PROLOG

140 11 0
                                        


Bagaimana? Aku hebat bukan? , Aku tetap mencintaimu meski kamu terus menyakiti ku.

Aleta meletakkan note book bersampul flamingo  diatas meja belajar nya setelah menulis beberapa kata hari ini.

Aleta Grizelle. Gadis yang senang menuangkan kesehariannya lewat kata, senang membaca juga penggila hal yang berbau 'Korea'. Tenang, dia tidak se fanatik itu.

Satu kelemahan Aleta, mencintai seseorang yang jelas tidak mencintai nya.

"Aleta, turun. Makan dulu" Julian. Kakak laki-laki Aleta yang selalu punya cara untuk menjaga Aleta kapanpun itu.

"Iya bentar" Aleta memasukkan note book nya ke dalam laci.

Aleta duduk di meja makan, didepannya sudah tersedia makanan juga selalu ada susu rasa karamel kesukaannya.

"Gimana tadi sekolah" tanya Julian

"Baik, Tapi Aleta dibikin pusing terus"

"Apalagi gue, skripsi mulu"

Mereka tertawa, lalu melanjutkan makan malamnya.

Dulu, Aleta seseorang yang pendiam soal perasaan. Tak pernah banyak cerita pada siapapun, namun kedatangan seseorang yang sering Aleta sebut 'Tembok' itu merubah drastis hidup Aleta.

Sekarang Aleta banyak cerita tentang seseorang itu pada Davin---sahabatnya terlebih pada Julian tetapi mereka tak pernah bosan dengan pengaduan Aleta. Menurutnya.

***

Pagi sekali Davin sudah ada di depan kelas menunggu Aleta. Pasalnya, dia jarang sekali mengerjakan tugas di rumah. Davin lebih sering menyalin tugas dari buku Aleta, Biar saja. Aleta juga tidak marah.

"Hai, Tumben Davin dateng pagi" Sapa Aleta yang baru datang

"Aleta, gue dari tadi nunggu lo--" Belum selesai Davin bicara, Aleta sudah menyodorkan buku nya pada Davian.

"Nih, gue gerti kok tenang aja"

"Aleta peka banget sama Davin uh" Davian langsung berlari masuk kedalam kelas.

Saat sedang menutup resleting tas nya, Aleta tak sengaja menabrak tangan seseorang. Aleta mendongak, si cowok tembok itu.

Ansell Edzard, ya. Dia lah sosok yang Aleta sebut 'tembok'. Bagaimana tidak , sikapnya yang cuek juga irit berbicara kadang membuat Aleta geram.

Namun Aneh, mengapa bisa Aleta mencintai nya? Dia juga tidak tahu, Ada sesuatu yang membuat Aleta jatuh cinta kepadanya.

Dikelas, dia selalu diam. Duduk di kursi pojok belakang seakan membuat nya nyaman. Berbeda jauh dengan Davin yang selalu hiperaktif, seperti Aleta.

Yang Aleta sampai saat ini belum tahu, mengapa Ansell sering terlambat dengan mata dan hidung merahnya itu. Aleta tak mengerti.

Aleta harus cari tahu, dia hanya butuh waktu.

***

Pandeglang, 31 Agustus 2019

ILUSI SEMUStories to obsess over. Discover now