Sudah sejak lama Fay berteman baik dengan Ned dan Kai.
Dan, berteman dengan dua cowok itu bukanlah perkara mudah.
Fay harus terbiasa menghadapi situasi di mana dua cowok itu dikerubungi oleh cewek-cewek keganjenan yang super-lebay.
Keadaan menjadi...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
🍂🍂🍂
"Ga-na-yak-sa! Ga-na-yak-sa!"
Sorak-sorai pendukung tim futsal SMA Ganayaksa memenuhi seisi lapangan futsal sore ini. Tak mau kalah, pendukung tim lawan juga memberikan yel-yel penyemangat kepada tim mereka. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kedua pendukung seolah bersaing untuk membuktikan siapa yang paling semangat mendukung tim mereka. Satu kata: pecah!
Apa kalian pernah menonton derbi El Classico? Yah, kurang lebih seperti itulah atmosfer pertandingan kali ini. Padahal ini baru babak 32 besar, tetapi suasananya sudah seperti partai final.
Kalau bukan karena sedang melaksanakan tugas, aku pasti sudah ikut-ikutan berteriak heboh bersama pendukung tim Ganayaksa lainnya-kalau perlu sambil membawa terompet angin atau pengeras suara sekalian. Ish, kenapa juga sih aku harus mendapat tugas meliput pertandingan kali ini? Aku kan jadi tidak bisa menikmati pertandingan dengan leluasa.
Teriakan heboh pendukung tim Ganayaksa membuat fokusku teralihkan ke lapangan. Salah seorang pemain Ganayaksa sedang menggiring bola menuju gawang, sementara dua orang pemain lawan berusaha menghentikan pergerakannya.
"Yak, yak, sedikit lagi, gocek terus, yak, oke, ah, ish. Yah, padahal tinggal dikit lagi. Sayang banget."
"Tugas kamu di sini bukan untuk jadi komentator dadakan." Hara menyenggolku sambil memberikan tatapan laser andalannya. "Itu kamera bukan untuk dianggurin doang, Fay. Pastikan kamu mengambil banyak gambar yang bagus dan berkualitas. Kamu tahu apa risikonya kalau kamu mengacaukan liputan kali ini." Cewek berkacamata itu menunjuk kamera yang melingkar di leherku.
"Iya, iya. Dasar bawel." Aku menjulurkan lidah ke arah Hara, yang dibalas cewek itu dengan tatapan tidak pedulinya.
Sebelum Hara mengomeliku lagi-yang otomatis membuat kadar senewenku meningkat-aku kembali fokus memotret anak-anak yang sedang bertanding. Sesekali, aku juga memotret para penonton-terutama yang bertingkah atau berdandan heboh.
Pendukung tim Ganayaksa kembali berteriak heboh ketika salah seorang pemain Ganayaksa berhasil mencuri bola dari lawan. Lalu....
"GOL!! YIIHAA!! ASSA!! ITU DIA! ITU DIA! GILA! GILA! GILA!" Aku tidak bisa menahan luapan kegembiraanku begitu tim Ganayaksa mencetak gol lagi. Kegembiraanku semakin berlipat karena yang barusan mencetak gol adalah Kai.
Tak mau kehilangan momen emas ini, aku menekan tombol shutter berulang kali ke arah cowok itu-yang kini sedang melakukan selebrasi bersama teman-teman setimnya. Senyumku mengembang sempurna begitu melihat hasil jepretan kameraku.
Aku berniat kembali mengambil gambar pemain Ganayaksa. Namun, kameraku justru berakhir menggantung di udara karena tatapanku sepenuhnya tertuju ke....
"Kedip bisa kali, Fay. Segitunya lihatin tuh cowok." Mimi menyenggol lenganku, membuatku tersadar dari lamunan.
Melihat Mimi mesem-mesem tidak jelas kepadaku, aku tahu jika tindakanku tadi adalah sebuah blunder fatal. Setelah ini, cewek itu pasti akan menggodaku habis-habisan.