta gugusnya sampai matanya tertuju pada sesosok laki laki yang berada di barisan ketiga.

Laki laki tersebut tampak terdiam tanpa bercengkrama dengan teman gugusnya yang lainnya. Mata Tami tetap tertuju sampai dia memutuskan kontak matanya karena laki laki tersebut menatap matanya.

Siang itu merupakan hari yang sangat panas bahkan tidak ada angin yang berhembus hal tersebut menyebabkan beberapa anak yang berada di lapangan mulai kepanasan dan merengek untuk meminta berteduh. Kepala Tami tiba tiba terasa sakit hingga terasa ingin pecah, melihat muka Tami yang pucat Detria langsung menghampiri Tami dan menanyakan keadaannya.

Real LoveDonde viven las historias. Descúbrelo ahora