#1

11 1 0
                                        

Han Aera namanya. Wanita berparas cantik dan bertalenta. Namun, sayangnya dia tidak menyadari hal itu. Hidup yang dijalaninya dengan penuh kensengsaraan berhasil merebut senyum manis dari wajahnya. Senyum manis itu mulai hilang dari wajahnya saat dia berumur 8 tahun.
Han Aera, berumur 8 tahun. Saat itulah kemalangan mulai datang bertubi-tubi padanya.
Dia belum mengerti betul saat itu. Namun, setiap menit yang berlalu dalam hidupnya menjadikannya semakin paham akan apa yang terjadi pada hidupnya.

-Han Aera umur 8 tahun-

Saat itu yang hanya bisa dilihat Aera adalah sorot mata ibunya yang penuh kebencian mengarah kepada ayahnya. Dia tidak tahu betul apa yang terjadi. Namun, Aera mengerti bahwa hal seperti ini sudah sering terjadi dikehidupannya. Dia masih belum peduli akan hal itu karena kasih sayang orangtuanya masih ada saat itu.

Aera masih tetap melihat ibunya dan ayahnya. Dia hanya bisa terdiam. Pelan-pelan dia berjalan menjauh dari kedua orangtuanya dan memasuki kamarnya. Menutup pintu sepelan mungkin mencoba tidak menimbulkan suara walaupun dia tahu tidak akan ada yang mendengar suara pintu itu.

Aera berbaring dikasurnya. Matanya pelan-pelan ditutupnya. Dan begitu saja,hari berlalu dengan suara teriakan yang menemani malam Aera.

Pagi itu Aera bangun seperti biasanya. Dia tidak khawatir dengan apa yang terjadi semalam. Aera memulai paginya dengan mencuci mukanya. Untuk umur 8 tahun,Aera sudah dibilang bisa mengurus dirinya sendiri. Orangtuanya jarang dirumah dan mau tak mau dia harus melakukan segala sesuatnya sendiri. Bahkan dia sudah bisa memasak kue walaupun rasanya kadang tidak enak.

Aera menghidupkan keran dan air segar keluar dari keran itu. Setelah mencuci mukanya ,Aera segera mandi.

Hari itu dia memakai baju berwarna biru kesukaannya. Namun, dia menyesal memakai baju itu karena hari itu juga orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Cerai ? Aera tahu benar apa artinya itu. Berpisah.

Masih tetap seperti semalam. Wajah ibu Aera penuh dengan kebencian bahkan tangan lembut yang selama ini membelai Aera berubah menjadi tangan kasar yang menggenggam Aera sangat erat sampai pergelangannya memerah.

Ibunya membawa Aera pergi, meninggalkan ayah yang raut wajahnya saat itu sangat sedih. Aera hanya menatap kedua orangtuanya bergiliran dan bingung.

Begitu saja, Aera memulai hidup tanpa ayah. Masih seperti anak yang lugu, Aera mengira semuanya akan baik-baik saja karena dia tahu ibunya akan menyayanginya walaupun ayahnya tidak ada. Namun,salah. Aera tidak menyangka. Kemalangan dimulai saat itu. Saat ayahnya tidak lagi berada disampingnya.

Dimulai saat ibunya kembali kerumah dengan keadaan mabuk. Aera bingung harus bagaimana. Itu kali pertama dia melihat ibunya seperti orang asing. Ibunya berteriak terus menerus,menangis, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti Aera.

Hal itu terus menerus terjadi sampai Aera mengerti sebutan-sebutan kasar yang dikatakan ibunya setiap hari. Tidak hanya saat mabuk bahkan tanpa aba-aba apapun kata kasar itu dilontarkan ke Aera yang tidak mempunyai kesalahan. Tidak sampai disitu, ibunya mulai memukuli Aera tanpa sebab. Tetap Aera tidak tahu apa yang salah. Yang bisa menemaninya hanya gitar yang dibawanya diam-diam dari rumah ayahnya.

-Han Aera umur 13 tahun-

Aera sekarang sudah terbiasa dengan hal itu. Sambutan kasar tiap malam dan pukulan bertubi-tubi yang berhasil membuat kulitnya membiru. Sampai saat ini Aera belum mengerti mengapa harus dia yang menerima perkataan kasar dan pukulan itu. Aera lebih memilih diam karena ibunya masih menyekolahkannya. Aera mulai masuk Sekolah menengah pertama yang cukup jauh dari rumah yang dikontrakkan ibunya. Beberapa kali dia menghindari ibunya dengan cara pulang larut malam. Bukan bermain dengan temannya. Aera tidak punya teman sama sekali karena dia dibuli. Dia pulang larut malam karena mampir disebuah kafe yang dengan baiknya menyediakan alat-alat musik gratis untuk dimainkan.  Namun, saat kembali kerumah,pukulan keras pasti didapatnya.

Your LightWhere stories live. Discover now