Hal-hal di Sekitar Mimi yang Perlu Kamu Ketahui

24 0 0
                                        

Sebenarnya, tak banyak yang memelihara kucing di kompleks perumahan itu. Bu Eliza, yang tinggal di ujung blok GH, misalnya, hanya memelihara seekor. Atau Bu Karno, yang tinggal di rumah dekat taman, juga memelihara seekor. Tapi, jika kamu masuk menelusuri jalan itu, dan berhenti di antara rumah keduanya, kamu dapat menemui rumah Bu Maya; tempat tiga ekor kucing hitam-putih, satu kucing kuning-putih, dan seekor kucing belang tiga menetap dan dipelihara. Juga, walau tidak dipelihara, kamu bisa menemui beberapa kucing lain berkeliaran di sepanjang jalan itu, baik di kala pagi, sore ataupun malam. Misalnya kucing loreng kurus yang biasa malas-malasan di dekat rumah Pak Syarif, kucing loreng kucing yang selalu tertib hadir saat penjual sayur keliling mangkal di dekat taman, atau kucing hitam berpipi tembam dengan wajah tak bersahabat yang kerap tidur di bawah mobil Bu Bambang.

Jarak dari ujung selatan hingga utara perumahan itu memang tidak terlalu panjang. Mungkin, itu pula yang membuat kehidupan menjadi semarak terutama bagi para kucing. Rumah Bu Karno dan Bu Maya hanya dibatasi dua rumah lain, sementara Bu Eliza selisih satu rumah. Sore, saat sebagian penghuni belum kembali dari tempat kerja dan sebagian lain (usia pensiun) ada di rumah—antara bersih-bersih, memasak, atau istirahat—kucing Bu Eliza sering terlihat di jalan. Kadang lalu masuk rumah Bu Maya, entah untuk mencari gara-gara dengan kucing-kucing hitam di sana atau sekedar ikut menekuni sisa-sisa makanan kering di beberapa wadah yang tersedia. Juga kucing Bu Karno, kucing putih-loreng dengan kalung bertuliskan 'Chester' yang gemuk akibat kebiri satu tahun sebelumnya. Persoalannya kemudian menjadi lebih pelik karena ada pula beberapa kucing liar yang biasa terlihat di jam-jam itu; melompat dari pasar di balik tembok kompleks, persis di sebelah rumah Bu Eliza. Yang kebetulan bertemu bisa bertengkar sampai berkejaran, sebagian lain memilih menghindar saat hampir berpapasan dengan kucing jagoan. Atau malah saling menggoda dan akhirnya kawin, saat yang bertemu kebetulan lawan jenis. Entah perkawinan sukarela atau terpaksa.

Bagi kucing-kucing itu, temasuk kucing mungil motif semangka milik Bu Eliza, jalan sepanjang blok GH adalah teritori bebas di mana apa pun bisa terjadi. Para pejantan tentu saling berebut area kekuasaan setiap harinya. Menguasai satu petak wilayah, artinya punya lebih banyak kesempatan untuk dilihat betina. Artinya, punya jauh lebih banyak kesempatan daripada kucing-kucing lain untuk kawin. Chester tak perlu kita hitung dalam perkara ini, karena tentu saja ia sudah tak lagi tertarik pada hal-hal macam begitu. Blateng, salah satu kucing hitam dari rumah Bu Maya, sempat memenangkan pertarungan atas petak dekat halaman rumah hingga taman, sebelum areanya diambil alih hampir seluruhnya oleh jantan tua liar dari pasar di balik tembok. Dan Cemot, kucing kuning yang tinggal satu atap dengan Blateng, selalu gagal mengambil kesempatan karena dia memang terlalu betah diam di rumah saat harusnya berkeliaran untuk memulai pertarungan. Cemot bertambah gembur dari hari ke hari dan semakin tak terlatih untuk berhadapan dengan kucing jantan mana pun.

