Part I : Instruksi

578 37 0
                                        

Suara alunan piano mengiringinya menikmati segelas wine. Beberapa kali ia aduk gelas itu hingga alunan piano berhenti di ketukan akhir. 

Ia diam...

Meresapi sesuatu...

Seringaian licik terlihat dari raut wajahnya yang sangat cantik. Namun sorot matanya masih terlihat meneduhkan, meskipun pikirannya sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari gelas yang ia pegang.

 Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari gelas yang ia pegang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Masuk!"

Seorang lelaki terlihat begitu gagah memakai jas berwarna hitam melangkah memasuki ruangan privasinya, kemudian menunduk memberikan hormat sejenak dan berkata, "Maaf, Nona. jika kedatangan saya mengganggu waktu anda. Tetapi Nyonya besar ingin anda menemuinya di ruang makan, malam ini. Permisi!" pamitnya melangkah mundur dan pergi. Tito ia adalah bodyguard suruhan Mama nya yang sudah akrab sekali dengan keluarganya.

Dirumah ini sangat ramai dengan para bodyguard dan pelayan. Wajar saja! Ayahnya seorang mafia kelas kakap yang banyak sekali memiliki musuh dimanapun. Ia terlahir dari keluarga kaya raya yang begitu kejam dan bengis, wajar sekali jika penampilannya yang terlihat tomboy selalu menjadi adalannya. Pakaian serba hitam dan juga lipstik hitam selalu memenuhi harinya yang begitu cerah, terkesan gelap. Semua orang yang berada di sekitarnya tau siapa dirinya. Anak seorang Mafia terkenal yang di takuti banyak orang. Bahkan sejak kecil ia selalu dijauhi oleh teman-temannya, karena takut dengan dirinya.

Dan pada saat itu ia mulai membuat kesan menyeramkan pada dirinya, agar semua orang tunduk dengannya hingga saat ini. Ia bergegas menemui ratu di rumah ini, siapa lagi jika bukan Mama-nya, Reanata Hudson. Xenna dengan kesan yang masih sama menyeramkan, gelap, arogan, dan tidak tersentuh melekat dengan dirinya. Ia tarik salah satu kursi yang berada di meja makan, kemudian duduk.

"Xenna." Rea angkat bicara. "Ada hal yang ingin kami sampaikan buatmu."

"Hmmm." 

"Ayah ada misi untukmu." Damian tampak berpikir untuk mengutarakannya, meskipun ia tau keluarganya memang sangat licik untuk merencanakan sesuatu sehingga mereka menjadikan Xenna pancingan.

"Apalagi?" Jawabnya terdengar cuek.

"Masuklah kedalam kehidupan Keluarga Abisatya. Kemudian rebut hati salah satu anaknya dan hancurkan mereka semua sampai habis tak tersisa." jelas Damian memberikan instruksi padanya.

"Imbalannya?" 

"Aku akan memberikan harta padamu 70%. Jika tidak bisa aku akan memberikan misi ini pada adikmu, Dahlia. Bagaimana?"

"Penawaran yang menarik. Lalu aku harus apa?"

"Rayu mereka." Jawab Damian singkat, dan berkata lagi. "Jangan lupa! Ubah dirimu lebih feminim dan berikan kesan yang baik. Jika perlu sewa seseorang untuk mengubah dirimu."

"Baik. Aku akan melaksanakannya demi sesuatu yang kalian janjikan."

Xenna pergi meninggalkan meja makan. Ia mulai berpikir untuk melancarkan aksinya. Beberapa strategi telah ia susun dengan rapi. Jika ada kendala dan sesuatu yang membuat dirinya berbelok ia sudah menyiapkan plan B.

"Tolong cari tau tentang keluarga Abisatya." ucapnya pada seseorang disebrang sana.

"Beri aku informasi yang lengkap tanpa ada yang tertinggal sedikitpun." putusnya menyudahi telpon kali ini pada orang suruhannya.

****

Dunia ini akan terus menerus terasa gelap. meskipun baginya ia bangun dipagi hari maupun malam hari. Tidak ada bedanya. Semua sama, hanya saja yang menjadi pembeda saat ia harus bekerja bersama asisten pribadinya yang sudah 3 tahun bekerja dengannya. Arven anak kolongmerat yang akan mewarisi seluruh harta yang dimiliki keluarganya. setelah sekian tahun bekerja bersama asisten pribadinya Jose yang sangat setia membimbing dan menuntun Arven hingga menduduki posisinya saat ini.

Arven mengalami kebutaan saat ia berusia 17 tahun. Ketika acara anniversary kedua orangtuanya dirayakan disebuah salah satu hotel di New Zealand, namun saat pertengahan acara Arven meminta izin untuk mengambil kado nya yang tertinggal di mobil, lebih tepatnya ia akan mengambil di basement hotel. sepersekian detik sebuah lampu mobil menyoroti wajahnya dan tabrakan itu terjadi, hingga membuat kedua matanya tidak dapat melihat lagi. Arven sangat shock setelah kejadian itu menimpanya, sampai saat ini ia harus menerima keadaan yang membuat dirinya menjadi semenyedihkan ini. 

Rasanya dunia ini sudah runtuh akan harapan. Apalagi disaat Mama-nya meninggal karena stroke dan Ayah-nya menikah lagi dengan seorang janda yang mempunyai 3 orang anak laki-laki yang sekarang menjadi saudara tirinya.

"Niken dimana?" tanya Arven pada Jose yang sekarang sedang berdiri disampingnya dengan memegang ipad untuk mengecek jadwal miliknya.

"Seperti biasa dia sedang kuliah hari ini. O... ya! Jadwal untuk konsul hari ini jam 4 sore, seperti biasa."

"Jose, bisakah kau bilang pada Reno aku tidak dapat menemui mereka hari ini di Cafe La'moura." Kebetulan hari ini Reno, Rendi, dan Reynald. memintanya untuk makan malam bersama untuk membicarakan warisan Ayah-nya yang sebulan lalu baru saja meninggal, akibat kecelakaan.

Mengingat hal itu, Arven merasa bahwa dirinya sudah tidak memiliki keluarga lagi. Meskipun Tiara Renaldi  sudah menjadi ibu tirinya. Diusia 27 tahun dengan keadaan buta dan selalu menjadi bahan bully saat semua saudara tirinya berkumpul, membuat Arven sedih. Mengapa tidak ada orang yang mampu membuatnya nyaman dan bisa membimbingnya.

-----

Terima kasih telah mengapresiasi cerita keduaku, aku harap kalian mau men- tapp 💕 yaa!  Semoga vote dan comment kalian dapat memberiku semangat untuk menyelesaikan cerita ini,

next part.....

Ms. Mafia & Blind ManWhere stories live. Discover now