Di rumah dengan halaman yang cukup luas itu, Cemot memang bukan satu-satunya jantan. Ada Blateng, tentu saja—juga satu kucing lain bernama Pocan. Blateng kucing yang cukup berhasil sebagai lelaki. Tapi, mungkin karena usianya yang lebih matang, juga karena kecerdasan dalam membedakan ancaman atau bukan, kucing hitam-putih dengan pola 'belah tengah' di dahinya itu tak pernah mengusik keberadaan Cemot. Juga tak pernah terganggu. Ia selalu menyingkir saat berpapasan dengan si kuning, dan tahu betul teman satu atapnya itu sejak awal memang tak nyaman dengan keberadaannya. Cemot jelas bukan lawan tanding Blateng. Blateng jauh lebih terlatih, juga berpengalaman. Dan perginya Blateng saat berpapasan dengan Cemot selalu terlihat sebagai gestur mengalah ketimbang yang lain.

Walau wajah dan aura mereka tak mirip, Pocan saudara kandung Blateng. Entah siapa yang lahir lebih dulu. Tapi, sama seperti Blateng, Pocan punya pola di dahinya—sesuatu yang membuatnya begitu mudah dikenali di antara kucing-kucing hitam lain sepanjang blok GH—membentuk poni yang melintang beberapa senti di atas matanya. Poni itu, seberapa pun kerasnya ia mencoba mengintimindasi lawan tanding, selalu membuat Pocan terlihat konyol. Ditambah matanya yang besar, juga rahang dan hidung yang agak mengecurut. Tiap ia mendesis, seringainya sama sekali tidak berwibawa. Dan akhirnya, siapa pun jantan yang berhadapan dengannya, lebih sering menganggapnya sebagai lelucon belaka. Padahal, mungkin saja Pocan membawa ancaman serius. Sialnya, Pocan memang tak pandai berkelahi. Ini lebih ke perkara mentalitas. Sekali tapuk, biasanya, tubuh Pocan sudah gemetar. Konsentrasinya seketika buyar. Dan segera, ia lari tunggang langgang masuk ke rumah. Berpapasan dengan Cemot, sedikit menggertak, yang sebenarnya sia-sia saja, lalu lari sampai halaman belakang dan hilang di balik gazebo.

Blateng dan Pocan tak lahir hanya berdua. Mereka juga berbagi rahim dengan seekor kucing lain, betina, yang anggun luar biasa, bernama Mimi.

Sejak lahir dan pertama kali terlihat di kardus besar itu, Bu Maya dan beberapa orang lain yang tinggal di rumah itu sudah menyadari; hanya tinggal menunggu waktu bagi Mimi untuk tumbuh dewasa dan menjadi primadona. Karena, secara fisik, dia memang begitu mudah disukai. Kalau Pocan punya poni lurus, dan Blateng membelah tepat di tengah wajah, garis antara hitam dan putih di wajah Mimi ada persis di mulut. Mulut bagian atas hitam, sampai kepala, punggung, sisi kanan dan kiri perut hingga buntut, sedang dagu hingga perut bagian bawah berwarna putih. Matanya yang membelalak terlihat cantik di antara bulu hitam dan dua telinganya yang besar. Keempat ujung kakinya putih; seperti manusia yang memakai kaus kaki di antara seluruh tubuh bagian atas yang hitam legam. Posturnya mungil. Tubuhnya kencang, terasa pejal saat digendong. Dan yang paling disuka, terutama oleh keluarga Bu Maya, adalah ekornya yang tidak panjang—membuatnya terlihat simetris dari ujung kepala.

Saat Mimi ada di rumah, biasanya selepas petang, tak ada yang tidak menyambutnya. Bu Maya, segera berupaya menggendong saat sosok mungil bermata besar itu terlihat masuk dari pintu belakang. Seringnya Mimi lolos. Kedua anak Bu Maya, Ario dan Lia, minimal segera memanggilnya pada momen-momen serupa. Tapi Mimi tak banyak bersuara, juga tak banyak menanggapi panggilan. Melengos ke mana pun dia suka, seperti tak tergantung sama sekali pada afeksi orang-orang rumah. Justru orang yang kebetulan melihatnya di rumahlah yang memanggil-manggil, menuangkan makanan kering di tempatnya, seolah lebih butuh keberadaan kucing itu ketimbang sebaliknya.

Cemot sejak lama diam-diam jatuh hati pada Mimi. Tapi apa daya, Mimi tak mau. Sekali waktu betina itu jengah, mungkin suasana hatinya juga sedang kurang bagus, lalu si kucing mendapat satu pukulan telak di pipi; membuatnya tak berani lagi nekat terlalu dekat dengannya. Pocan, yang padahal saudara kandung, sama terpesonanya. Dan menghindari Pocan yang sering kurang fokus dalam pengejarannya bukan perkara sulit, sama sekali. Mimi selalu tak habis pikir dengan pejantan-pejantan ini, yang lebih sering di rumah ketimbang pergi memperebutkan wilayah di luaran, dan memilih segera enyah setelah perutnya cukup terisi.

Tapi dua kucing yang mangkrak di papan bawah konstelasi para pejantan sepanjang blok GH itu seharusnya tahu diri saat berhadapan dengan Mimi, apalagi sampai membuatnya kesal dan memancing keributan. Terlepas dari penampilannya yang mungil dan pendiam, Mimi tak pernah kalah saat berpapasan dan bertengkar dengan kucing mana pun. Dia bahkan sudah menang, bahkan sebelum detik pertama pertarungan fisik dimulai. Lagi-lagi ini perkara mentalitas. Betina itu tak pernah gentar. Dan ekor yang pendek membuat perasaannya tak mudah ditebak oleh kucing-kucing lain, termasuk para lawan. Cemot yang berekor panjang, misalnya, akan begitu kentara saat terintimindasi. Ekor kuningnya akan rapat pada sisi perut saat tubuh dan kaki-kakinya kincup. Mimi jelas tidak. Secara fisiologis tidak memungkinkan juga. Ekor itu, dengan bulu-bulunya yang tegak berdiri, hanya menjadi tanda bahaya bagi para musuh saat Mimi bersiap menyerang—membuat ujung belakang tubuhnya itu seperti kemoceng kecil yang bagi penglihatan manusia begitu menggemaskan. Itu cukup membuat mental kucing-kucing di hadapannya goyah sebelum lari terbirit-birit oleh Mimi.

Dengan tubuh yang pejal dan postur yang mungil, Mimi mengembangkan gaya bertarung yang efisien. Gerakannya gesit. Dan serangan-serangannya hampir selalu cepat. Bahkan pada beberapa kesempatan, sangat cepat. Dalam hitungan detik, tak pakai basa-basi seperti umumnya pejantan saat bertarung, Mimi sudah bisa membuat lawannya lari satu per satu. Bahkan kucing paling jagoan di blok perumahan itu sekalipun. Kucing betina, ia tak pernah suka. Mereka adalah pesaing yang harus disingkirkan; segera takluk sejak mula berpapasan dengan Mimi. Kucing jantan, apa lagi. Tambah-tambah ia tidak suka. Menggangu betul. Para pejantan, yang sebagian menghampirinya justru karena naksir, tak pernah dibuat berkutik. Sebesar apa pun badannya, orang-orang yang kebetulan ada di sekitar selalu melihat jantan-jantan itu lari kencang setelah berurusan dengan Mimi. Dan Mimi lebih sering mengejarnya, cepat sekali, hingga loncat ke luar tembok kompleks jika perlu, dengan kecepatan dan tenaga yang tak pernah kendur.

Mimi perlahan tumbuh sebagai kucing paling kuat di blok GH. Bahkan, mungkin juga di seluruh wilayah kompleks. Fakta itu mau tidak mau harus diakui oleh para kucing yang setiap sore berkeliaran di sana. Dan posisi superior itu diperolehnya tanpa harus capek-capek ikut berebut teritori kekuasan. Tak berkepentingan kencing di tempat-tempat baru, misalnya, untuk menandai wilayah dengan aroma urine. Juga tak tertarik tebar pesona di wilayah kekuasaan selayaknya pejantan. Teritorinya sesederhana permukaan atas lemari di pojok ruang keluarga, tempat biasanya ia tidur di malam hari. Atau pojok-pojok tersembunyi di beberapa titik lantai dua rumah, saat ia beristirahat sewaktu siang. Dan hidupnya sudah lebih dari cukup. Makan, tidur, bangun untuk membersihkan bulu-bulu di tubuhnya, lalu beranjak ke tempat-tempat acak yang kadang dia sendiri pun tak familier.

MimiWhere stories live. Discover now